Kenali Gejala Hipertensi Paru, Kerap Tak Disadari karena Dikira Asma atau Capek

2 days ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Hipertensi paru atau hipertensi pulmonal sering muncul lewat keluhan yang tampak ringan mudah lelah, napas pendek saat aktivitas ringan, atau cepat pusing. Namun, gejala awal inilah yang kerap diabaikan sehingga pasien datang dalam kondisi berat. 

Wakil Ketua Hipertensi Paru Indonesia (INA-PH), dr. Hary Sakti Muliawan, Ph.D., Sp.JP, Subsp. P.R.Kv(K) menjelaskan, hipertensi paru terjadi ketika tekanan pada pembuluh darah paru meningkat dan membebani jantung kanan. 

“Pasien sering mengira hanya capek atau asma. Padahal, pembuluh darah parunya sudah menyempit dan jantung kanan bekerja sangat keras,” ujar Hary.

Keluhan seperti sesak saat naik satu lantai, sering merasa tertekan di dada, mudah pingsan, hingga bibir kebiruan perlu diwaspadai.

“Gejala awalnya memang samar, tapi justru di tahap inilah kita harus cepat mendeteksi. Kalau terlambat, kondisi bisa memburuk sangat cepat,” kata Hary.

Gejala Awal Kerap Tak Disadari karena Mirip Penyakit Umum

Gejala awal hipertensi paru muncul akibat gangguan aliran darah dari jantung kanan menuju paru-paru. Ketika pembuluh darah paru menebal atau menyempit, jantung kanan dipaksa bekerja lebih keras. Kondisi ini membuat banyak pasien merasakan cepat lelah dan napas pendek bahkan saat melakukan aktivitas ringan.

“Jantung kanan itu kecil, tapi bekerja seumur hidup. Ketika bebannya naik, pasien mulai cepat sesak, bahkan untuk naik satu anak tangga,” kata Hary.

Ia menjelaskan bahwa kurangnya oksigen dalam darah dapat membuat bibir membiru, tubuh mudah pusing, hingga hampir pingsan. Pada tahap yang lebih lanjut, jantung tidak lagi mampu memompa secara efektif sehingga memicu pembengkakan pada kaki dan perut.

“Kalau sudah bengkak, itu tandanya jantung kanan sudah kewalahan,” jelasnya.

Sayangnya, sebagian besar pasien datang terlambat karena gejalanya sering disangka asma, kelelahan, atau dampak TBC sehingga tidak diperiksa lebih lanjut.

Diagnosis yang Terlambat Akibatkan Pasien Salah Penanganan

Masalah terbesar pada hipertensi paru di Indonesia adalah keterlambatan diagnosis. Banyak pasien awalnya diduga menderita asma atau TBC dan menjalani pengobatan bertahun-tahun sebelum diketahui bahwa penyebab utamanya adalah tekanan tinggi pada pembuluh darah paru.

“Saya sering bertemu pasien yang sudah lima tahun berobat asma atau TBC, padahal masalahnya di jantung kanan. Ini karena gejalanya mirip dan alat diagnosisnya memang tidak sederhana,” ujar Hary.

Ia menjelaskan bahwa untuk memastikan hipertensi paru, pasien memerlukan pemeriksaan USG jantung atau kateterisasi jantung kanan. Ketika diagnosis terlambat, kondisi dapat memburuk dengan cepat.

Tekanan paru yang terus meningkat dapat memicu krisis hipertensi paru, situasi gawat di mana kadar oksigen turun drastis, napas menjadi sangat berat, tekanan darah merosot, hingga muncul gangguan irama jantung.

“Risikonya sangat serius. Karena itu semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang pasien bertahan,” tegas Hary.

Kenali Sinyal Bahaya pada Kelompok Rentan

Hary menekankan pentingnya edukasi publik agar gejala awal hipertensi paru tidak lagi dianggap sepele. Rendahnya awareness inilah yang, menurutnya, membuat angka mortalitas tetap tinggi.

“Angka ketahanan hidup tujuh tahun masih 50:50 bila pasien datang terlambat. Tapi kalau dideteksi dini dan distabilkan ke kondisi zona hijau, peluang hidup bisa naik sampai 80% dalam lima tahun,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa tanda-tanda awal sering muncul pada kelompok berisiko, seperti perempuan dengan penyakit autoimun, pasien dengan penyakit jantung bawaan, penderita gangguan paru kronis, serta ibu hamil pasca persalinan yang rentan mengalami penggumpalan darah.

“Kalau ada orang yang tiba-tiba lebih cepat sesak, makin cepat capek, atau bibir membiru saat aktivitas, jangan tunggu. Itu bisa hipertensi paru, bukan sekadar lelah,” tegas Hary.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |