Psikolog: Ruang Aman bagi Anak Bukan Sekadar Tempat tapi Relasi

3 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Ruang aman adalah fondasi penting bagi perkembangan mental dan sosial anak sejak usia dini. Lingkungan yang aman dapat memberi rasa hangat sekaligus mendukung perkembangan emosional buah hati.

Menurut psikolog Novi Ernilawaty, M.Psi, anak membutuhkan lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan fisik untuk tumbuh dan berkembang secara sehat. Mereka juga butuh ruang aman, yakni lingkungan di mana mereka merasa terlindungi, didengar, dan dihargai.

Dalam ruang seperti ini, anak dapat belajar mengenali emosi, mengekspresikan perasaan, serta membangun rasa percaya diri.

“Ruang aman tidak selalu tentang tempat, tetapi tentang relasi. Anak merasa aman ketika orang dewasa di sekitarnya mampu hadir, mendengarkan, dan memberi respons yang tepat,” ujar Novi dalam Kelas Parenting Tamasya Darling di PAUD Daycare Sadar Lingkungan, Dusun Wailawa, Negeri Laha, Kota Ambon, Maluku, Kamis (15/1/2026).

Menurut Novi, ruang aman bagi anak setidaknya mencakup tiga aspek, yakni:

  1. Keamanan fisik, yakni lingkungan yang bebas dari ancaman dan risiko bahaya
  2. Keamanan emosional, ketika anak dapat menyampaikan perasaan tanpa takut disalahkan
  3. Keamanan sosial, tercermin dalam hubungan yang saling mendukung tanpa tekanan atau diskriminasi.

Novi menegaskan, peran orang tua dan pengasuh sangat menentukan terbentuknya ruang aman tersebut.

“Memberi perhatian penuh saat anak berbicara, menetapkan batasan yang sehat, serta menunjukkan sikap saling menghormati menjadi langkah sederhana namun berdampak besar,” katanya dalam kelas parenting yang didukung Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN.

Lingkungan Pengasuhan yang Aman

Lingkungan pengasuhan yang aman, lanjut Novi, membantu anak merasa dihargai dan dicintai.

Hal ini sekaligus menjadi pelindung dari berbagai risiko, seperti kekerasan, perundungan, dan gangguan kesehatan mental di kemudian hari.

“Pada akhirnya, anak tidak hanya tumbuh karena asupan gizi dan pendidikan formal, tetapi juga karena rasa aman yang mereka rasakan setiap hari. Ruang aman yang dibangun di rumah dan lingkungan terdekat menjadi bekal penting bagi anak dalam menghadapi masa depan,” ujarnya.

Keluarga Harus Jadi Ruang Aman Anak

Sayangnya, data layanan healing 119.id Kementerian Kesehatan RI menunjukkan banyak kasus kesehatan mental dipicu faktor keluarga, baik dalam hubungan orangtua-anak maupun pasangan suami-istri.

"Mestinya keluarga adalah tempat aman. Tapi ini justru paling besar menjadi tempat yang mengancam," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Imran Pambudi, dalam sesi tanya jawab bersama media pada September 2025.

Masalah dalam keluarga sering memicu tekanan emosional, terutama pada usia produktif. Imran menyebut bahwa relasi dengan pasangan menjadi salah satu penyebab terbesar.

"Kalau dia sudah menikah, hubungannya dengan pasangannya. Tapi kalau belum, biasanya terkait orang tua," katanya.

Rumah Tak Selalu Jadi Ruang Aman

Hal ini menunjukkan, rumah tidak selalu menjadi ruang aman. Sebaliknya, keluarga bisa memicu perasaan tertekan, kesepian, hingga depresi yang berujung pada percobaan bunuh diri.

Meski demikian, Imran menekankan pentingnya membangun komunikasi sehat dalam keluarga. Dukungan emosional dari orang terdekat dinilai sebagai kunci pencegahan masalah kesehatan jiwa yang lebih serius.

Dalam banyak kasus, keluarga yang seharusnya menjadi benteng pertahanan justru berubah menjadi sumber masalah. Relasi tidak harmonis antara orangtua-anak atau konflik pasangan suami-istri berkontribusi besar terhadap kondisi psikologis seseorang.

"Keluarga bisa berperan ganda, sebagai sumber dukungan atau justru faktor risiko," kata Imran.

Ketika komunikasi dalam keluarga tidak berjalan baik, individu yang menghadapi tekanan hidup kehilangan tempat aman untuk berbagi. Akibatnya, mereka lebih rentan mengalami kesepian dan depresi.

Oleh karena itu, memperbaiki kualitas hubungan di dalam keluarga menjadi langkah krusial. Meski keluarga bisa jadi sumber tekanan, Imran menegaskan solusi tetap harus kembali pada penguatan peran keluarga.

Dukungan emosional, empati, dan komunikasi yang sehat dapat membantu meringankan beban psikologis anggota keluarga.

"Mestinya keluarga adalah tempat aman," kata Imran.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |