6 Cara Efektif Membantu Anak Mengelola Amarah, Emosi Tersalurkan dengan Sehat

1 day ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Melihat anak mengamuk, berteriak, atau menangis histeris bisa membuat orang tua merasa kewalahan. Tantrum sering terjadi pada balita dan anak prasekolah karena mereka belum mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata.

Menurut Meri Wallace, LCSW, pakar parenting serta terapis anak dan keluarga, kemarahan pada anak sering muncul secara fisik karena keterbatasan bahasa. Mereka bisa menangis, berteriak, menendang, bahkan berguling di lantai.

Anak kecil juga masih kesulitan mengontrol impuls. Saat keinginannya tidak terpenuhi, mereka bereaksi spontan karena menganggap kebutuhan mereka sangat mendesak. Tantrum menjadi bentuk protes sekaligus ekspresi rasa tidak berdaya. Meski melelahkan, kemarahan adalah emosi yang wajar. Tugas orangtua adalah membantu anak belajar cara menyalurkannya dengan tepat.

Melansir dari Parents pada Kamis, 8 Januari 2026, berikut enam cara efektif yang bisa dilakukan:

1. Terima Amarah Anak

Saat anak marah, langkah pertama adalah mengakuinya. Orangtua bisa berkata, “Ibu lihat kamu sedang marah.” Jika penyebabnya jelas, sebutkan alasannya, misalnya karena harus meninggalkan taman bermain. Setelah itu, sampaikan bahwa marah itu boleh. Kalimat seperti “Tidak apa-apa merasa marah” membantu anak merasa diterima dan aman mengekspresikan emosi.

Memvalidasi perasaan anak penting karena dapat menurunkan intensitas emosi dan membantu mereka mengatur perasaan. Sebaliknya, menyangkal atau menganggap perasaan anak salah justru bisa memperburuk situasi.

2. Dorong Anak Mengungkapkan

Anak tidak otomatis tahu bagaimana mengungkapkan kemarahan dengan kata-kata. Ini perlu diajarkan. Orangtua bisa mengatakan, “Kalau marah, coba bilang dengan kata-kata,” atau “Kalau kamu jelaskan, Ibu bisa lebih mengerti dan membantu.”

Jika anak kesulitan, beri contoh kalimat sederhana seperti, “Aku marah.” Seiring waktu, anak akan meniru dan menyerap pola komunikasi yang ditunjukkan orangtua, termasuk aturan dan harapan dalam mengekspresikan emosi.

3. Bantu Mencari Solusi Positif

Dulu, tantrum sering dianggap sebagai cara anak memanipulasi, sehingga orangtua disarankan membiarkannya. Kini, pendekatan itu berubah. Para ahli menyarankan orangtua tetap tenang dan membantu meredakan situasi.

Membiarkan anak menangis tanpa arahan tidak membantu mereka belajar mengelola emosi. Anak justru perlu dibimbing. Orangtua bisa mengalihkan perhatian, menawarkan alternatif, atau mencari kompromi, misalnya menyimpan mainan favorit sementara atau mengganti keinginan dengan pilihan lain yang lebih memungkinkan.

4. Perlambat Respons

Alih-alih langsung mengatakan “tidak”, cobalah berhenti sejenak dan ajak anak berbicara. Dengan melambatkan respons, orangtua punya waktu untuk berpikir dan anak merasa didengar. Penjelasan sederhana tentang alasan penolakan membantu anak menerima kekecewaan dengan lebih tenang.

Perubahan tempat juga bisa membantu meredakan tantrum. Mengajak anak berjalan atau berpindah lokasi sambil tetap berbicara dapat menurunkan ketegangan. Sikap orangtua yang tenang juga menjadi contoh nyata cara mengatur emosi.

5. Cari Ruang yang Lebih Tenang

Jika tantrum terjadi di tempat umum, menjauh dari keramaian bisa membantu. Fokuskan perhatian pada anak, bukan pada penilaian orang lain. Lingkungan yang lebih sepi membuat anak lebih mudah tenang dan merasa aman.

Orangtua bisa mengajak anak duduk bersama dan berbicara dengan suara lembut. Momen ini membantu anak merasa didukung saat emosinya sedang memuncak.

6. Tetapkan Batas yang Tegas

Meskipun marah itu boleh, perilaku agresif tetap tidak dibenarkan. Jika anak memukul atau menendang, sampaikan dengan jelas bahwa perasaan marah boleh, tetapi menyakiti orang lain tidak. Jelaskan alasannya secara singkat, seperti “Memukul itu sakit.”

Dengan batas yang jelas dan konsisten, anak belajar membedakan antara perasaan dan perilaku, serta diarahkan pada cara yang lebih positif untuk mengekspresikan kemarahan.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |