Tim Kesehatan Haji Gesit Tangani Kasus Darurat di Bandara Madinah

22 hours ago 5

Liputan6.com, Madinah - Tim kesehatan haji Indonesia bergerak cepat menangani sejumlah kasus darurat di Bandara Internasional Pangeran Muhammad bin Abdulaziz, Madinah, di tengah lonjakan kedatangan jemaah pada fase awal musim haji 2026.

Hingga Sabtu siang, (25/4/2026), waktu setempat, total 57 kelompok terbang (kloter) dengan 22.184 jemaah telah tiba di Arab Saudi. Dari jumlah itu, sebanyak 4.425 orang merupakan jemaah lanjut usia yang membutuhkan perhatian khusus selama proses kedatangan.

Aktivitas di bandara berlangsung padat dengan jadwal penerbangan hampir tanpa jeda. Dalam satu hari, sebanyak 16 kloter dijadwalkan mendarat secara berurutan selama 24 jam.

Di tengah tingginya arus kedatangan, tim kesehatan menangani sejumlah situasi darurat. Pada Jumat malam, (24/4/2026), seorang jemaah yang sakit langsung ditangani setibanya di bandara.

Sementara itu, pada Sabtu pagi, satu jemaah lainnya dilaporkan tidak sadarkan diri. Penanganan segera dilakukan secara kolaboratif antara tim kesehatan Arab Saudi dan tim kesehatan haji Indonesia.

Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara PPIH Arab Saudi, Abdul Basir, memastikan respons cepat menjadi prioritas utama dalam setiap kejadian. Ia menyebut, hingga saat ini, tidak ada laporan jemaah Indonesia yang meninggal dunia di area bandara.

​Pemerintah memberi perhatian khusus bagi jemaah kategori rentan. Data menunjukkan, kloter Padang (PDG 2) membawa jemaah lansia terbanyak, yakni 121 orang, disusul kloter Yogyakarta (YIA 3) dengan 115 lansia.

​Untuk memastikan kenyamanan, setiap kloter dikawal empat petugas pendamping yang terdiri dari unsur petugas kesehatan, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Kloter, serta Petugas Haji Daerah (PHD).

Pentingnya Menjaga Kondisi Fisik

Terpisah, dokter dari Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), M. Kadhafi, menekankan pentingnya menjaga kondisi fisik jemaah sejak sebelum keberangkatan hingga tiba di Tanah Suci, terutama terkait hidrasi, pergerakan tubuh, dan manajemen istirahat.

Ia menjelaskan, perjalanan panjang yang ditempuh jemaah menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi kesehatan. "Dari kabupaten ke embarkasi bisa ratusan kilometer, lalu di embarkasi bisa sampai 24 jam, kemudian penerbangan 9─10 jam. Jadi ini perjalanan yang sangat panjang," katanya di Madinah, Sabtu (25/4/2026).

Kadhafi mengingatkan jemaah untuk tetap memenuhi kebutuhan cairan tubuh selama perjalanan, meski banyak yang khawatir tentang sering buang air kecil. "Jangan takut kencing. Rata-rata jemaah itu takut minum karena takut ke toilet di pesawat, padahal yang benar itu minumnya sedikit-sedikit supaya bisa diserap tubuh," ia menjelaskan.

Peregangan Selama Penerbangan

Selain hidrasi, ia juga menyoroti pentingnya peregangan selama penerbangan guna mencegah risiko deep vein thrombosis (DVT), yaitu penyumbatan pembuluh darah akibat duduk terlalu lama. "Kalau duduk lama, apalagi yang punya riwayat penyakit seperti diabetes, darah bisa lebih kental dan berisiko terjadi DVT. Untuk mencegah itu, lakukan stretching tiap 2–3 jam," jelasnya.

Ia menyarankan jemaah melakukan gerakan ringan seperti memutar kaki atau berjalan di lorong pesawat saat tanda sabuk pengaman sudah dimatikan. "Jalan-jalan ringan itu bukan hanya mengurangi bosan, tapi juga mencegah risiko penggumpalan darah," tambahnya.

Setibanya di Arab Saudi, Kadhafi menilai kondisi jemaah yang tiba di Madinah relatif lebih aman karena jarak bandara ke hotel hanya sekitar 15–20 menit. Namun, ia mengingatkan potensi kelelahan lebih besar pada jemaah gelombang kedua yang mendarat di Jeddah.

Jangan Memaksakan Diri

"Dari Jeddah ke Makkah sekitar 100 kilometer. Normalnya 1–2 jam, tapi saat musim haji bisa sampai 12 jam karena macet," sebut Kadhafi.

Ia mengimbau jemaah, terutama lansia, untuk tidak memaksakan diri langsung menjalankan umrah wajib setibanya di Makkah. "Sebaiknya istirahat dulu 1–2 jam di hotel sebelum tawaf dan sa’i. Kalau dipaksakan, risikonya sangat besar,” katanya.

Kadhafi juga mengingatkan jemaah di Madinah agar mengatur aktivitas ibadah dengan bijak. Ia menyarankan jemaah memprioritaskan istirahat terlebih dahulu sebelum mengejar ibadah sunnah, seperti salat arbain.

"Kalau baru datang waktu zuhur, sebaiknya istirahat dulu. Zuhur dan asar bisa dijamak, lalu mulai aktivitas ke masjid saat kondisi sudah lebih siap, misalnya menjelang magrib,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi fisik harus menjadi pertimbangan utama, terutama bagi jemaah lanjut usia. “Kalau tubuh masih fit dan usia muda mungkin tidak masalah, tapi kalau sudah lansia, lebih baik istirahat dulu agar tidak kelelahan," tandas Kadhafi.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |