Cegah Anak Masuk Grup Kekerasan Seperti True Crime Community, Psikolog: Keluarga Punya Peran Protektif

1 day ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Polisi melaporkan 70 anak sekolah bergabung dalam grup kekerasan yang disebut True Crime Community (TCC).

Ini adalah grup yang dinilai berbahaya karena berisi konten kekerasan dan perencanaan penghancuran ruang kelas, melukai guru, teman sekelas.

Terkait hal ini, psikolog klinis dari Fakultas Psikologi Universitas YARSI, Ratih Arruum Listiyandini, menyampaikan cara mencegah anak masuk dalam grup-grup berbahaya seperti TCC.

“Jadi memang menurut saya kalau misalnya level anak-anak memang paling penting kita perlu melihat peran keluarga. Itu menjadi salah satu faktor protektif yang paling besar sih saya rasa,” kata Ratih kepada Health Liputan6.com saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

“Jadi kalau keluarga itu menjadi pelindung yang baik, maka nanti anak-anak itu akan menjadi lebih tahu bagaimana caranya agar tidak gampang terpengaruh,” tambahnya.

Intervensi mulai dari keluarga disebut pula intervensi level mikro yang perlu menjadi prioritas. Kemudian dibantu dengan peran guru atau pihak sekolah.

“Jadi intervensi di level mikro, di level keluarga itu perlu menjadi prioritas. Selain itu mungkin bisa juga peran dari guru dan juga sekolah untuk memberikan edukasi juga sehingga mencegah terkait hal-hal itu,” ujarnya.

Rancang Pengeboman Ruang Kelas

Sebelumnya, Densus 88 Antiteror mendapati 70 anak di berbagai daerah di Indonesia teridentifikasi tergabung dalam komunitas media sosial True Crime Community (TCC). Grup yang sarat konten kekerasan ekstrem, mulai dari Neo Nazi, White Supremacy, hingga tutorial pembuatan bom.

Hasil penyelidikan terungkap, sejumlah anak merancang pengeboman ruang kelas. Mereka menyasar siswa rekannya. Tak hanya itu, mereka juga berniat mencelakai guru, menyabotase CCTV, lalu mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

"Dari interview yang dilakukan oleh penyelidik, kami menemukan bahwa anak-anak ini di dalam wilayah yang berbeda berencana untuk melakukan bunuh diri setelah meledakkan beberapa kelas. Lalu membantai guru, menyabotase CCTV. Sasaran aksinya adalah teman sekolah dan guru," ujar Juru Bicara Densus 88, Kombes Pol Myandra Eka Wardhana di Jakarta, Rabu (7/1/2026) mengutip News Liputan6.com.

Contoh Kasus

Insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara tahun lalu menjadi salah satu contoh kasus. Sebelum insiden itu, ternyata polisi sudah mendeteksi aksi serupa di Jepara.

Seorang anak berniat melakukan kekerasan di sekolah dan mengunggah aksinya ke komunitas TCC. Rencana itu berhasil digagalkan berkat intervensi cepat bersama Polda Jawa Tengah.

Pasca insiden Jakarta, upaya pencegahan terus dilakukan. Rencana kekerasan serupa berhasil digagalkan di Kalimantan Barat pada 8 Desember 2025 dan di Jawa Timur pada 17 Desember 2025.

Hingga 22 Desember 2025, Mabes Polri bersama kementerian dan lembaga terkait melakukan intervensi serentak terhadap puluhan anak lain yang teridentifikasi dalam jaringan ini.

Tunjukkan Keinginan Kuat untuk Lakukan Kekerasan

Myandra melanjutkan, yang mengkhawatirkan, meski sudah ditangani dengan baik namun ada anak yang ternyata masih menunjukkan keinginan kuat untuk melakukan kekerasan. Mereka terhubung dengan jaringan ekstrem internasional berbasis daring.

"Pernah membawa pisau ke sekolah dan memiliki koneksi internasional, terdeteksi dengan REDA yaitu pendiri kelompok BNTG di Prancis, yaitu Barber Nationalist Third Positionist Group. Ini adalah gerakan nasionalisme etnis Barber berbasis daring dengan ideologi Third Positionist, berorientasi pada penyatuan identitas dan pembebasan politik etnis," jelasnya.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |