[Kolom Pakar] Dokter Ray Wagiu Basrowi: Peran Ganda Ibu Pekerja di Indonesia

7 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Jika satu pekerjaan saja bisa melelahkan, bagaimana dengan ibu yang setiap hari menjalani dua peran tanpa jeda?

Di Indonesia, ini adalah realitas yang dilakoni oleh jutaan ibu pekerja yang hidup di antara tuntutan karier, pengasuhan anak, dan pekerjaan rumah tangga. Istilahnya terdengar sederhana, peran ganda, tetapi dalam praktiknya, banyak yang berubah menjadi beban ganda ibu pekerja. Ini merupakan isu serius terhadap kesehatan ibu, kesehatan mental, dan tentunya kesehatan keluarga.

Ambil contoh satu aspek saja yaitu peran ibu menyusui pada pekerja perempuan. Penelitian jangka panjang bidang kedokteran kerja yang dilakukan Basrowi dkk., bersama Prodi Kedokteran Kerja FKUI dan Health Collaborative Center (HCC) dalam rentang waktu 2013 hingga 2020 menunjukkan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi ibu menyusui di tempat kerja.

Dari studi tersebut diketahui banyak ibu pekerja mengalami keterbatasan waktu, ruang, dan dukungan untuk menyusui secara optimal. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada keberhasilan pemberian ASI eksklusif, tetapi juga berkaitan dengan tingkat kelelahan, stres, dan bahkan keputusan untuk berhenti bekerja lebih awal.

Pasti banyak yang akan kaget ketika mengetahui temuan studi ini yang menunjukkan fakta ternyata masih terdapat 4 dari 10 ibu buruh pabrik yang harus menyusui di toilet pabrik karena ruang laktasi yang kurang memadai. Bahkan hampir 70 persen pekerja perempuan di sektor manufaktur di Indonesia masih sulit mendapatkan waktu izin memompa ASI diluar jam makan siang.

Lebih jauh lagi, jika kita melihat dari sudut pandang psikososial, beban ganda ibu pekerja dapat dijelaskan sebagai bentuk tekanan kronis yang berlapis yang berpotensi menciptakan konflik peran di dalam diri ibu pekerja. Ada teori yang sering menjadi rujukan kesehatan global, yaitu role strain theory, konflik antara peran sebagai pekerja dan ibu menciptakan ketegangan yang terus-menerus. Sementara dalam praktik sehari-hari, ibu sering tidak memiliki ruang untuk memilih, karena kedua peran tersebut sama-sama tidak bisa ditinggalkan.

Ibu Pekerja di Indonesia karena Faktor Ekonomi

Di Indonesia, tekanan ini menjadi semakin parah karena adanya tekanan sosial ekonomi. Banyak ibu bekerja bukan semata untuk aktualisasi diri, tetapi bekerja karena memang benar-benar harus membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Dalam situasi seperti ini, pilihan menjadi sangat terbatas: tetap bekerja dengan segala konsekuensi kesehatan, atau berhenti bekerja dengan risiko ekonomi yang tidak kecil. Di sinilah beban ganda berubah menjadi tekanan struktural.

Sayangnya, tekanan ini sering kali tidak terlihat karena tersembunyi di balik rutinitas harian yang dianggap “biasa”.

Dalam banyak kasus, ibu tidak menyadari bahwa kelelahan yang dirasakan adalah akumulasi dari beban kerja yang tidak seimbang. Mereka tetap menjalani hari demi hari, memenuhi tuntutan pekerjaan dan keluarga, tanpa benar-benar memiliki waktu untuk pulih.

Belum lagi beban pekerjaan ganda ini diperparah dengan kondisi gizi ibu yang masih sangat problematik. Angka anemia defisiensi besi diantara ibu pekerja sesuai data dari Prodi Magister Ilmu Kedokteran Kerja - FKUI tahun 2024 masih lebih tinggi dibanding rata-rata populasi perempuan dewasa di negara ini. Diantara mereka juga tidak mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang.

Kondisi ini tentunya tidak bisa dipandang sebagai masalah kecil.

Dalam perspektif kesehatan ibu pekerja di Indonesia, kombinasi antara beban ganda, kelelahan kronis, dan status gizi yang tidak optimal menciptakan risiko kesehatan yang berlapis dan saling memperkuat. Secara ilmiah, anemia defisiensi besi pada ibu pekerja bukan hanya menyebabkan rasa lelah biasa. Anemia berhubungan dengan penurunan kapasitas oksigen dalam darah, yang berdampak pada penurunan konsentrasi dan produktivitas kerja, meningkatnya risiko fatigue dan burnout, gangguan fungsi kognitif dan daya ingat, hingga peningkatan risiko komplikasi pada kehamilan dan persalinan.

Dan semakin memprihantinkan adalah karena kondisi ini sering tidak terdeteksi karena gejalanya dianggap “normal”, seperti mudah lelah, pusing, atau kurang fokus. Padahal, dalam jangka panjang, ini dapat menurunkan kualitas hidup ibu dan memperburuk siklus double burden ibu pekerja.

Work-life Balance pada Ibu Pekerja Bukan Sekadar Gaya Hidup

Di sinilah pentingnya memahami bahwa work-life balance dan asupan nutrisi seimbang pada ibu pekerja bukan sekadar gaya hidup, tetapi bagian dari intervensi kesehatan. Ketika keseimbangan ini tidak tercapai, maka yang terjadi adalah penurunan produktivitas, peningkatan risiko absensi, dan dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia.

Namun, solusi terhadap masalah ini tidak bisa hanya dibebankan pada individu ibu. Edukasi kesehatan perlu berjalan beriringan dengan perubahan sistem. Pemenuhan kebutuhan biologis ibu sebagai prioritas kesehatan kerja harus menjadi prioritas, dan ini mencakup waktu istirahat yang cukup, akses nutrisi yang baik, serta dukungan untuk menyusui di tempat kerja.

Pendekatan kebijakan berbasis kesehatan ibu pekerja juga harus menajdi investasi penting di tempat kerja. Tempat kerja perlu melihat ibu bukan hanya sebagai pekerja, tetapi sebagai individu dengan kebutuhan biologis dan sosial yang spesifik. Ini termasuk fleksibilitas kerja, fasilitas laktasi yang layak, dukungan nutrisi selama waktu kerja, serta budaya kerja yang suportif.

Dari sini kita kemudian bisa berharap agar peran ganda ibu pekerja dapat menjadi modal produktivitas dan sebaliknya tidak menjadi beban ganda. Namun, harapan ini tidak akan terwujud jika kita masih melihat peran ganda ibu pekerja di Indonesia hanya sebagai cerita individual tentang ketangguhan dan kegigihan dalam bekerja, tanpa menyentuh akar masalahnya.

Hal yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang dari sekadar mengagumi individu ibu pekerja yang tangguh menjadi semangat memperbaiki sistem.

Kesehatan Ibu Pekerja Harusnya Jadi Indikator Pembangunan

Penting untuk mulai menempatkan kesehatan ibu pekerja sebagai indikator pembangunan. Selama ini, keberhasilan sering diukur dari angka partisipasi kerja perempuan atau produktivitas ekonomi. Padahal, indikator seperti prevalensi anemia, tingkat stres, kualitas tidur, dan kesejahteraan mental ibu pekerja sama pentingnya untuk mencerminkan kualitas pembangunan manusia.

Kita perlu mulai melihat bahwa peran ganda ibu pekerja bukan hanya tentang kemampuan multitasking, tetapi tentang batas biologis dan psikologis manusia yang harus dihormati.

Tidak ada tubuh yang dirancang untuk terus bekerja tanpa jeda, tidak ada pikiran yang bisa terus kuat tanpa ruang untuk pulih. Jika sistem tidak berubah, maka yang terjadi bukan peningkatan produktivitas, melainkan penurunan kualitas hidup yang perlahan tapi pasti. Di balik setiap ibu yang tetap bekerja, tetap mengurus keluarga, dan tetap terlihat “baik-baik saja”, ada tubuh yang diam-diam lelah, perlu didukung, bukan hanya diharapkan kuat.

 ** Penulis adalah Ketua Health Collaborative Center (HCC) Indonesia serta Medical and Scientific Affairs Director of Danone Specialized Nutrition Indonesia

Read Entire Article
Helath | Pilkada |