Ciri-Ciri Anak Alami Child Grooming, Salah Satunya Jadi Lebih Tertutup

8 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Ciri-ciri anak mengalami child grooming biasanya terdapat perubahan perilaku, emosional, dan sosial pada anak. Orangtua sebaiknya peka terhadap perubahan tersebut.

Child grooming adalah hal manipulasi yang dilakukan seseorang untuk membangun kedekatan emosional dengan anak sebelum masuk ke tahap eksploitasi, terutama eksploitasi seksual. 

Modus ini biasanya berjalan perlahan melalui perhatian, pujian, hadiah, dan pendekatan emosional yang membuat anak merasa aman serta nyaman. Pelaku memanfaatkan kebutuhan psikologis anak, seperti keinginan untuk diperhatikan, dihargai, atau merasa istimewa. 

Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dokter Ariani menjelaskan bahwa pelaku akan memberikan perhatian kepada korban untuk menjalin kedekatan.  

“Sebenarnya grooming ini tahap awal sebelum kekerasan seksual pada anak, dengan beberapa proses, mendekati korban, dan tujuan akhirnya pasti eksploitasi seksual anak,” jelasnya dalam webinar bersama IDAI pada Selasa, 31 Maret 2026.

Ketika proses manipulasi mulai berjalan, anak biasanya menunjukkan perubahan yang berbeda dari kesehariannya. Tanda tersebut terlihat dari perilaku, kondisi emosional, hingga hubungan sosial. 

Perubahan Perilaku

Perubahan perilaku sering menjadi tanda paling awal yang terlihat ketika anak mengalami grooming. Anak yang sebelumnya terbuka bisa berubah menjadi lebih tertutup, sulit diajak berbicara, dan mulai menyembunyikan aktivitas pribadinya. 

“Kalau sampai ada sesuatu yang terjadi pada anak, kita harus aware. Apapun itu, menjadi tertutup, mudah marah, cemas, tidak mau diajak bepergian, menyimpan rahasia, misalnya hp di password, harus pakai face recognition untuk masuk ke hpnya, gitu ya,” tutur Ariani. 

Tanda ini menunjukkan bahwa anak mulai memiliki sesuatu yang sengaja disembunyikan dari keluarga. Selain itu, anak bisa menjadi sangat menjaga privasi terhadap gawai. Lalu, lebih sering mengunci pintu kamar, menghapus riwayat percakapan, atau panik ketika orangtua mendekat saat ia sedang menggunakan ponsel. 

Perubahan lain yang juga perlu dicurigai adalah penurunan prestasi sekolah, sering terlihat lelah karena begadang, serta mulai berbohong tentang tujuan pergi atau dengan siapa ia bertemu. Bila perubahan seperti ini muncul mendadak dan berbeda dari kebiasaan sebelumnya, orang tua perlu  untuk membangun komunikasi yang lebih hangat dan aman dengan anak.

Perubahan Emosional

Child grooming juga bisa memunculkan perubahan emosional yang cukup jelas pada anak. Misalnya anak menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, dan mengalami perubahan suasana hati yang drastis. 

“Mudah marah, perubahan mood, cemas, depresi, mengurung di kamar, menarik diri dari keluarga, tidak mau diajak bepergian,” tuturnya.

Kondisi ini biasanya muncul karena anak berada dalam tekanan batin akibat manipulasi pelaku. Ia merasa takut, bingung, atau bersalah karena terus diyakinkan bahwa hubungan tersebut adalah bentuk perhatian yang normal. 

Rasa bersalah ini membuat anak sulit membedakan mana perhatian sehat dan mana yang berbahaya. Selain itu, anak tampak murung tanpa sebab, kehilangan minat pada kegiatan yang sebelumnya disukai, atau menunjukkan kecemasan berlebihan saat menerima pesan dari seseorang. 

Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang lama, kesehatan mental anak bisa terganggu. Oleh sebab itu, perubahan emosi yang mendadak perlu segera direspons dengan dukungan emosional dari keluarga agar anak merasa memiliki tempat berlindung yang aman saat bercerita.

Perubahan Sosial

Grooming juga bisa terlihat dari perubahan sosial yang terjadi pada anak. Salah satu tandanya ialah anak mulai menjauh dari lingkungan yang sebelumnya akrab, baik teman sebaya maupun keluarga. 

“Akhirnya dia jarang bermain dengan temannya, atau tiba-tiba berganti kelompok pertemanan, lalu lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang yang lebih tua,” kata Ariani.

Anak yang biasanya aktif bermain bisa mendadak lebih suka menyendiri atau hanya fokus berkomunikasi dengan satu orang tertentu. Ia juga mungkin lebih sering melakukan panggilan telepon, video call, atau chat larut malam dengan seseorang yang tidak dikenal keluarga. 

Selain itu,  ketika anak mulai menolak acara keluarga, malas berkegiatan bersama teman, atau terlihat lebih nyaman berada di ruangan sedirian sambil terus memegang gawai. Kemudian anak bahkan bisa berganti linkungan sosial karena pengaruh pelaku yang perlahan menjauhkannya dari lingkungan sehat.

Ketika anak mulai kehilangan kedekatan sosial yang biasanya normal, hal ini bisa menjadi sinyal bahwa ada pihak lain yang sedang mengambil ruang emosional dan sosial anak.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |