Evaluasi Setahun Program MBG, Ini Catatan Pengamat Kebijakan Kesehatan

1 day ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pertama kali dimulai pada 6 Januari 2025. Artinya, program ini sudah berjalan genap satu tahun pada 6 Januari 2026.

Soal perjalanan MBG setahun belakangan, pengamat kebijakan kesehatan dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH., memberikan evaluasi.

“Evaluasi satu tahun MBG, pertama dampak positif awal yang saya bisa catat adalah terjadi peningkatan keragaman diet (pola makan), perbaikan pengetahuan gizi anak, beberapa studi lokal menunjukkan peningkatan status gizi anak secara statistik,” kata Dicky kepada Health Liputan6.com lewat pesan suara dikutip pada Senin (5/1/2026).

Dia menambahkan, studi awal di beberapa wilayah juga menunjukkan potensi dampak positif terhadap penurunan malnutrisi dan stunting.

“Meski hasilnya belum dipublikasi tapi ini adalah evaluasi awal,” katanya.

Di balik beberapa dampak positif yang mulai terlihat, Dicky memberi catatan. Menurutnya, meski memiliki konsep yang kuat tapi program MBG memperlihatkan sejumlah masalah serius yang terjadi di lapangan.

“Pertama terkait insiden keracunan. Telah terjadi keracunan massal di berbagai wilayah yang mengindikasikan kelemahan dalam penjaminan mutu sanitasi pangan, rantai pasok, dan juga pemantauan keamanan makanan,” jelas Dicky.

“Hal kedua yang jadi catatan kritis adalah keterbatasan infrastruktur. Jadi, keterbatasan dapur dengan fasilitasnya di banyak daerah menyebabkan target cakupan tertunda dan kualitas makanan sulit dikontrol secara seragam,” tambahnya.

Kesulitan Koordinasi Lintas Sektor

Catatan ketiga menurut Dicky adalah masih ada tantangan dan kesulitan dalam koordinasi lintas sektor.

“Antara sekolah, lembaga kesehatan dalam hal ini puskesmas, dinas kesehatan, penyedia makanan dan penanggung jawab kebijakan. Sehingga monitoring dan evaluasi berdampak tidak optimal di berbagai wilayah,” katanya.

Jadi simpulan awalnya, sambung Dicky, Program MBG ini memberi dampak positif parsial terhadap kondisi gizi harian anak dan perilaku gizi.

“Tetapi ketidakamanan pangan, kualitas implementasi yang tidak merata, dan manajemen risiko kesehatan masih belum memadai menjadi catatan kritis yang signifikan dalam pelaksanaan tahun pertama dari MBG ini,” ujarnya.

MBG dan Penurunan Angka Stunting

Sementara, dalam aspek MBG sebagai upaya penurunan angka stunting, Dicky mengatakan bahwa stunting adalah hasil dari pola gizi kronis dan multifaktorial.

“Jadi bukan hanya bicara gizi ibu dan anak, tapi ada sanitasi, penyakit infeksi berulang, ada juga faktor determinan sosial ekonomi khususnya selama 1000 hari pertama kehidupan (HPK).”

“Nah, memang MBG ini berupaya menyediakan gizi yang lebih optimal bagi anak sekolah, tapi stunting sebagian besar ditetapkan sebelum usia sekolah terutama 1000 HPK atau sejak kehamilan sampai usia 2 tahun.”

Jadi, sambungnya, pemberian MBG pada anak usia sekolah belum tentu atau tidak menjamin perbaikan stunting yang sudah terjadi.

“Artinya, MBG ini tidak boleh atau tidak dapat dijadikan satu-satunya strategi untuk menurunkan angka stunting secara signifikan tanpa intervensi gizi ibu hamil, penguatan kesehatan ibu dan anak, perbaikan sanitasi, dan pemberdayaan keluarga.”

MBG untuk Kelompok B3

Menyadari stunting perlu dicegah sejak masa kehamilan, Badan Gizi Nasional (BGN) telah lama memperluas cakupan penerima manfaat yakni pada ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan anak bawah lima tahun (balita) alias B3.

Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan bahwa intervensi pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita tetap menjadi prioritas utama dalam MBG.

Kelompok ini dinilai krusial karena berada dalam fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang merupakan masa emas dan tidak dapat ditunda.

Dadan menekankan bahwa kontinuitas layanan gizi bagi kelompok rentan harus dijaga tanpa terpengaruh kalender pendidikan maupun musim liburan.

“Intervensi pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita adalah bagian yang sangat penting dan tidak boleh terputus. Periode 1.000 hari pertama kehidupan waktunya pendek, dan kita harus menjaga golden time ini sebaik mungkin,” ujar Dadan di Jakarta, Kamis (25/12/2025).

Memasuki tahun 2026, program MBG akan dimulai secara serempak pada 8 Januari 2026.

Sebelumnya, 2, 3, 5, 6, dan 7 Januari 2026 ditetapkan sebagai hari persiapan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia, mencakup kesiapan dapur, distribusi, sumber daya manusia (SDM), serta penguatan standar keamanan pangan.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |