Ligaolahraga.com -
Jeremy Lin, lulusan Harvard yang menjadi sensasi internasional selama penampilannya yang tak terlupakan dengan "Linsanity" bersama New York Knicks, mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia bola basket profesional.
Guard berusia 37 tahun ini membagikan berita tersebut pada Sabtu malam melalui sebuah unggahan di Instagram yang emosional, menutup babak baru dalam karir bermainnya selama 15 tahun di NBA, liga-liga luar negeri dan G League.
"Sebagai atlet, kita selalu sadar bahwa kemungkinan pensiun tidak pernah jauh," tulis Lin. "Saya telah menghabiskan 15 tahun karier saya dengan mengetahui bahwa suatu hari nanti saya harus pergi, namun mengucapkan selamat tinggal pada bola basket hari ini adalah keputusan tersulit yang pernah saya buat. Merupakan kehormatan seumur hidup untuk berkompetisi melawan para pesaing terkuat di bawah sorotan lampu paling terang dan menantang apa yang dunia pikirkan tentang apa yang mungkin dilakukan oleh seseorang yang berpenampilan seperti saya. Saya telah mewujudkan mimpi masa kecil saya yang paling liar untuk bermain di depan para penggemar di seluruh dunia. Saya akan selamanya menjadi anak yang merasa hidup sepenuhnya setiap kali menyentuh bola basket."
Jalan Jeremy Lin menuju NBA sama sekali tidak tradisional. Setelah empat musim yang luar biasa di Harvard, ia tidak terpilih pada tahun 2010 namun berhasil mendapatkan tempat di tim Golden State Warriors.
Bermain sedikit sebagai pemain baru dan menghabiskan waktu di Liga D, karir Lin tampak tidak menentu. Dia dibuang oleh Golden State dan Houston sebelum musim 2011-12, hanya untuk diambil oleh Knicks pada Desember 2011.
Kepindahan itu mengubah sejarah bola basket.
Pada Februari 2012, Lin melejit ke panggung nasional, merangkai 11 pertandingan yang menggetarkan di mana ia rata-rata mencetak hampir 24 poin dan sembilan assist, membimbing Knicks meraih kemenangan yang tak terduga dan menarik perhatian dunia.
Fenomena ini dijuluki "Linsanity", mengubah pemain guard keturunan Taiwan-Amerika ini menjadi ikon budaya dan membuktikan bahwa orang Asia-Amerika dapat berkembang di level tertinggi bola basket.
Meskipun masa baktinya di Knicks hanya sebentar, dampak Lin tak terhapuskan. Dia menandatangani kontrak dengan Houston Rockets pada musim panas berikutnya, menjadi point guard utama selama dua musim.
Selama beberapa tahun berikutnya, dia memainkan peran kunci dengan Lakers, Hornets, Nets, dan Hawks. Pada 2019, ia mencapai tujuan utama tim, memenangkan kejuaraan NBA sebagai anggota Toronto Raptors.
Secara total, Jeremy Lin tampil dalam 480 pertandingan musim reguler NBA dari 2010-19, dengan rata-rata 11,6 poin, 4,3 assist, 2,8 rebound, dan 1,1 steal per pertandingan.
Dia membukukan persentase tembakan yang soli, yakni .433 dari lapangan, .342 dari garis tiga angka, dan .809 dari garis lemparan bebas.
Setelah bermain di NBA, Lin melanjutkan bermain di Asosiasi Bola Basket Cina dan liga profesional Taiwan, sementara juga sempat mencoba kembali pada tahun 2021 dengan Santa Cruz Warriors dari G League.
Meskipun pensiunnya menandai berakhirnya sebuah era, kisah Jeremy Lin jauh melampaui angka.
Dia menginspirasi jutaan orang dengan mendobrak batasan ras dan representasi dalam bola basket, memberikan penggemar di seluruh dunia momen yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Bagi Jeremy Lin, "Linsanity" lebih dari sekadar torehan, melainkan sebuah warisan.
Artikel Tag: Jeremy Lin
Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/basket/jeremy-lin-umumkan-pensiun-setelah-meniti-karier-yang-cemerlang