Menkes: Lebih Baik Temukan Banyak Kasus Kusta, Daripada Disembunyikan

1 day ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia melalui menteri kesehatan berkomitmen melakukan aksi nyata dalam menemukan kasus kusta secara aktif hingga ke pelosok daerah.

Langkah ini dilakukan untuk mengejar target eliminasi kusta pada tahun 2030 melalui pendekatan masif yang melibatkan petugas lapangan secara langsung dalam program cek kesehatan gratis.

Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa strategi utama saat ini adalah aktif mencari penderita di tengah masyarakat untuk memutus rantai kusta. 

 "Tugas kita sekarang adalah menemukan sebanyak-banyaknya penderita kusta," ujar Menkes Budi Gunadi dalam acara media briefing di Wisma Habibie Ainun, Jakarta pada Kamis, (15/1/2026).

Ia menambahkan bahwa kejujuran data sangat penting, sehingga pemerintah akan memberikan apresiasi khusus bagi daerah yang melaporkan angka penemuan kasus tinggi untuk membuang budaya menutupi data penderita kusta demi citra daerah.

“Jangan kaget kalau nanti info kasus kusta naik, karena takutnya yang ditemukan ada 15.000 kasus tapi sebenarnya 60.000 kasus, nah berarti yang 45.000 orang itu menyembunyikan penyakitnya,” tambahnya.

Sinergi Anggaran untuk Mencari Kasus Kusta

Direktur eksekutif Habibie Center, Dr. Mohammad Hasan Ansori menyebutkan. Selama ini, banyak daerah merasa penanganan kusta belum menjadi prioritas kebijakan anggaran.

Selain itu, pemerintah menyadari bahwa keberhasilan mencari kasus kusta dengan skrining lapangan bergantung pada ketersediaan dana dan operasional yang stabil. 

Penguatan dukungan operasional di berbagai wilayah menjadi kunci utama. Melalui kolaborasi lintas sektor, kebijakan penanganan kusta diharapkan tidak lagi bersifat tanpa arahan. 

“Dibutuhkan sebuah national commitment and collective action secara rasional dan khusus untuk penanganan kusta,” ucapnya.

Selain masalah operasional, Hasan juga menambahkan masalah keterlibatan aktif masyarakat melalui organisasi agar terus didorong untuk memperkuat komitmen nasional. Pendekatan yang inklusif sangat dibutuhkan.

 "Penting juga kita mendekatinya dengan menggunakan inclusive framework dan growth of society approach, melibatkan semua pemangku kepentingan, sehingga proses deteksi diri dan skrining dapat berjalan lebih terintegrasi," tegasnya.

Pendekatan growth of society memandang kesehatan bukan sekedar isu medis, melainkan pondasi kemajuan sosial. Dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan mulai dari pemerintah hingga masyarakat. Skrining kesehatan diharapkan menjadi sebuah kesadaran kolektif.

Optimalisasi Komunikasi untuk Skrining Masyarakat

Penguatan peran aktor komunikasi di lapangan menjadi strategi pelengkap untuk menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini sulit diakses oleh pelayanan kesehatan. Kader kesehatan diharapkan tidak hanya melakukan pendataan, tetapi juga menjadi jembatan informasi medis yang dipercaya oleh warga, dan membantu petugas kesehatan dalam melakukan skrining aktif.

Dalam konteks penguatan ini, Dr Hasan menekankan pentingnya dukungan yang berkelanjutan bagi para petugas di garis depan, untuk memastikan penanganan kusta tidak lagi bersifat freelance policy atau kebijakan lepas.

 "Fokus kerja yang perlu kita dorong adalah penguatan deteksi dini dan skrining, serta penguatan peran kader dan aktor komunikasi," ungkapnya. 

Dengan adanya sinergi yang kuat antara pemerintah dan kader, kesehatan, diharapkan target eliminasi kusta dapat tercapai pada 2030 sesuai dengan rencana aksi nasional.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |