Denmark Bakal Larang Anak-Anak di Bawah 15 Tahun Pakai Media Sosial

2 weeks ago 29

Liputan6.com, Jakarta - Denmark bakal melarang penggunaan media sosial untuk anak-anak di bawah usia 15 tahun. Rencana kebijakan ini disampaikan pemerintah Denmark pada Jumat, 7 November 2025.

Mengutip Reuters, Perdana Menteri Mette Frederiksen dalam pidatonya mengungkapkan langkah ini menjadi upaya menjaga kesehatan mental kaum muda.

Menurut laporan, media sosial yang paling banyak digunakan anak-anak Denmark meliputi Snapchat, YouTube, Instagram, dan TikTok.

Di Denmark sekitar 4% anak-anak di bawah usia 13 tahun memiliki profil di setidaknya satu platform media sosial, dan lebih dari separuh anak-anak di bawah usia 10 tahun memilikinya. Hal ini seperti disampaikan Menteri Urusan Digital Denmark Caroline Stage.

“Jumlah waktu yang mereka habiskan daring merupakan risiko yang terlalu besar bagi anak-anak kita,” kata Caroline mengutip The Associated Press.

Caroline juga menyebut perusahaan besar media sosial punya dana sangat besar. Tapi, lanjut Caroline, mereka tidak mau berinvestasi untuk keselamatan anak-anak kita, berinvestasi untuk keselamatan kita semua.

Kapan Aturan Mulai Berlaku?

Caroline mengatakan larangan tersebut belum akan diketuk palu dalam waktu dekat. Kemungkinan akan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengesahkan undang-undang yang relevan.

"Saya dapat meyakinkan Anda bahwa Denmark akan segera bertindak, tetapi kami tidak akan melakukannya terburu-buru karena kami perlu memastikan bahwa regulasi tersebut tepat dan tidak ada celah bagi raksasa teknologi untuk melanggar," kata Stage.

Dampak Negatif Media Sosial Bagi Anak

Sejalan dengan hal tersebut, masih banyak orangtua yang bertanya tentang dampak paparan media sosial bagi anak dan remaja.

Memang media sosial punya manfaat, tapi penggunaan yang berlebihan dan tanpa pengawasan orangtua dapat berdampak buruk pada tumbuh kembang anak.

Menurut Cleveland Clinic, remaja yang menghabiskan lebih dari tiga jam di media sosial cenderung mengalami depresi dan kecemasan yang tinggi. Hal ini membuktikan bahwa peran orangtua untuk mengedukasi anak soal media sosial sangat penting.

Psikolog anak asal AS Kate Eshleman, mengatakan bahwa media sosial memudahkan seseorang untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Postingan-postingan yang ditampilkan jelas hanyalah apa yang ingin orang lain lihat sehingga akses yang tanpa batas sangat buruk bagi anak-anak.

Kekhawatiran Tentang Penampilan Fisik

Studi mengatakan bahwa 46 persen perempuan berusia 13 hingga 17 tahun merasa tubuh mereka lebih buruk dibandingkan orang lain di media sosial. Eshlemen menegaskan bahwa apapun yang terlihat di media sosial bukanlah seperti apa yang sebenarnya.

Meski begitu, remaja yang lebih rentan terkena paparan media sosial lebih mudah membandingkan diri dengan orang lain. Hal ini juga dapat menimbulkan tekanan ketika mereka tidak memenuhi standar kecantikan dalam media sosial.

Cyberbullying

Perundungan siber lebih mudah terjadi ketika media sosial diakses tanpa batas. Sebanyak 64 persen remaja mengaku sering terlibat dalam unggahan kebencian. Eshlemen menyampaikan bahwa tantangan adanya perundungan siber adalah bahwa hal itu tidak mampu dihindari.

Perundungan siber juga lebih mudah menyebar dengan luas dan cepat. Sehingga unggahan yang negatif lebih sering terlihat dan terdengar meski terjadi cukup jauh dari lingkungan sekitar.

Predator Daring

Studi menjelaskan bahwa sebanyak enam dari sepuluh remaja perempuan mengaku sering dihubungi orang asing melalui media sosial. Fenomena ini membuat para remaja kehilangan ruang aman dan nyamannya.

Eshleman menyarankan, setiap orangtua hendaknya berkomunikasi dengan anak dan memantau mereka agar terhindar dari tindak pelecehan. Penting juga bagi orang-orang awam untuk terus menjaga lingkungan internet sebagai ruang aman untuk anak berkomunikasi.

Tren yang Berbahaya

Eshleman menyoroti fungsi kognitif dan eksekutif pada anak yang belum memadai. Hal ini membuka otak anak untuk menyerap tren berbahaya lebih mudah hingga menirunya di dunia nyata. Sehingga, peran orangtua dan pemerintah sangat dibutuhkan agar situasi seperti ini tidak memburuk.

Perubahan Perilaku yang Drastis

Kemampuan kognitif yang belum memadai juga memungkinkan perilaku anak berubah sangat drastis. Perilaku ini umumnya meliputi:

  • Perilaku sensitif dan mudah tersinggung
  • Kecemasan yang tinggi
  • Meningkatnya depresi
  • Mengalami gangguan tidur
  • Merasa kurang harga diri
  • Kurang fokus

Peran Orangtua Bagi Anak dalam Dunia Digital

Berbicara mengenai dunia digital, penting sekali pendampingan orangtua. Berikut beberapa hal yang perlu orangtua perhatikan:

Tentukan Kesiapan Anak untuk Mengakses Media Sosial – Orangtua harus mengidentifikasi ekspektasi mereka dan menyampaikannya dengan baik kepada anak. Selain itu, ketahui juga risiko apa yang akan dihadapi ketika anak mulai menjelajahi internet.

Membuka Komunikasi dengan Anak – Jika menemukan unggahan kebencian atau tren yang berbahaya, komunikasikan dengan anak. Sampaikan sehingga anak mampu memilah dan memilih konten mana yang baik untuk dilihat serta ditiru.

Batasi Waktu Akses – Orangtua hendaknya membatasi waktu anak menonton dan mengakses media sosial. Hal ini bisa dilakukan dengan mengajak anak beraktivitas fisik bersama-sama sehingga kesehatan mental anak tetap terjaga.

Pantau Penggunaannya – Pemantauan ini dapat dilakukan orangtua dengan memeriksa gawai anak atau menggunakan alat tambahan yang dapat melihat dan membatasi akses anak dalam internet.

Mecontohkan Hal yang Baik – Anak-anak lebih sulit memahami bahaya dari media sosial. Oleh karena itu, orangtua harus memberikan contoh bagaimana penggunaan media sosial yang tepat.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |