Rumah Sakit Apung Berlabuh di Kaltim, Layani Ribuan Warga Pedalaman dan Perkuat Misi Eliminasi TBC 2030

2 days ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Rumah Sakit Kapal dr. Lie Dharmawan III, yang dioperasikan Yayasan Dokter Peduli (doctorSHARE), berlayar melintasi Sungai Mahakam guna memberikan layanan medis gratis bagi masyarakat di wilayah terpencil Kalimantan Timur. Kehadiran rumah sakit apung ini juga menjadi bagian dari penguatan lintas sektor yang tengah digencarkan Pemerintah Provinsi Kaltim untuk mencapai target eliminasi Tuberkulosis (TBC) pada 2030.

Koordinator Rumah Sakit Kapal Lie Dharmawan III, dr. Marselina Mieke, mengatakan, misi ini tidak hanya berfokus pada pelayanan langsung, tapi juga upaya memastikan masyarakat di daerah terpencil tetap mendapatkan hak dasar mereka dalam kesehatan.

"Kami berusaha menghadirkan layanan yang paling dibutuhkan warga, mulai dari poli umum, kandungan, gigi, penyakit dalam hingga bedah. Yang penting bagi kami adalah masyarakat bisa terbantu tanpa harus menempuh perjalanan jauh," ujarnya.

Pelayaran dimulai dari Jakarta pada 19 September 2025 dan tiba di Kalimantan Timur pada 4 Oktober 2025. Selama 18 Oktober hingga 18 November 2025, ribuan warga menerima pemeriksaan medis di tiga kecamatan, yaitu Muara Pahu, Muara Kaman, dan Muara Ancalong. Total 3.920 penerima manfaat tercatat dalam misi kemanusiaan ini.

Rumah Sakit Apung Layani Warga Wilayah Lingkar Tambang

Head of Mining Engineering PT Tanur Jaya, Member of Bayan Group, Ricardo Simanjuntak, mengatakan,"Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menghadirkan layanan kesehatan gratis yang mudah diakses oleh masyarakat, terutama mereka yang tinggal di tiga wilayah lingkar tambang Bayan Group."

Upaya meningkatkan pelayanan kesehatan di Kaltim sejalan dengan agenda besar pemerintah daerah dalam percepatan eliminasi TBC. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, menjelaskan bahwa eliminasi TBC membutuhkan sinergi kuat dari seluruh sektor.

"Penyakit TBC harus bisa kita tuntaskan secara bersama-sama," katanya dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penanggulangan TBC di Samarinda seperti dikutip dari Antara pada Jumat, 28 November 2025.

Roadmap Eliminasi TBC 2030

Jaya melanjutkan bahwa roadmap eliminasi TBC 2030 menargetkan penurunan kasus hingga 50 persen dan pengurangan angka kematian secara signifikan.

Namun, tantangan seperti belum terintegrasinya pelaporan kasus, stigma masyarakat, hingga keterbatasan anggaran masih menjadi pekerjaan rumah besar.

"TBC tidak bisa ditangani sendiri. Kolaborasi lintas instansi, fasilitas kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci percepatan," ujarnya.

Saat ini, Indonesia masih berada di posisi kedua dunia dengan estimasi 1.060.000 kasus baru dan 134 ribu kematian per tahun berdasarkan Global TB Report 2023.

Kolaborasi berbagai pihak dinilai menjadi kunci. Jaya menyebut sejumlah inisiatif yang sudah berjalan, antara lain kerja sama Dinkes Kaltim dengan sejumlah pihak untuk membantu pasien TBC resisten obat, serta kolaborasi dengan sektor swasta seperti PT Bayan Resources dan doctorSHARE dalam memberikan dukungan nutrisi bagi pasien TBC sensitif obat.

"Kami juga melakukan edukasi berbasis komunitas dengan melibatkan tokoh masyarakat dan kader kesehatan sebagai bagian penting dalam pendekatan holistik penanganan TBC," tambah Jaya.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |