7 Fakta tentang Hipertensi Paru, Mulai dari Gejala Samar hingga Risiko Gagal Jantung

1 day ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Hipertensi paru atau pulmonary hypertension masih menjadi penyakit yang sering luput dari perhatian karena gejalanya menyerupai kondisi umum seperti cepat lelah atau sesak napas setelah aktivitas ringan. 

Padahal, kondisi ini melibatkan peningkatan tekanan darah pada arteri paru yang membuat jantung kanan bekerja jauh lebih keras dari biasanya. Jika tidak ditangani, hipertensi paru dapat menyebabkan gagal jantung kanan dan membatasi aktivitas penderitanya secara signifikan.

Di Indonesia, kesadaran terhadap penyakit ini masih rendah sehingga banyak pasien datang ketika kondisinya sudah cukup berat seperti disampaikan Wakil Ketua Hipertensi Paru Indonesia (INA-PH), dr. Hary Sakti Muliawan, Ph.D., SpJP, Subsp.P.R.Kv(K).

Maka dari itu, Hary pentingnya mengenali gejala awal serta memahami faktor risiko seperti penyakit jantung bawaan, riwayat penyakit autoimun, hingga infeksi tertentu.

Edukasi menjadi hal krusial agar masyarakat tidak menganggap remeh keluhan yang tampak ringan. Karena itu, memahami fakta-fakta penting seputar hipertensi paru dapat membantu deteksi lebih dini dan mencegah komplikasi serius.

Mengapa Hipertensi Paru Sulit Terdeteksi dan Sering Diabaikan?

Tidak sepopuler hipertensi sistemik, hipertensi paru membawa konsekuensi kesehatan yang jauh lebih serius. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah di paru-paru menyempit, mengeras, atau kehilangan elastisitas sehingga tekanan darah di dalamnya meningkat drastis.

Akibatnya, jantung kanan harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke paru-paru, dan bila kondisi ini berlangsung lama, otot jantung kanan akan melemah dan berpotensi menyebabkan gagal jantung.

Sayangnya, hipertensi paru sering disebut the silent progression disease karena berkembang perlahan tanpa tanda-tanda spesifik. Aktivitas yang sebelumnya terasa mudah seperti berjalan cepat, membawa barang ringan, atau menaiki tangga tiba-tiba menjadi berat dan melelahkan.

Banyak pasien baru mendapatkan diagnosis setelah bertahun-tahun mengalami gejala samar yang kerap dianggap sepele atau disalahartikan sebagai kelelahan biasa, asma, atau gangguan kecemasan, sehingga penanganan terlambat.

Ketidaktahuan Masyarakat Menghambat Deteksi Dini Hipertensi Paru

Kesadaran mengenai hipertensi paru menjadi tantangan besar di banyak negara, termasuk Indonesia. Minimnya informasi membuat masyarakat sering menyamakan gejala penyakit ini dengan asma, kelelahan biasa, atau bahkan gangguan kecemasan, sehingga banyak pasien menunda pemeriksaan medis yang tepat.

Hipertensi paru adalah kondisi vaskular serius yang membutuhkan penanganan khusus dan pemeriksaan menyeluruh, termasuk ekokardiografi, CT scan, atau kateterisasi jantung kanan, yang tidak bisa digantikan oleh pemeriksaan tekanan darah biasa.

Di sisi lain, terapi untuk hipertensi paru berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Kemajuan teknologi pencitraan jantung, obat-obatan spesifik, serta pendekatan multidisiplin memberi harapan baru bagi pasien untuk tetap produktif. Namun, keberhasilan terapi tetap sangat bergantung pada seberapa cepat penyakit ini terdeteksi dan ditangani secara tepat.

7 Fakta tentang Hipertensi Paru

1. Gejalanya Mirip “Capek Biasa”, Tapi Bisa Menjadi Sinyal Bahaya

Sesak napas saat aktivitas ringan, jantung berdebar, pusing, atau mudah lelah sering dianggap hal biasa. Padahal, bagi sebagian orang, itu merupakan tanda awal tekanan tinggi pada arteri paru yang berpotensi merusak jantung kanan.

“Pasien sering mengira hanya capek atau asma. Padahal, pembuluh darah parunya sudah menyempit dan jantung kanan bekerja sangat keras,” ujar Hary dalam temu media pada Kamis, 27 November 2025.

2. Bisa Bertahun-tahun Tidak Terdeteksi

Banyak pasien tidak menyadari penyakit ini hingga 2–4 tahun karena gejalanya samar. Begitu terdiagnosis, sebagian sudah berada di stadium lanjut. Inilah alasan hipertensi paru dijuluki penyakit yang bergerak diam-diam.

3. Risiko pada Perempuan Lebih Tinggi

Penelitian menunjukkan perempuan dua kali lebih mungkin terkena hipertensi paru idiopatik atau terkait autoimun. Faktor hormon, genetik, dan imunitas diduga berperan, tetapi mekanismenya masih terus dikaji.

Lebih lanjut, Hary mengatakan ibu hamil dan ibu baru melahirkan rentan alami kondisi ini. Hal ini berkaitan dengan perubahan fisiologis tubuh ibu, terutama meningkatnya kecenderungan darah menggumpal pascamelahirkan.

“Setelah persalinan, tingkat kegumpalan darah meningkat. Gumpalan ini bisa mental ke pembuluh darah paru dan menyumbat, sehingga memicu hipertensi paru,” ujar Hary.

4. Hipertensi Paru Bisa Menyerang Orang yang Tampak Sehat dan Aktif

Tidak hanya mereka dengan riwayat penyakit kronis, orang muda, produktif, bahkan yang rajin berolahraga pun bisa mengalami hipertensi paru jika memiliki kelainan bawaan jantung atau kelainan pembuluh darah tertentu.

5. Tidak Bisa Dideteksi dengan Tensi Lengan Biasa

Hipertensi paru sering disalahpahami sebagai tekanan darah tinggi. Padahal, tensimeter lengan tidak bisa mendeteksinya. Diagnosis membutuhkan tes lanjutan seperti ekokardiografi, CT scan dada, hingga kateterisasi jantung kanan.

6. Penderita Tetap Bisa Olahraga tapi dengan Aturan Ketat

Olahraga tidak dilarang, namun harus ringan dan stabil: jalan santai, yoga, atau bersepeda pelan. Aktivitas intens seperti sprint, angkat beban berat, atau HIIT dilarang karena dapat membahayakan jantung kanan.

7. Terapi Modern Membuat Harapan Hidup Meningkat Drastis

Saat ini tersedia obat vasodilator spesifik, terapi inhalasi, hingga intervensi medis lain yang dapat memperlambat progresi penyakit. Banyak pasien mampu menjalani kuliah, bekerja, bahkan berkeluarga dengan kualitas hidup lebih baik.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |