Ahli: Risiko Diabetes Anak Bisa Naik 6 Kali Lipat Jika Kedua Orang Tua Mengidap Penyakit yang Sama

2 weeks ago 15

Liputan6.com, Jakarta - Risiko diabetes pada anak tidak hanya dipengaruhi pola hidup, tapi juga faktor genetik yang sering kali tidak disadari orang tua. Para ahli menegaskan bahwa anak yang memiliki salah satu orang tua penderita diabetes berisiko hingga tiga kali lebih besar mengalami penyakit serupa.

Bahkan, Ketua Bidang Organisasi Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI), dr. Dicky Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, menyebut, angkanya bisa melonjak enam kali lipat jika kedua orang tuanya mengidap diabetes. Dengan kata lain, faktor keturunan tetap memegang peran kuat.

"Diabetes genetik itu salah satu orang tuanya diabetes, risiko anaknya diabetes menjadi tiga kali lipat lebih tinggi. Jika kedua orang tuanya memiliki riwayat, maka risikonya enam kali lebih tinggi, tetapi ini tidak harus menyilang," ujarnya dalam acara Diskusi Media Hari Diabetes Sedunia bertema 'Obesitas Teratasi, Diabetes Terkendali' pada Kamis, 13 November 2025.

Pada diabetes tipe 1, sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel pankreas yang memproduksi insulin. Akibatnya, kadar gula darah meningkat tajam dan pasien harus menjalani terapi insulin seumur hidup.

Kondisi ini biasanya muncul pada usia anak hingga remaja. Oleh sebab itu, orang tua perlu waspada terhadap tanda seperti sering haus, buang air kecil berlebihan, mudah lelah, hingga penurunan berat badan tanpa sebab.

Diabetes Bukan Lagi Penyakit Orang Tua

Peringatan Hari Diabetes Sedunia 2025 menjadi momentum penting untuk menyoroti fakta bahwa diabetes kini tidak lagi identik dengan orang dewasa. Diabetes tipe 2 yang dulu dianggap penyakit orang tua, kini banyak ditemukan pada generasi Z dan Alpha. Pola makan tinggi gula, lemak, dan garam, ditambah gaya hidup minim aktivitas fisik, menjadi pemicunya.

Clinical, Medical, dan Regulator Director Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanni Meisha Tarliman, mengatakan,"Diabetes tipe 2 biasanya didorong oleh gaya hidup sedentary. Kurang bergerak dan pola makan menjadi penyebab utama, apalagi sekarang semua serba mudah seperti membeli makanan online."

Beban diabetes di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan IDF Atlas edisi ke-11, ada 20,4 juta orang Indonesia hidup dengan diabetes, dan angka tersebut diprediksi naik hingga 28,6 juta pada 2050.

Indonesia bahkan kini menempati posisi kelima negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia. Lonjakan terbesar terjadi pada remaja dan dewasa muda, mencerminkan perubahan gaya hidup yang drastis menuju makanan cepat saji dan kebiasaan duduk berjam-jam.

Prevalensi Obesitas pada Penduduk Dewasa di Indonesia

Masalah obesitas yang menjadi pemicu utama diabetes juga menunjukkan tren mengkhawatirkan. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi obesitas pada penduduk dewasa naik dari 21,8 persen (2018) menjadi 23,4 persen (2023). Obesitas sentral bahkan mencapai 36,8 persen pada usia di atas 15. Artinya satu dari tiga remaja sudah mengalami penumpukan lemak di perut.

Selain mengancam kesehatan, obesitas juga menimbulkan kerugian ekonomi besar. "Perlu perhatian banget, bukan hanya masalah kesehatan, secara ekonomi juga terdampak kerugiannya sampai tercatat segitu," ujar Ketua Tim Kerja Metabolik dan Surveilans PKG Kemenkes, dr. Muchtar Nasir, M.Epid, usai menanggapi hasil penelitian IPB yang menunjukkan kerugian mencapai Rp78,478 miliar per tahun akibat menurunnya produktivitas dan tingginya biaya kesehatan.

Meski faktor genetik tidak bisa diubah, para ahli sepakat bahwa deteksi dini dan gaya hidup sehat tetap menjadi kunci. Aktivitas fisik rutin, pola makan seimbang, serta pemantauan kesehatan berkala sangat penting untuk menekan risiko diabetes, terutama pada generasi muda yang kini menjadi kelompok paling rentan.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |