9 Tanda Kecemasan Berlebih pada Remaja, Orang Tua Perlu Waspada

1 day ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Kecemasan berlebih berbeda dengan gugup biasa. Gugup hanya datang sesaat sementara kecemasan berlebih cenderung muncul terus-menerus, sulit dikendalikan, dan disertai gejala fisik maupun emosional.

Dokter spesialis kedokteran jiwa/psikiater Eduardo Renaldo dari RS EMC Tangerang, mengatakan setidaknya ada sembilan tanda kecemasan berlebih pada remaja yang perlu diwaspadai, yakni:

  1. Sulit berkonsentrasi karena kekhawatiran
  2. Mudah tegang, gelisah atau panik
  3. Merasa hilang kendali atas dirinya
  4. Ketakutan berlebih sesuatu yang buruk akan terjadi
  5. Sering merasa mudah lelah dan kehilangan semangat
  6. Menarik diri dari lingkungan sosial
  7. Gangguan tidur (sulit tidur atau tidur berlebih)
  8. Keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut tanpa sebab jelas
  9. Munculnya pikiran menyakiti atau membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

“Beberapa remaja mungkin kesulitan mengungkapkan perasaannya secara langsung. Oleh karena itu, penting mengenali tanda-tanda kecemasan berlebih,” kata Eduardo mengutip laman EMC, Senin (26/1/2026).

Eduardo menjelaskan, cemas adalah emosi yang wajar dan bisa dialami oleh siapa saja, termasuk remaja. Perasaan ini biasanya muncul saat menghadapi situasi baru di lingkungan, ujian, atau tantangan sosial dalam pergaulan.

Namun, kecemasan menjadi masalah ketika muncul secara berlebihan dan berkepanjangan, terutama ketika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari serta hubungan dengan orang lain, baik dalam lingkungan pertemanan maupun keluarga.

“Penting untuk memahami perbedaan antara rasa gugup sesaat dan kecemasan berlebih pada remaja, karena kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental, prestasi akademik, hingga hubungan sosial.”

Masa remaja sendiri merupakan fase yang rentan terhadap kecemasan karena adanya perubahan fisik, emosional, dan sosial yang terjadi secara bersamaan.

Gugup sesaat biasanya muncul dalam situasi tertentu, seperti presentasi di kelas atau bertemu orang baru, dan akan mereda setelah situasi tersebut berlalu. Sementara itu, kecemasan berlebih cenderung muncul terus-menerus, sulit dikendalikan, dan disertai gejala fisik maupun emosional.

“Jika rasa cemas membuat remaja sulit berkonsentrasi, mudah panik, atau menghindari aktivitas yang sebelumnya bisa dilakukan dengan baik, kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih serius,” kata Eduardo.

Penyebab Kecemasan Berlebih pada Remaja

Ada berbagai faktor yang dapat memicu kecemasan berlebih pada remaja, baik dari dalam diri maupun lingkungan sekitar, yakni:

Perubahan Hormon dan Perkembangan Otak

Perubahan hormon selama masa pubertas memengaruhi emosi dan cara remaja merespons stres. Di sisi lain, perkembangan otak yang belum sepenuhnya matang khususnya antara kemampuan mengenali emosi dan mengontrolnya membuat remaja lebih rentan mengalami kesulitan dalam mengelola emosi secara stabil.

Paparan Media Sosial dan Perbandingan Diri

Media sosial sering mendorong remaja membandingkan diri dengan orang lain. Hal ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan kecemasan, terutama jika remaja merasa tidak cukup baik karena ketakutan terisolasi atau kehilangan status sosial.

Tekanan Akademik dan Tuntutan Sosial

Tuntutan untuk berprestasi di sekolah, menghadapi ujian, serta keinginan untuk diterima dalam lingkungan pertemanan dapat menjadi sumber stres yang memicu kecemasan.

Ekspektasi dari Lingkungan Sekitar

Tekanan dari orang tua, guru, atau lingkungan misalnya tingginya hukuman dan minimnya pujian dapat menciptakan suasana yang tidak aman bagi remaja.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan psikologis, menurunkan rasa percaya diri, serta menghambat perkembangan emosi yang sehat. Dalam atmosfer seperti ini, remaja menjadi lebih rentan mengalami kecemasan, kesulitan mengekspresikan diri, serta hambatan dalam menjalin dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.

Cara Atasi Kecemasan Berlebih pada Remaja

Penanganan kecemasan pada remaja perlu dilakukan secara berkelanjutan. Berikut beberapa langkah yang dapat membantu:

Grounding

Teknik grounding membantu remaja kembali terhubung dengan kondisi “di sini dan saat ini”, sehingga pikiran tidak terus-menerus terjebak dalam kekhawatiran.

Menjaga Pola Tidur dan Istirahat yang Cukup

Tidur yang cukup membantu menstabilkan emosi dan meningkatkan kemampuan tubuh dalam menghadapi stres.

Membiasakan Pola Makan Teratur dan Seimbang

Asupan nutrisi yang baik berperan penting dalam menjaga keseimbangan hormon dan kesehatan mental.

Mengajarkan Teknik Pernapasan dan Relaksasi Sederhana

Latihan pernapasan dalam atau relaksasi ringan dapat membantu meredakan ketegangan saat kecemasan muncul.

Mengurangi Paparan Media Sosial Berlebihan

Membatasi waktu penggunaan media sosial dapat mengurangi tekanan sosial dan kebiasaan membandingkan diri.

Mendorong Aktivitas Fisik dan Hobi Positif

Olahraga dan hobi membantu melepaskan hormon endorfin yang dapat meningkatkan suasana hati.

Memberikan Dukungan Emosional secara Konsisten

Remaja membutuhkan rasa aman dan dukungan emosional dari orang terdekat tanpa merasa dihakimi.

Hubungan interpersonal yang saling mendukung dapat memberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri. Sehingga dalam suasana ini, seorang remaja cenderung dapat mengembangkan sikap dan emosi lebih positif yang memudahkan mereka untuk menyesuaikan diri dalam lingkup sosial.

Menghindari Tekanan dan Tuntutan yang Berlebihan

Menyesuaikan ekspektasi dengan kemampuan remaja membantu mengurangi beban mental yang dirasakan.

Mengajak Berbicara Terbuka tentang Perasaan

Membiasakan komunikasi terbuka tanpa menghakimi dapat membantu remaja mengekspresikan emosi dan merasa dipahami.

Mencari Bantuan Profesional jika Diperlukan

Jika kecemasan dirasa sulit dikendalikan atau sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, bantuan profesional sangat dianjurkan.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |