Juara Kelas Terbang UFC Joshua Van Jadikan Masa Lalu Sebagai Motivasi

5 hours ago 1

Ligaolahraga.com -

Juara kelas terbang UFC Joshua Van mengungkapkan bahwa keberhasilannya meraih sabuk juara membantu memperbaiki hubungan emosionalnya dengan sang ayah yang telah meninggal dunia.

Dua hari setelah menjadi juara UFC pada Desember lalu, Van mendatangi makam ayahnya di Houston untuk pertama kali sejak 2022. Momen itu menjadi sangat emosional bagi petarung berusia 24 tahun tersebut.

“Saya biasanya pergi ke makam bersama ibu, tetapi hanya menunggu di mobil,” ujar Van kepada ESPN.

“Saya hanya masuk ketika berhasil mencapai sesuatu yang besar. Saat ayah masih hidup, saya hanya menjadi kekecewaan baginya,” lanjutnya.

Dalam waktu kurang dari tiga tahun di UFC, Joshua Van mencatat rekor 10-1 dan tahun lalu menjadi juara termuda kedua dalam sejarah organisasi setelah Jon Jones.

Perjalanan Van menuju puncak UFC tidaklah mudah. Ia lahir dan besar di Myanmar, negara Asia Tenggara yang selama bertahun-tahun dilanda konflik sipil dan ketidakstabilan politik.

Saat kecil, Van sempat terpisah dari ayah dan dua saudara perempuannya karena sang ayah berusaha mencari jalan agar keluarga mereka bisa keluar dari Myanmar.

“Dua saudara perempuan saya pergi lebih dulu bersama ayah, lalu setahun kemudian saya, ibu dan adik perempuan menyusul,” kata Van.

“Kami tidak punya ponsel. Kadang kami tidak mendengar kabar mereka selama setahun penuh,” tambahnya.

Keluarga Van kemudian pindah ke Houston ketika dirinya berusia 12 tahun. Namun proses adaptasi di Amerika Serikat berjalan sulit.

Van sering diejek karena belum lancar berbahasa Inggris dan kerap terlibat perkelahian.

Orang tuanya beberapa kali memindahkan tempat tinggal demi mencari lingkungan yang lebih baik, tetapi masalah justru semakin besar.

Situasi tersebut akhirnya memaksanya meninggalkan Houston dan tinggal bersama keluarga lain di Iowa.

Di sana, bibinya mencoba mengubah pola pikir Van dengan meminta dirinya bertarung demi harga diri keluarga dan negaranya, bukan sekadar berkelahi di jalanan.

Nasihat itu menjadi titik balik hidup Joshua Van. Ia kembali ke Houston dan mulai serius berlatih MMA hingga akhirnya mendapat kontrak UFC pada 2023.

Sayangnya, ayah Van meninggal ketika dirinya baru berusia 16 tahun sehingga tidak pernah menyaksikan langsung debut amatir putranya pada 2020 maupun perjalanan menuju UFC.

Meski begitu, Van tetap membawa motivasi dari keluarganya setiap kali bertanding. Ia bahkan terus memperjuangkan hak membawa bendera Myanmar ke oktagon UFC.

Karena situasi politik Myanmar, UFC sempat beberapa kali menolak permintaan tersebut. Namun setelah terus mendesak UFC dan CEO Dana White, Van akhirnya diizinkan membawa bendera negaranya pada 2025.

Tahun lalu menjadi musim terbaik dalam kariernya. Joshua Van mengalahkan juara bertahan Alexandre Pantoja untuk merebut sabuk kelas terbang UFC.

Kini, meski sudah menjadi juara dunia, Van masih tinggal bersama ibunya di Houston setelah membelikannya rumah baru.

Pelatihnya, Daniel Pineda, mengatakan Van tidak berubah meski telah menjadi juara. Ia bahkan masih ingin menghadapi siapa saja yang menantangnya.

“Mungkin itu satu-satunya masalah menjadi juara. Dia selalu ingin bertarung dengan siapa pun,” ujar Pineda sambil tertawa.

Bagi Joshua Van, masa lalu tetap menjadi sumber motivasi terbesar dalam kariernya.

“Saya tidak tahu apakah ayah bangga kepada saya sekarang,” kata Van. “Namun, saya berharap begitu.”

Artikel Tag: ufc, mma

Published by Ligaolahraga.com at https://www.ligaolahraga.com/olahraga-lain/juara-kelas-terbang-ufc-joshua-van-jadikan-masa-lalu-sebagai-motivasi

Read Entire Article
Helath | Pilkada |