7 Beda Gejala Super Flu, COVID-19, dan Flu Biasa, Mana yang Paling Berbahaya?

5 days ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Beda gejala super flu vs COVID-19 vs flu biasa penting dipahami masyarakat agar tidak terjadi kesalahan dalam penanganan mandiri di rumah. Melansir dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemkes, identifikasi dini terhadap jenis virus yang menyerang sistem pernapasan dapat mempercepat proses pemulihan dan mencegah komplikasi berat.

Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) telah mengonfirmasi setidaknya 62 kasus varian ini di 8 provinsi di Indonesia hingga awal Januari 2026.

Memahami perbedaan durasi masa inkubasi dan intensitas demam merupakan langkah awal paling efektif dalam melakukan skrining mandiri. Melansir dari World Health Organization (WHO), ketepatan dalam mengenali tanda-tanda awal penyakit dapat membantu tenaga medis dalam menentukan protokol pengobatan yang paling sesuai.

Berikut Liputan6.com ulas lengkap perbedaan gejala super flu vs COVID-19 vs flu biasa, Senin (12/1/2026).

1. Demam

Gejala super flu biasanya ditandai dengan serangan demam tinggi secara mendadak yang mencapai suhu di atas 39 derajat Celcius dalam hitungan jam. Melansir dari Kementerian Kesehatan RI, kondisi ini membuat tubuh terasa sangat lemah dalam waktu yang sangat singkat.

Pada kasus COVID-19, demam cenderung muncul secara bertahap dan sering kali disertai dengan sensasi menggigil yang hilang timbul. Melansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kenaikan suhu tubuh pada penderita virus korona bersifat fluktuatif selama masa inkubasi.

Sementara itu, flu biasa jarang sekali memicu demam tinggi dan umumnya hanya menyebabkan rasa tidak enak badan yang ringan. Melansir dari National Institutes of Health (NIH), suhu tubuh pada flu ringan biasanya tetap berada di bawah ambang batas demam klinis.

2. Kemunculan Gejala

Kecepatan kemunculan gejala pada super flu sering digambarkan seperti kelelahan luar biasa yang datang secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda awal. Melansir dari Mayo Clinic, infeksi ini menyerang sistem imun secara masif sehingga penderita langsung kehilangan produktivitas.

Sebaliknya, gejala COVID-19 berkembang lebih lambat dalam kurun waktu 2 hingga 14 hari setelah terpapar virus. Melansir dari Gavi, the Vaccine Alliance, pola perkembangan yang bertahap ini menjadi ciri khas dari mutasi virus SARS-CoV-2.

Adapun flu biasa memiliki pola onset yang sangat lambat dan gejalanya biasanya mereda dalam waktu kurang dari satu minggu. Melansir dari National Health Service (NHS), serangan virus ringan ini tidak menyebabkan penurunan kondisi fisik yang drastis.

3. Batuk

Kondisi batuk kering yang sangat persisten dan terasa menyakitkan di area dada merupakan salah satu indikator utama dari gejala super flu. Melansir dari Cleveland Clinic, batuk ini bersifat non-produktif namun memiliki intensitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan influenza musiman.

Di sisi lain, COVID-19 sering kali menyebabkan batuk yang disertai dengan sesak napas atau kesulitan dalam menghirup udara secara maksimal. Melansir dari Johns Hopkins Medicine, gangguan pada saluran napas bawah ini memerlukan pemantauan ketat terhadap saturasi oksigen.

Pada penderita flu biasa, batuk yang muncul biasanya bersifat ringan dan sering kali dibarengi dengan hidung tersumbat atau bersin-bersin. Melansir dari Healthdirect Australia, keluhan utama pada flu ringan berpusat di area hidung dan tenggorokan saja.

4. Anosmia

Gangguan pada indra penciuman (anosmia) atau indra perasa (ageusia) masih ditemukan pada penderita COVID-19 meski frekuensinya dinilai menurun pada varian 2026. Melansir dari Yale Medicine, ciri sensorik ini sangat jarang ditemukan pada jenis influenza lainnya kecuali jika terjadi penyumbatan hidung total.

Pada super flu, fungsi penciuman biasanya tetap normal meskipun hidung terasa sangat panas akibat peradangan. Melansir dari European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC), fokus infeksi virus ini lebih pada kerusakan mukosa tenggorokan yang hebat.

Sementara itu, flu biasa hanya menyebabkan gangguan penciuman sementara akibat produksi lendir yang berlebih di rongga hidung. Melansir dari WebMD, kemampuan membaui akan kembali normal segera setelah sumbatan hidung dibersihkan.

5. Nyeri

Munculnya rasa nyeri otot dan sendi yang sangat ekstrem di seluruh bagian tubuh merupakan ciri paling menonjol dari gejala super flu. Melansir dari Medical News Today, rasa sakit ini sering kali membuat penderita sulit untuk sekadar bergerak atau bangun dari tempat tidur.

Pada infeksi COVID-19, nyeri tubuh atau mialgia biasanya terasa lebih ringan dan sering kali terpusat pada area punggung atau anggota gerak tertentu. Melansir dari Nature, pegal-pegal ini sering dikaitkan dengan respon sistem imun terhadap protein lonjakan virus.

Flu biasa hanya menyebabkan rasa pegal yang minimal dan biasanya tidak mengganggu aktivitas fisik penderita secara signifikan. Melansir dari Harvard Health Publishing, istirahat yang cukup biasanya sudah mampu meredakan ketidaknyamanan otot akibat flu ringan.

6. Sakit Kepala

Sakit kepala yang terasa berdenyut sangat hebat dan menetap dalam waktu lama sering kali menyertai penderita COVID-19 sebagai bagian dari gejala sistemik. Melansir dari University of Utah Health, tekanan ini bisa bertahan bahkan setelah tes swab menunjukkan hasil negatif.

Namun, pada super flu, sakit kepala muncul serempak dengan demam tinggi dan mereda seiring dengan turunnya suhu tubuh. Melansir dari St. Jude Children's Research Hospital, manajemen hidrasi sangat krusial untuk mengurangi tekanan di kepala akibat infeksi influenza berat.

Bagi penderita flu biasa, sakit kepala hanya muncul sesekali dan umumnya dipicu oleh tekanan pada sinus yang meradang. Melansir dari MedlinePlus, penggunaan kompres hangat biasanya efektif untuk meredakan nyeri kepala ringan tersebut.

7. Kelelahan

Kelelahan yang bertahan hingga berminggu-minggu setelah sembuh dari fase akut sering dilaporkan sebagai gejala super flu. Melansir dari UNICEF, masa pemulihan stamina dari influenza berat memerlukan asupan nutrisi yang lebih intensif.

Fenomena serupa ditemukan pada COVID-19 dalam bentuk Long COVID, di mana penderita merasakan kabut otak atau brain fog yang berkepanjangan. Melansir dari Lancet Infectious Diseases, komplikasi jangka panjang ini memerlukan penanganan rehabilitasi medis secara bertahap.

Sebaliknya, penderita flu biasa umumnya langsung kembali bugar dan tidak merasakan dampak sisa setelah gejala hidung meler menghilang. Melansir dari FamilyDoctor.org, sistem imun dapat pulih sepenuhnya dalam hitungan hari pasca infeksi virus rhinovirus.

FAQ

Apa perbedaan utama gejala super flu dibandingkan flu biasa?

Super flu memicu demam sangat tinggi (di atas 39°C) secara mendadak, sedangkan flu biasa hanya menyebabkan hidung meler tanpa demam berat.

Bagaimana cara membedakan gejala COVID-19 dengan influenza?

COVID-19 sering disertai sesak napas dan anosmia, sementara influenza lebih menonjolkan nyeri otot yang sangat hebat.

Apakah gejala super flu bisa menyebabkan kematian?

Jika tidak ditangani dengan baik, komplikasi seperti pneumonia pada super flu dapat berisiko bagi kelompok rentan.

Berapa lama masa inkubasi COVID-19 di tahun 2026?

Masa inkubasi umumnya berkisar antara 2 hingga 14 hari, namun rata-rata gejala muncul pada hari ke-5.

Apakah flu biasa memerlukan obat antibiotik?

Tidak, flu biasa disebabkan oleh virus sehingga tidak dapat disembuhkan dengan antibiotik yang diperuntukkan bagi bakteri.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |