Sampah Makanan Diprediksi Melonjak saat Natal dan Tahun Baru

1 day ago 6

Liputan6.com, Jakarta Sekretaris Umum Indonesian Gastronomy Community (IGC), dr. Ray Wagiu Basrowi mengingatkan potensi lonjakan sampah makanan (food waste) jelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Sustainable eating index (indeks makan berkelanjutan) ketika ada selebrasi atau ketika ada hari-hari besar keagamaan itu lebih jelek. Karena perayaan hari besar di Indonesia maupun di Asia itu kan berbarengan secara integral dengan perayaan makanan yang berlimpah,” kata Ray kepada Health Liputan6.com dalam expert meeting di Jakarta, Sabtu (29/11/2025).

“Nah ini otomatis membuat sustainable eating index ini menjadi rendah sekali. Karena pasti dalam perayaan yang menggunakan makanan, itu porsi makan orang kan sama aja, sebelum dan sesudah hari raya itu sama aja, volume lambung enggak akan lebih besar kan, otomatis sisa makanan yang terbuang pun jauh lebih besar,” tambahnya.

Dia menilai, budaya masyarakat Indonesia yang biasa merayakan sesuatu dengan makanan perlu diedukasi bersama supaya bisa dicegah.

Lonjakan sisa makanan ini rata-rata terjadi di akhir tahun, Tahun Baru, dan hari besar keagamaan. Artinya, bukan hanya di hari Natal.

“Tahun Baru, Lebaran, 17-an (hari Kemerdekaan), biasanya ini dibarengi dengan peningkatan sisa makanan. Nah ini yang harus kita edukasi bersama,” jelas Ray.

Perayaan dan Kuantitas Makanan Berlebihan

Ray tak memungkiri, dari sisi budaya, orang Indonesia memang kerap merayakan segala sesuatu dengan makanan.

“Tapi ingat, merayakan sesuatu bukan dengan selebrasi volume atau kuantitas dari makanan. Yang dirayakan itu experience (pengalaman) dan bukan makanan. Volume makanan itu bukan kuantitas dari perayaan, tapi yang dirayakan adalah pengalaman.”

“Makanan itu (yang penting) aspek gizinya, pengalaman mindful eating-nya, jenis gizinya, dan bukan dari banyak-banyakan makanan. Siapa yang paling banyak bawa rendang, bawa gorengan, kalau dikit kayaknya kalah gitu, ini budaya yang harus kita kurangin bareng,” katanya.

Penyumbang Sisa Makanan Terbanyak Berasal dari Piring Sendiri

Ray juga menyampaikan, penyumbang sisa makanan terbanyak adalah di piring konsumen.

“Dapur itu sangat bisa dikontrol tapi piring makan konsumen itu sangat tidak bisa dikontrol, studi bilang orang Indonesia itu emotional eating-nya gede banget lebih dari 10. Nah kalau perilaku emotional eating itu tidak diintervensi, maka sisa makanan itu akan tetap banyak juga.”

“Jadi, salah satu gerakan hari ini adalah kita bikin supaya bagaimana emotional eating itu bisa diintervensi dengan regulasi dan advokasi supaya nanti kontributor besar sisa makanan dari piring konsumen itu bisa dicegah,” katanya dalam rapat bertajuk Penguatan Strategi Pengurangan Limbah Makanan untuk Gastronomi Berkelanjutan.

Dijelaskan bahwa jika ada satu butir nasi tersisa di piring, jika dikalikan dengan setengah penduduk Indonesia, maka jumlahnya bisa mencapai 9 ton.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |