Kasus Dengue di Tempat Kerja Meningkat, Kemenaker Ungkap Celah yang Sering Terlewat

5 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Kasus dengue di lingkungan kerja menjadi sorotan serius pemerintah. Tidak hanya berdampak pada kesehatan karyawan, penyakit ini juga berpotensi mengganggu produktivitas perusahaan. Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemenaker RI) pun mengungkap masih ada celah yang kerap terlewat dalam upaya pencegahan di tempat kerja.

Direktur Bina Pengujian K3 Kemenaker, M. Yusuf menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah antisipatif melalui penguatan sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di perusahaan.

"Pertama, Kemenaker sebagai leading sector keselamatan dan kesehatan kerja mendukung aksi lawan dengue. Kedua, kita sudah punya ekosistem K3 di perusahaan, seperti manajer K3 dan serikat pekerja yang salah satu tugasnya menjaga sanitasi dan mencegah penyakit akibat kerja," ujar Yusuf dalam diskusi media di Jakarta belum lama ini.

Dia, mengungkapkan, beban dengue di Indonesia tidak bisa dianggap remeh. Data dari Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa biaya penanganan penyakit ini mencapai sekitar Rp3 triliun pada 2024. Lebih mengkhawatirkan lagi, sebanyak 44 persen kasus terjadi pada usia produktif.

"Ini jadi concern kita bersama, baik pemerintah, pengusaha, maupun komunitas, untuk menekan kasus dengue. Targetnya tentu zero kematian akibat dengue," ujarnya.

Senada dengan itu, Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, MKM mengatakan bahwa dengue masih menjadi ancaman besar, terutama bagi kelompok usia produktif.

"Dengue masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada kelompok usia produktif. Pencegahan perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari edukasi, pengendalian vektor, hingga kolaborasi lintas sektor," ujar Prima.

Lebih lanjut Prima, menambahkan, saat ini Kemenkes tengah menyiapkan tindak lanjut dari Strategi Nasional Penanggulangan Dengue (STRANAS) ke dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) guna memperkuat implementasi di lapangan.

"Pendekatan seperti SIAP Lawan Dengue mendukung upaya nasional menuju pengendalian dengue yang lebih efektif dan berkelanjutan. Keterlibatan semua pihak sangat penting untuk menurunkan beban penyakit ini," tambahnya.

Dampak Ekonomi Karyawan Kena Dengue

Namun, Yusuf mengakui bahwa dampak ekonomi langsung bagi perusahaan akibat karyawan yang terinfeksi dengue belum dihitung secara pasti. Meski begitu, dari berbagai kasus di lapangan, terlihat bahwa satu kasus saja bisa berdampak besar terhadap operasional.

"Memang belum ada perhitungan pasti. Tapi secara empiris, satu orang terkena dengue saja bisa berdampak luas, apalagi kalau tidak terdeteksi sejak awal," katanya.

Salah satu celah yang sering terlewat adalah pengawasan lingkungan kerja. Padahal, faktor sanitasi dan potensi genangan air menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran dengue.

"Pengawas Kemenaker melakukan inspeksi, salah satunya melihat aspek pencegahan penyakit akibat kerja. Kita cek sanitasi, apakah ada genangan atau titik lemah yang berpotensi jadi sarang nyamuk," ujar Yusuf.

Selain itu, pengujian lingkungan kerja juga dilakukan secara rutin, mencakup faktor fisika, kimia, dan biologi. Dalam konteks dengue, faktor biologi menjadi perhatian utama.

"Kalau ada hasil yang perlu diperbaiki, perusahaan kita minta untuk melakukan pembenahan. Ini dilakukan rutin, minimal setahun sekali oleh pemerintah, tapi di internal perusahaan pengawasan harus berjalan setiap hari," tambahnya.

Dengue dari Sisi Kesehatan Kerja

Dari sisi kesehatan kerja, Ketua Umum PERDOKI, dr. Agustina Puspitasari, Sp.Ok., Subsp.BioKO (K) mengingatkan pentingnya pendekatan preventif yang lebih komprehensif, termasuk imunisasi pekerja.

"Dengue bukan hanya memberikan beban kesehatan bagi individu, tetapi juga berdampak pada keluarga dan lingkungan kerja. Ketika seorang pekerja terinfeksi, dampaknya dapat meluas," kata Agustina.

Dia menjelaskan bahwa dampak tersebut tidak hanya pada proses pemulihan yang memakan waktu, tetapi juga gangguan pada aktivitas sehari-hari hingga produktivitas kerja.

"Sehingga upaya pencegahan perlu diperkuat secara komprehensif dengan upaya promotif seperti edukasi dan pengendalian faktor risiko di lingkungan kerja, sehingga pekerja terlindungi, tetap sehat, dan produktif," tambahnya.

Yusuf juga menekankan bahwa ancaman dengue tidak hanya berasal dari lingkungan kerja. Penularan bisa terjadi dari rumah dan terbawa ke kantor tanpa disadari.

"Orang bisa sudah terinfeksi dari rumah, lalu datang ke kantor saat gejalanya masih ringan. Di situ bisa terjadi penularan. Jadi ancamannya sama, baik di rumah maupun tempat kerja," katanya.

Oleh sebab itu, edukasi menjadi kunci penting. Yusuf menyoroti masih banyak anggapan bahwa dengue hanya muncul saat musim hujan, padahal nyamuk berkembang biak setiap hari.

"Perlu dipahami bahwa ini bukan hanya penyakit anak-anak, tapi juga orang dewasa. Pencegahan, termasuk vaksinasi, jadi langkah penting karena sifatnya lebih hemat dan preventif," pungkas Yusuf.

Dengan penguatan K3, peningkatan kesadaran, dan kolaborasi lintas sektor, pemerintah berharap kasus dengue di tempat kerja bisa ditekan secara signifikan.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |