Cegah Campak, Kemenkes Imunisasi Tambahan untuk 1.211 Anak di Pidie Jaya Aceh

5 days ago 13

Liputan6.com, Pidie Jaya - Guna mencegah anak-anak tertular campak di tengah pengungsian, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan pemberian imunisasi tambahan di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Hingga 8 Januari 2026, imunisasi tambahan campak telah dilaksanakan di dua puskesmas, yaitu Puskesmas Meurah Dua dan Puskesmas Meureudu, dengan total sasaran 1.211 anak.

Sebanyak 42 anak (3,5 persen) telah mendapatkan imunisasi tambahan campak, dengan capaian kumulatif Outbreak Response Immunization (ORI) di Kabupaten Pidie Jaya sejak pencanangan mencapai 489 anak (11,6 persen).

Dalam pelaksanaannya, tim mencatat sejumlah kendala, antara lain cuaca hujan yang memengaruhi kehadiran sasaran, kondisi akses jalan yang berlumpur, serta adanya penolakan anak karena takut disuntik atau belum mendapat izin orang tua.

Kementerian Kesehatan RI melalui Pusat Krisis Kesehatan akan terus mendampingi pemerintah daerah dan memastikan pelayanan kesehatan masyarakat pascabencana tetap optimal, baik melalui pelayanan medis, kegawatdaruratan, maupun upaya pencegahan penyakit melalui imunisasi.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa penyakit menular yang paling ditakuti di tengah para pengungsi bencana Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara adalah campak.

“Nah penyakit menular yang kita amati dengan sangat ketat itu yang paling kita takut (itu) campak. Karena campak itu penularannya dari satu orang bisa menular ke beberapa (orang lainnya),” kata Budi dalam temu media di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta Timur pada Rabu (7/1/2026).

ISPA Banyak Dikeluhkan Pengungsi

Guna mencegah penularan campak, pihak Budi telah menggelar program imunisasi khusus bagi anak-anak penyintas bencana yang berisiko tinggi.

“Campak itu kita identifikasi ada di lima kabupaten dan kita sudah lakukan imunisasi program khusus, jalan sejak minggu ini. Jadi, hari Senin kemarin (5/1/2026) itu juga jalan. Jadi program imunisasi anak-anak di daerah-daerah yang sudah kita identifikasi ada campak,” jelas Budi.

Sementara, penyakit-penyakit yang banyak dikeluhkan para pengungsi adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit kulit, dan diare. Sebagai penanganan, obat-obat telah disediakan sesuai dengan jenis penyakitnya.

“Obat-obatan kita sesuaikan dengan jenis penyakitnya,” ujar Budi.

Pastikan Akses Kesehatan Masyarakat Tetap Berjalan

Imunisasi dan layanan kesehatan ini berjalan dengan bantuan Tim Tenaga Cadangan Kesehatan–Emergency Medical Team (TCK-EMT) Batch 2 Kementerian Kesehatan RI.

Pada Jumat (9/1), pelayanan difokuskan di sejumlah puskesmas serta RSUD Pidie Jaya untuk memastikan akses layanan kesehatan masyarakat tetap berjalan.

Kegiatan pelayanan kesehatan dilaksanakan di beberapa fasilitas kesehatan di Pidie Jaya, antara lain Puskesmas Meurah Dua, Puskesmas Meureudu, Puskesmas Ulim, Puskesmas Jangka Buya, dan Puskesmas Blang Kuta.

Selain pelayanan rawat jalan, tim juga melakukan koordinasi dan penguatan layanan kegawatdaruratan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Pidie Jaya.

Jenis Kasus Kesehatan yang Ditangani

PIC Pidie Jaya, Endang Burni Prasetyowati, mengatakan, tim TCK-EMT bersama tenaga kesehatan setempat menangani 31 pasien, terdiri dari pasien dewasa dan anak, baik laki-laki maupun perempuan.

Kasus yang ditangani meliputi kegawatdaruratan pernapasan seperti pneumonia dan asma eksaserbasi akut, kasus penyakit tidak menular seperti stroke, hipertensi emergensi, dan diabetes melitus dengan komplikasi, hingga kasus trauma dan luka.

“Seluruh pasien dilakukan triase sesuai tingkat kegawatdaruratan dan mendapatkan penanganan medis yang dibutuhkan, mulai dari oksigenasi, pemasangan infus, EKG, penanganan luka, hingga pemantauan tanda vital,” ujar Endang.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |