Modifikasi Singkong Jadi Tepung MOCAF, Bebas Gluten dan Indeks Glikemik Rendah

1 day ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Singkong memiliki potensi besar untuk dibuat menjadi tepung modifikasi atau Modified Cassava Flour (MOCAF) yang bebas gluten.

Menurut Perekayasa Ahli Madya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ade Saepudin, pengolahan singkong menjadi tepung modifikasi dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus memperpanjang umur simpan produk pertanian.

Dia menjelaskan, Indonesia merupakan penghasil ubi kayu terbesar kedua di dunia setelah Brazil, dengan produksi mencapai 21 juta ton. Namun, umbi singkong segar memiliki kelemahan yaitu cepat rusak dan berisiko mengandung racun asam sianida jika tidak segera diolah.

“Pengolahan singkong menjadi tepung MOCAF melalui proses fermentasi bakteri asam laktat dapat meningkatkan umur simpan dari 48 jam menjadi 4.800 jam,” ujar Ade pada workshop hasil kerja sama BRIN dengan Yayasan Inotek tentang Teknologi Hilirisasi Komoditas Buah-Buahan, Perikanan, dan Umbi-umbian di Majalengka Jawa Barat, Kamis (16/4/2026) seperti mengutip laman BRIN.

Ade mengatakan, tepung MOCAF memiliki keunggulan bebas gluten dan indeks glikemik yang lebih rendah dibanding tepung singkong biasa, sehingga cocok untuk industri pangan modern.

Kembangkan Tepung Pisang

Selain singkong, Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler BRIN juga menyoroti potensi tepung pisang dan tepung kulit pisang.

“Berdasarkan data 2024, Indonesia menempati posisi ketiga sebagai produsen pisang terbesar dunia dengan produksi di atas 9 juta ton. Pengolahan menjadi tepung tidak hanya menyasar daging buahnya, tetapi juga memanfaatkan kulit pisang yang selama ini dianggap limbah,” ujar Ade.

Menurutnya, pemanfaatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular atau zero waste. “Tepung kulit pisang sangat potensial sebagai pangan fungsional karena kaya akan serat, antioksidan, dan mineral,” tambah Ade.

Manfaat Ekonomi Tepung Pisang dan MOCAF

Dari sisi ekonomi, lanjutnya, analisis BRIN menunjukkan bahwa produksi tepung pisang skala UMKM mampu menghasilkan laba sekitar Rp 90.000 per hari dengan kapasitas bahan baku 100 kg.

Sementara itu, tepung MOCAF memberikan keuntungan sekitar Rp 40.000 per hari. “Meskipun tepung kulit pisang masih menghadapi tantangan pasar, produk ini dapat memberikan keuntungan jika bahan baku diperoleh dari limbah industri secara gratis,” tambahnya.

Ade merekomendasikan para pelaku usaha untuk meningkatkan nilai produk dengan mengolah tepung menjadi makanan jadi seperti kue kering MOCAF atau camilan tinggi serat. Strategi pemasaran dengan label sehat dan ramah lingkungan juga dinilai penting untuk meningkatkan minat beli konsumen.

“Produk-produk ini baru bahan setengah jadi, ke depannya saya harapkan bisa menjadi produk-produk yang langsung jadi yang bisa langsung dipasarkan,” Tutup Ade.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |