Menkes Budi Singgung Pentingnya Dirikan Kusta Warrior Club untuk Lawan Stigma

5 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa di Indonesia perlu ada Kusta Warrior Club atau komunitas lawan kusta.

“Tahun ini harus jadi Kusta Warrior Club di 514 kota, rekrut penyintas kusta, latih mereka untuk bicara di depan umum dan biarkan mereka yang bicara. Bukan saya yang bicara kusta, tapi mereka (penyintas), testimoni mereka akan lebih powerful (kuat),” kata Budi dalam temu media di Jakarta, Kamis, 15 Januari 2026.

Budi berharap, Kusta Warrior Club dapat mulai berdiri bulan depan atau Februari 2026. Komunitas ini bertujuan mengumpulkan para penyintas atau orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) untuk bersatu dan mengedukasi masyarakat. Budi meminta agar para OYPMK dilatih berbicara di depan umum agar bisa menjadi pembicara dalam seminar atau acara-acara publik.

“Let them speak (biarkan mereka bicara), ini akan menciptakan gerakan yang sangat kuat,” ucapnya.

Menurut Budi, kusta masih distigmatisasi akibat kurangnya informasi yang benar di masyarakat. Padahal, kusta bukan penyakit kutukan, melainkan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, sulit menular, memiliki tingkat fatalitas hampir nol, serta dapat disembuhkan.

“Kusta bukan kutukan. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri, penularannya sangat sulit dan membutuhkan waktu lama. Yang terpenting, kusta sudah ada obatnya dan bisa sembuh,” ujar Budi.

Stigma Bikin Pasien Kusta Takut dan Malu

Budi menekankan, stigma membuat pasien kusta takut dan malu melapor sehingga pengobatan sering terlambat. Menurutnya, pemberian informasi yang benar menjadi kunci untuk memutus stigma dan mempercepat penanganan kusta di masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, menyampaikan optimismenya terhadap upaya Indonesia dalam menghapus kusta.

“Dengan komitmen yang sangat kuat ini, saya yakin Indonesia akan mampu mengeliminasi kusta,” ujar Sasakawa.

Peningkatan Deteksi Kusta adalah Tanda Positif

Dengan menghilangkan stigma, maka pasien akan lebih berani lapor dan memeriksakan diri. Dengan begitu, angka temuan kusta di Indonesia akan meningkat.

Meningkatnya jumlah kasus kusta yang terdeteksi justru merupakan tanda positif. Hal tersebut menunjukkan semakin banyak pasien yang berani melapor dan mendapatkan pengobatan.

Dengan kata lain, semakin cepat terdeteksi, maka semakin cepat diobati. Sebaliknya, jika tidak diobati, kusta dapat berujung pada kondisi disabilitas fisik seperti kaki, tangan, dan jari bengkok, kaku serta tak dapat digerakkan.

Cerita Penyintas Kusta

Dalam kesempatan yang sama, Samsul, penyintas yang mengalami kusta pada 1999, menceritakan pengalamannya menghadapi diskriminasi akibat kurangnya pengetahuan.

Ia menilai penyebaran informasi yang sederhana dan mudah dipahami, khususnya kepada guru dan masyarakat umum, sangat penting untuk menghapus stigma bahwa kusta adalah penyakit yang menakutkan.

“Awalnya teman-teman menjauhi saya karena mereka tidak tahu. Tapi setelah saya jelaskan dan mereka melihat saya baik-baik saja, lama-kelamaan mereka bisa menerima dan berteman kembali, bahkan sampai saya kuliah,” ujar Samsul.

Ia menilai penyebaran informasi yang sederhana dan mudah dipahami sangat penting untuk menghapus stigma bahwa kusta adalah penyakit yang menakutkan dan tidak dapat disembuhkan.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |