Cara Chef Junichi Sajikan Kuliner Jepang Halal yang Enak Tanpa Kehilangan Nutrisi

2 weeks ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Mencari kuliner Jepang yang halal kerap menjadi tantangan bagi wisatawan muslim. Meski Jepang dikenal sebagai surga kuliner, tidak semua menu memenuhi standar halal, terutama olahan daging seperti wagyu. Melihat kondisi itu, Executive Chef Honke Tankuma, Junichi Kurisu, berinisiatif menghadirkan makanan Jepang yang halal tanpa mengorbankan rasa dan nilai gizi.

Junichi menjelaskan bahwa proses modifikasi bahan bukan berarti mengubah kualitas makanan. Justru, dia memastikan setiap hidangan tetap autentik. "Awalnya daging tersebut tidak halal lalu berubah menjadi halal. Kemudian diolah menjadi hidangan yang juga halal, tapi nilai gizinya sama sekali tidak berubah," ujar Junichi dalam acara Authentic Cultural Dining 'Japanese Food Meets Halal' di Hutan Kota by Plataran, Senayan, Jakarta pada Kamis, 13 November 2025.

Salah satu menu yang dibanggakannya adalah Yakimono, olahan daging panggang dengan wagyu Jepang bersertifikat halal. Menurutnya, wagyu memiliki minyak alami yang aman bagi tubuh. "Minyak-minyak tersebut sangat bagus. Jadi, tidak menyebabkan masalah pada kesehatan," ujarnya.

Sashimi Halal tapi Ternyata Tak Sesederhana Itu

Sashimi sering dianggap sebagai pilihan aman bagi muslim karena berbahan dasar ikan. Namun faktanya, bumbu pendamping seperti shoyu dan miso bisa mengandung alkohol. Inilah yang membuat hidangan populer ini tidak otomatis halal.

"Makanan Jepang kebanyakan seafood, itu tidak menjadi masalah. Tapi bumbu seperti miso atau shoyu kebanyakan mengandung alkohol. Maka, hari ini kami menggunakan bumbu yang halal," ujar Junichi.

Selain bahan, teknik pemotongan juga menjadi hal penting. Junichi menekankan bahwa kualitas sashimi bergantung pada cara memotong ikan. Semakin cepat dan tepat tekniknya, semakin baik tekstur dan nutrisinya.

"Sashimi adalah hidangan paling sulit di Jepang," kata Junichi.

Berawal dari Rasa Prihatin kepada Wisatawan Muslim

Keinginan Junichi untuk menyajikan kuliner Jepang yang halal berawal dari pengalaman di Kyoto. Dia sering melihat wisatawan muslim kesulitan menemukan tempat makan halal, padahal kota tersebut adalah salah satu pusat kuliner terbaik di Jepang. Situasi itu membuatnya tergerak.

"Mulai dari situ, sejak 15 tahun yang lalu saya mau membuat makanan Jepang yang memenuhi standar halal," ujarnya.

Sejak itu, dia terus berupaya menghadirkan hidangan yang aman, lezat, dan tetap bernutrisi. Meski beberapa penyesuaian harus dilakukan, terutama pada bumbu dan proses pengolahan, dia memastikan esensi kuliner Jepang tidak hilang.

"Tentu modifikasi membuat perubahan pada makanan Jepang. Tapi untuk nutrisi, tidak berubah," pungkasnya.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |