Tekanan Sosial dan Minimnya Ruang Aman, Tantangan Serius Remaja Perkotaan

5 days ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Tekanan sosial yang semakin kompleks menjadi tantangan nyata bagi remaja perkotaan. Di tengah derasnya arus media sosial, tuntutan pencapaian, dan standar pergaulan yang kian sempit, banyak remaja tumbuh tanpa ruang aman yang memadai untuk mengekspresikan diri secara sehat. Kondisi ini meningkatkan risiko masalah kesehatan mental hingga perilaku berisiko.

Pada rentang umur 12 s.d 19 tahun, remaja berada dalam fase pencarian jati diri. Di tahap ini, kebutuhan untuk diakui dan diterima menjadi sangat kuat. Namun, ketika lingkungan sosial justru dipenuhi tekanan, seperti bullying, perbandingan di media sosial, hingga normalisasi perilaku tidak sehat, remaja menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.

Minimnya ruang aman membuat sebagian remaja mencari pelarian yang keliru. Tekanan untuk menyesuaikan diri dapat mendorong mereka terlibat dalam kebiasaan berisiko, mulai dari merokok, kekerasan verbal, hingga relasi sosial yang tidak sehat. Padahal, yang dibutuhkan remaja sering kali bukan nasihat panjang, melainkan ruang untuk didengar tanpa dihakimi.

Executive Director Jalin Foundation, Dian Rosdiana menilai bahwa persoalan ini berkaitan erat dengan terbatasnya ruang kolaboratif yang relevan dengan dunia remaja saat ini. Menurutnya, banyak anak muda memiliki potensi besar, tapi tidak mendapatkan lingkungan yang mendukung perkembangan emosional dan sosial mereka.

"Banyak remaja menghadapi tekanan sosial yang besar, sementara ruang aman untuk mengekspresikan diri secara positif masih sangat terbatas. Ketika tidak ada ruang yang sehat, mereka berisiko mencari pengakuan lewat cara yang keliru," ujar Dian Rosdiana.

Upaya Menghadirkan Ruang Aman bagi Remaja

Upaya menghadirkan ruang aman, kata Dian, tidak selalu harus dimulai dari acara besar. Pendekatan bertahap melalui kegiatan berbasis minat dan komunitas justru dinilai lebih efektif.

Salah satunya melalui RAW League 2026, program pra-event yang melibatkan remaja sekolah dan komunitas dalam kompetisi olahraga dan gim kompetitif.

RAW League 2026 dirancang sebagai ruang interaksi sosial yang sehat, tempat remaja belajar bekerja sama, mengelola emosi, dan membangun rasa percaya diri tanpa tekanan validasi negatif.

Pendekatan ini dinilai penting untuk membangun ketahanan mental sejak dini, sebelum remaja dihadapkan pada tekanan sosial yang lebih kompleks.

"Ruang aman perlu dibangun secara berproses. Ketika remaja diberi kesempatan berpartisipasi, berkolaborasi, dan merasa dihargai, mereka belajar mengenali diri dan mengambil keputusan yang lebih bijak," tambah Dian.

Ruang Aman Jadi Perhatian Orang Tua

Tantangan tekanan sosial dan minimnya ruang aman juga menjadi perhatian orang tua dan pemangku kebijakan. Lingkungan perkotaan yang padat, kompetitif, dan serba cepat sering kali menyisakan sedikit ruang bagi remaja untuk tumbuh secara seimbang.

Dian menegaskan bahwa menciptakan ruang aman bagi remaja membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga media.

Tanpa kolaborasi tersebut, tekanan sosial berisiko terus membebani remaja perkotaan dan menghambat tumbuhnya generasi muda yang sehat, tangguh, dan berdaya.

Acara ini diproyeksikan dihadiri sekitar 5.000 remaja, dengan rangkaian kegiatan yang menggabungkan olahraga, kreativitas, dan hiburan populer.

Sejumlah musisi dijadwalkan tampil untuk menarik minat peserta, di samping aktivitas non-hiburan yang bersifat partisipatif.

Berbeda dengan acara hiburan semata, RAW Festival mencoba menggabungkan elemen edukasi sosial dan gaya hidup remaja dalam satu ruang.

Pendekatan ini dinilai relevan dengan kebutuhan orang tua dan pemangku kebijakan yang mencari model kegiatan preventif di luar lingkungan sekolah formal.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |