[Kolom Pakar] dr Andri SpKJ: Teknologi vs Media Sosial, Sekutu atau Musuh Kesehatan Jiwa Kita?

2 weeks ago 26

Liputan6.com, Jakarta - Hari ini, hampir mustahil membayangkan hidup tanpa teknologi dan media sosial. Di satu sisi, keduanya memudahkan kita. Di sisi lain, kita mulai merasakan dampaknya pada kesehatan mental, terutama kecemasan.

Dalam Kongres Nasional XI Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) di Makassar pada 6 s.d 9 November 2025 kemarin, topik ini menjadi salah satu pembahasan utama yang dipaparkan oleh Seksi Ansietas PDSKJI yang diketuai oleh Prof. Dr. dr. Mustafa M. Amin, Sp.KJ(K), pada simposiumnya tanggal 7 November 2025. Sebagai seorang psikiater, saya ingin membagikan intisari diskusi tersebut untuk kita renungkan bersama.

Teknologi, Pisau Bermata Dua dalam Mengatasi Kecemasan

Dalam presentasi saya, saya menekankan sebuah paradoks: teknologi bisa menjadi bagian dari masalah, sekaligus bagian dari solusi.

Kita sedang menghadapi treatment gap atau kesenjangan pengobatan yang besar. Kurang dari 20 persen penderita gangguan kecemasan mendapatkan penanganan yang memadai. Di sinilah peran teknologi sebagai 'jembatan' menjadi krusial.

Telepsikiatri atau konsultasi jarak jauh, serta terapi berbasis internet, kini terbukti efektivitasnya setara dengan terapi tatap muka. Aplikasi berbasis Cognitive Behavioral Therapy (CBT), seperti Wysa dan SilverCloud, memberikan akses bantuan bagi mereka yang terkendala jarak atau stigma.

Bahkan, terapi dengan Virtual Reality (VRET) memungkinkan pasien fobia sosial berlatih menghadapi situasi yang menakutkan dalam lingkungan yang aman dan terkendali.

Namun, saya selalu mengingatkan para kolega, jangan terjebak euforia digital. Teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti hubungan terapeutik yang manusiawi antara dokter dan pasien. Aspek etika, keamanan data, dan adaptasi dengan budaya lokal kita adalah hal mutlak yang tidak boleh diabaikan.

Media Sosial: Laboratorium Baru untuk Kecemasan Sosial

Pembicara kedua, Prof. Dr. dr. Mustafa M. Amin, Sp.KJ(K), yang juga menjadi ketua Seksi Ansietas, membahas dampak media sosial terhadap kecemasan sosial. Beliau memaparkan fenomena yang mungkin akrab kita rasakan: terus membandingkan diri dengan orang lain (upward social comparison), takut ketinggalan informasi (FoMO), dan cemas menunggu respons setelah mengunggah sesuatu (posting anxiety).

Yang mengejutkan, media sosial tidak hanya memicu, tapi juga mengubah perjalanan gangguan kecemasan sosial itu sendiri. Temuan pencitraan otak (neuroimaging) menunjukkan bahwa ketika menerima komentar negatif di media sosial, amigdala (pusat rasa takut di otak) kita menyala, sementara korteks prefrontal (pengendali emosi) justru melemah.

Paparan kronis terhadap cyberbullying dan penolakan di dunia maya bahkan bisa menjadi stresor yang mengaktifkan kerentanan genetik seseorang terhadap kecemasan. Dalam terapi, pendekatan presisi seperti farmakogenetik (menyesuaikan obat berdasarkan profil genetik) dan VRET mulai diterapkan untuk hasil yang lebih personal.

Remaja: Generasi Paling Rentan di Dua Dunia

Presentasi ketiga dari dr. dr. Veranita Pandia, Sp.KJ(K), fokus pada remaja. Lebih dari sepertiga remaja pengguna media sosial melaporkan gejala kecemasan, dengan remaja perempuan lebih rentan. Problematic Social Media Use --- ditandai dengan kecanduan, gelisah jika tidak mengakses, dan obsesi pada umpan balik --- adalah pemicu utamanya.

Remaja hidup di dua dunia, nyata dan maya. Validasi diri mereka sering kali bergantung pada “like” dan komentar, membuat mereka sangat rentan terhadap social appearance anxiety atau kecemasan akan penampilan di mata sosial.

Solusinya? Bukan dengan melarang, tapi dengan membekali mereka. Digital detox, latihan mindfulness, edukasi orang tua, dan CBT berbasis aplikasi terbukti efektif. Terapi digital berbasis CBT bahkan menunjukkan keberhasilan 83 persen, jauh lebih efektif daripada sekadar membatasi waktu penggunaan.

Kunci utamanya adalah kolaborasi. Orang tua, tenaga kesehatan, dan pengembang aplikasi harus bersinergi menciptakan ekosistem digital yang sehat. Pesan penting dari dr. Veranita:

"Sebelum anak memiliki akun media sosial, pastikan mereka telah memiliki literasi emosional yang memadai."

Penutup: Menemukan Kembali Kemanusiaan di Tengah Gemuruh Digital

Sebagai penutup, ketiga presentasi ini menggambarkan bahwa dunia digital telah menjadi lanskap baru jiwa kita. Teknologi dan media sosial adalah alat yang powerful. Mereka bisa menjadi sekutu psikiater dalam menyembuhkan, atau menjadi pemicu kecemasan jika kita tidak bijak.

Kita tidak sedang berperang dengan teknologi. Kita sedang belajar menjadi manusia yang utuh di tengah banjir informasi dan notifikasi. Kecemasan yang kita rasakan di era ini bukanlah tanda kelemahan.

Ia adalah alarm alami dari jiwa kita yang meminta untuk diakui, diberi jeda, dan dirawat dengan hubungan yang manusiawi, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Mari kita wujudkan masa depan kesehatan jiwa Indonesia yang tidak hanya canggih dan presisi, tetapi juga penuh empati dan inklusif.

Salam sehat jiwa,

dr. Andri, Sp.KJ, FAPM - Psikiater dan Penulis

Read Entire Article
Helath | Pilkada |