Tak Cuma Bikin Gemuk, Junk Food Ternyata Ancam Kualitas Sperma

2 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Kualitas sperma yang menurun dapat menghambat proses pembuahan dan menjadi tantangan serius bagi pasangan suami istri yang sedang merencanakan kehadiran buah hati. Salah satu faktor penting yang kerap luput dari perhatian adalah pola makan dan gaya hidup sehari-hari.

Asupan nutrisi yang masuk ke tubuh setiap hari berperan besar dalam menjaga fungsi organ, termasuk organ reproduksi. Ketika tubuh mendapatkan nutrisi yang tepat, vitamin dan mineral akan membantu menjaga produksi dan kualitas sperma. Sebaliknya, pola makan yang buruk justru dapat berdampak negatif dan merusak kesehatan reproduksi pria.

Dilansir dari Business Insider pada Senin, 19 Januari 2026, sebuah studi besar pada tahun 2017 yang menganalisis sampel dari sekitar 43 ribu pria di berbagai negara menemukan fakta mengkhawatirkan. Jumlah sperma pria dilaporkan menurun lebih dari 50 persen dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

Meski penyebab pastinya masih terus diteliti, para ahli menilai pola makan tidak sehat, terutama konsumsi junk food secara berlebihan, menjadi salah satu faktor utama penurunan kesuburan pria.

Bahaya Junk Food terhadap Kesuburan

Penelitian terbaru yang dipresentasikan dalam konferensi European Society of Human Reproduction and Embryology menunjukkan hubungan erat antara jenis makanan dan kualitas sperma.

Studi yang melibatkan hampir 3.000 pemuda ini menemukan bahwa pria yang terbiasa mengonsumsi pola makan ala Barat seperti pizza, keripik, daging olahan, camilan tinggi lemak, hingga minuman berenergi memiliki jumlah sperma paling rendah.

Sebaliknya, mereka yang rutin mengonsumsi ikan, ayam, sayuran, dan buah-buahan justru memiliki kualitas dan jumlah sperma yang lebih baik.

Temuan ini menegaskan bahwa pola makan tidak hanya memengaruhi berat badan, tetapi juga berperan langsung terhadap kesuburan dan fungsi seksual pria.

Kebiasaan Sehari-hari yang Perlu Diwaspadai

Selain makanan, kebiasaan yang terlihat sepele juga dapat memengaruhi kesehatan testis dan produksi sperma.

Paparan panas berlebih, seperti sering berendam di air panas atau menggunakan celana dalam yang terlalu ketat, dapat meningkatkan suhu testis dan menurunkan kualitas sperma.

Pria yang memakai celana dalam model longgar seperti boxer diketahui memiliki konsentrasi sperma lebih tinggi dibandingkan mereka yang memakai pakaian ketat.

Kebiasaan menyimpan ponsel di saku celana depan juga perlu diwaspadai. Sebuah studi dalam Central European Journal of Urology menyebutkan bahwa radiasi ponsel dapat merusak DNA sperma dan menurunkan jumlahnya.

Pola tidur pun tak kalah penting. Pria yang tidur lebih awal, sebelum pukul 22.30, memiliki peluang lebih besar untuk memiliki sperma berkualitas dibandingkan mereka yang terbiasa begadang hingga larut malam.

Pengaruh Obat dan Kondisi Kesehatan

Tidak hanya kebiasan sehari-hari, beberapa obat yang umum dikonsumsi, seperti obat untuk mengatasi kerontokan rambut dan pembesaran prostat, serta antidepresan jenis SSRI, diketahui dapat memengaruhi produksi dan pergerakan sperma.

Selain itu, penyakit menular seksual seperti klamidia dan gonore yang tidak ditangani dengan baik dapat merusak saluran reproduksi pria secara permanen, meskipun sering kali tidak menunjukkan gejala.

Masalah berat badan juga menjadi faktor penting. Obesitas dikaitkan dengan perubahan bentuk sperma yang tidak normal, yang dapat menghambat proses pembuahan.

Risiko ini semakin meningkat jika disertai kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, serta paparan zat beracun seperti pestisida dan logam berat.

Para ahli menyarankan pria yang sedang merencanakan kehamilan untuk mulai memperbaiki pola makan dan gaya hidup sejak dini.

Namun, bagi mereka yang sedang menjalani pengobatan tertentu, penghentian obat harus selalu dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis profesional.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |