Guru Besar FKUI Ingatkan Ada Ancaman Penyakit Pasca Banjir Besar Sumatera

12 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Ari Fahrial Syam menyerukan pentingnya antisipasi penyakit pasca banjir dan tanah longsor Sumatera.

Seperti diketahui, musibah banjir besar melanda Sumatera di akhir November 2025 dan menyebabkan lebih dari 100 korban meninggal. Sementara, puluhan ribu warga mengungsi dan terjadi kerusakan infrastruktur yang luas di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

“Kita ketahui bahwa pada umumnya setelah bencana banjir akan diikuti dengan berbagai penyakit. Banjir besar ini menyebabkan kehilangan dan kerusakan harta benda dan juga menyebabkan masyarakat tinggal di pengungsian. Banjir besar yang terjadi menyebabkan kerusakan rumah, rusak berat,” kata Ari dalam keterangan pers, Minggu (30/11/2025).

Banjir yang terjadi juga disertai tanah longsor di beberapa wilayah. Akibatnya, masyarakat yang selamat sebagian besar  tinggal di pengungsian dan mereka berisiko mengalami penurunan daya tahan tubuh.

“Kenapa hal ini terjadi? Mereka dalam kondisi stres akibat kehilangan harta benda, istirahat yang kurang dan makan minum ala kadarnya. Kondisi ini tentu akan menyebabkan daya tahan tubuh masyarakat menurun,” kata Ari. 

“Dan di satu sisi, mereka akan  terpapar dengan berbagai penyakit infeksi termasuk infeksi saluran pernapasan atas bahkan sampai terjadi infeksi paru hingga pneumonia,” jelas Ari.

Selain itu, masyarakat terdampak banjir umumnya tinggal dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat sehingga berisiko mengalami infeksi saluran pencernaan antara lain diare atau demam tifoid.

Banjir bandang dan longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatera setelah hujan ekstrem mengguyur selama sepekan. Sedikitnya 49 orang dilaporkan tewas dan 67 lainnya masih dalam pencarian.

Ancaman Tetanus

Tak henti di situ, kondisi lingkungan usai banjir juga bisa menimbulkan berbagai infeksi lain termasuk tetanus.

“Infeksi tetanus terjadi jika masyarakat yang kebetulan sedang membersihkan lokasi pasca banjir dan tertusuk paku yang berpotensi masuknya bakteri Clostridium tetani yang banyak dijumpai pada debu dan kotoran hewan.”

Bakteri lebih mudah masuk ke tubuh melalui luka akibat benda tajam. Hal ini juga terjadi usai bencana Tsunami di Aceh di mana banyak masyarakat yang terinfeksi tetanus. Tetanus biasanya terjadi 4 hingga 21 hari setelah masuknya kuman ke dalam tubuh. Pasien akan mengalami kekakuan tangan, badan dan tengkuk terasa sakit.

Waspada Leptospirosis

Selain penyakit tetanus penyakit yang perlu diantisipasi jika berhubungan dengan pembersihan lokasi banjir adalah penyakit leptospirosis. Penyakit ini acap kali muncul setelah banjir.

Leptospirosis terjadi karena pasien tertular melalui paparan dengan kotoran tikus. Penyakit leptospirosis juga dikenal dengan penyakit demam kuning. Pasalnya, pasien dengan leptospirosis bisa mengalami  demam tinggi, menggigil, mual, muntah dan mata, kulit serta urine berwarna kuning.

“Karena memang infeksi ini menyerang liver maka sering disebut hepatitis non virus. Yang menjadi masalah lain adalah komplikasi leptospirosis dapat menyebabkan terjadi gagal ginjal akut, pankreatitis, meningitis dan perdarahan jika infeksi setelah berlangsung sistemis,” kata Ari.

Masyarakat Harus Dibantu

Mengingat dampak yang memang tidak kecil, sambung Ari, masyarakat yang sedang mengalami musibah banjir ini harus dibantu.

“Mereka harus dilengkapi dengan alat pelindung diri saat membersihkan bekas banjir, misal dengan sepatu but, masker, sarung tangan, pelindung kepala, dan pelindung mata. Mengingat bakteri ini bisa masuk dari luka pada kaki dan tangan atau tertelan.”

Disinfektan juga harus didistribusikan kepada masyarakat yang akan membersihkan lokasi pasca banjir. Untuk para pengungsi, harus dijaga makan dan minumnya. Termasuk selimut dan alas tidur yang memadai dan berbagai fasilitas protokol kesehatan seperti masker dan sabun atau hand sanitizer untuk menekan penularan infeksi.

“Kita semua berharap musibah ini cepat berlalu dan kondisi kerusakan bisa segera teratasi, agar masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti biasa,” harap Ari.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |