Kasus Gigi dan Mulut Tertinggi Kedua Setelah Hipertensi, Pakar Peringatkan Dampaknya pada Generasi Muda

2 weeks ago 18

Liputan6.com, Jakarta - Masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia berada pada situasi yang mengkhawatirkan. Data terbaru menunjukkan 80 persen masyarakat mengalami kerusakan gigi, menjadikan kondisi ini sebagai masalah kesehatan terbesar kedua setelah hipertensi. Tingginya kasus ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tapi juga pertumbuhan dan masa depan generasi muda.

"Sudah terkonfirmasi bahwa kasus gigi dan mulut menempati peringkat kedua tertinggi setelah hipertensi dan penyakit lainnya," kata Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Dr. Dra. Lucia Rizka Andalucia, dalam Opening Ceremony Indonesia Dental Exhibition & Conference (IDEC) 2025 bertema 'The Transformation of Dental Resiliency' pada Jumat, 14 November 2025.

Situasi Indonesia jauh lebih serius dibandingkan angka global. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2022 mencatat, rata-rata penduduk dunia yang mengalami masalah gigi dan mulut sebesar 50 persen. Sementara hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 57 persen masyarakat berusia di atas 3 tahun mengalami masalah ini dalam setahun terakhir.

Tidak hanya orang dewasa, masalah gigi juga banyak dialami kelompok usia muda. "Balita sampai anak sekolah 31 persen mengalami kondisi gigi tidak sehat, remaja 50 persen, orang dewasa 41,6 persen, dan lansia tertinggi dengan 59,4 persen. Kondisi ini menjadi warning karena kesehatan gigi yang buruk berdampak pada gizi dan produktivitas anak di masa depan," ujar Rizka.

Karies Gigi Menjadi Ancaman Kesehatan Global

Salah satu masalah terbesar yang mendorong tingginya angka ini adalah karies gigi. Penyakit ini masih menjadi ancaman kesehatan global dan menempati peringkat ketiga dari seluruh masalah kesehatan di Indonesia. "Karies gigi menempati urutan ketiga dari seluruh masalah kesehatan dengan angka 59,4 persen. Ini menjadi peringatan bagi kita," kata Rizka.

Karies bukan hanya akibat kebiasaan buruk menyikat gigi, tetapi dipengaruhi berbagai faktor mulai dari struktur gigi, kondisi saliva, akses air bersih, hingga pola konsumsi gula yang semakin meningkat. Gaya hidup modern, yang identik dengan makanan manis dan minuman kemasan, membuat risiko karies pada anak dan remaja meningkat drastis.

Menurut Dr. Eka Erwansyah, drg., M.Kes., Sp.Ort., Subsp. DDTK (K) yang juga Sekjen PDGI, kerusakan satu gigi dapat memicu masalah lebih besar. "Faktor kenapa tinggi karena jumlah gigi itu 32. Jadi, kalau satu saja rusak, bisa berpengaruh pada gigi lainnya," katanya. Dia pun menekankan pentingnya menyikat gigi minimal dua kali sehari, terutama setelah makan.

Kekurangan Dokter Gigi di Puskesmas

Di sisi lain, pemerataan layanan kesehatan gigi juga menjadi tantangan. Sejak penguatan layanan primer pada Oktober 2025, masih ada sekitar 40 persen puskesmas yang belum memiliki sembilan tenaga kesehatan lengkap. Kekurangan terbesar terjadi pada dokter gigi, dengan kebutuhan tambahan 2.775 tenaga untuk memenuhi standar nasional.

Menurut Rizka, masalah distribusi tenaga kesehatan juga dipengaruhi keterbatasan infrastruktur dan peralatan. "Tenaga kesehatan masih sulit, termasuk terkait infrastruktur dan instrumen gigi yang dapat kita penuhi di Indonesia," ujarnya.

Pemerintah kini memperkuat transformasi ketahanan kesehatan sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 untuk memastikan akses layanan gigi merata hingga ke daerah terpencil. Upaya ini diharapkan dapat menekan lonjakan kasus, terutama pada anak dan remaja yang menjadi kelompok paling rentan.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |