Apa Penyebab Hidung Tersumbat dan Susah Bernapas? Ini Penjelasan Dokternya!

2 weeks ago 30

Liputan6.com, Jakarta - Hidung tersumbat atau hidung mampet sering dianggap sepele. Padahal, kondisi yang membuat seseorang sulit bernapas ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari hingga waktu istirahat.

Melansir EMC Healthcare pada Senin, 10 November 2025, hidung tersumbat umumnya disebabkan oleh peradangan atau iritasi di saluran hidung. Saat peradangan terjadi, tubuh memproduksi lendir berlebih sebagai mekanisme pertahanan terhadap benda asing seperti debu, asap, atau alergen.

Beberapa kondisi seperti flu, pilek, alergi, dan sinusitis menjadi penyebab paling umum peradangan pada hidung. Akibatnya, saluran napas tersumbat dan udara sulit mengalir dengan lancar.

Namun, lendir berlebih bukan satu-satunya penyebab hidung mampet. Tumbuhnya polip hidung dan pembengkakan konka juga bisa membuat seseorang kesulitan bernapas.

Polip hidung adalah jaringan lunak yang tumbuh di dalam rongga hidung. Pada awalnya tidak menimbulkan gejala, tetapi jika ukurannya membesar, dapat menyebabkan sensasi hidung tersumbat dan gangguan pernapasan.

Polip Hidung

Sementara itu, konka hidung merupakan selaput lendir yang melapisi dinding dalam hidung dan mengelilingi tulang-tulang halus. Ketika konka mengalami peradangan, jaringan ini bisa membengkak dan mempersempit saluran udara, membuat seseorang sulit bernapas lega.

Meski terlihat sepele, hidung tersumbat yang terjadi terus-menerus sebaiknya tidak diabaikan. Jika disertai gejala seperti nyeri wajah, gangguan tidur, atau kehilangan penciuman, sebaiknya segera periksa ke dokter THT untuk mengetahui penyebab pastinya dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Mengutip dari Mayo Clinic, polip hidung dapat terjadi pada siapa saja. Akan tetapi, kondisi ini umumnya terjadi pada orang dewasa hingga paruh baya. 

Polip hidung dapat dikecilkan dengan mengonsumsi obat-obatan, meskipun setelah pengobatan polip berpotensi muncul kembali. Jika ukuran polip terlalu besar, maka operasi diperlukan untuk menghilangkannya. 

Kondisi yang seringkali dikenal sebagai sinusitis kronis ini berlangsung selama lebih dari 12 minggu. Biasanya, ketika terjadi peradangan polip dapat muncul lebih dari satu.

Gejala polip hidung yang umumnya terjadi adalah:

  • Hidung berair dan tersumbat
  • Lendir yang mengalir ke tenggorokan
  • Kehilangan indra pencium dan perasa
  • Nyeri pada wajah atau sakit kepala
  • Nyeri pada gusi
  • Sensasi seperti dahi dan wajah yang ditekan
  • Mendengkur saat tidur

Pembengkakan Konka Hidung

Kondisi ini sering dikenal juga dengan sebutan hipertrofi turbinat. Konka berfungsi sebagai saluran yang menjaga kehangatan dan kelembapan udara di dalam hidung.

Mengutip dari Healthline, setiap orang memiliki jumlah konka yang berbeda, ada yang hanya memiliki tiga dan ada yang memiliki empat konka. Pada umumnya, konka terbagi menjadi superior (saluran atas), medius (saluran tengah), dan inferior (saluran bawah dekat lubang hidung).

Pembengkakan lebih sering terjadi pada konka bagian inferior dan medius. Gejala yang sering terjadi pada penderita hipertrofi turbinat yaitu:

  • Indra penciuman yang berubah-ubah
  • Mulut kering akibat bernapas dengan mulut saat tidur
  • Sensasi tekanan pada dahi
  • Hidung tersumbat dan berair pada waktu yang lama
  • Tidur mendengkur

Menghilangkan Polip dan Mengurangi Pembengkakan Konka

Pada dasarnya, kedua kondisi tersebut menyebabkan gejala yang sama. Sehingga cara menanganinya pun tidak jauh berbeda.

Berikut adalah beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengatasi hidung tersumbat akibat polip dan konka yang bengkak.

1. Mengonsumsi Antihistamin

Obat antihistamin merupakan obat yang dapat mengurangi reaksi akibat alergi. Dengan demikian, obat ini dapat meredakan hidung tersumbat, pilek, dan bersin. Akan tetapi, obat ini juga dapat menimbulkan efek samping seperti rasa kantuk dan mulut kering.

2. Menggunakan Semprotan Larutan Saline atau Dekongestan

Larutan saline adalah air steril yang terbuat dari campuran garam dan air. Semprotan ini dapat membantu menjaga kelembapan hidung dan mengurangi lendir yang menumpuk.

Untuk mengurangi pembengkakan, semprotan dekongestan seperti oksimetazolin dapat digunakan karena tersedia bebas. Meski begitu, petunjuk penggunaan dan efek samping harus tetap diperhatikan.

3. Melakukan Radiofrekuensi (RF)

Untuk memperkecil ukuran konka secara permanen, seseorang dapat melakukan prosedur bedah endoskopi. Dalam hal ini, prosedur akan menggunakan perangkat Radiofrekuensi (RF) sebagai bagian dari terapi.

Prosedur ini merupakan alternatif. Selain tidak memerlukan sayatan dan minim pendarahan, terapi menggunakan alat RF ini juga mengurangi ketergantungan seseorang terhadap obat oral jangka panjang.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |