Hari Gizi Nasional 2026, Kemenkes Rilis Logo dan Link untuk Mengunduhnya

4 days ago 24

Liputan6.com, Jakarta - Menyambut Hari Gizi Nasional (HGN) 2026 yang jatuh pada 25 Januari, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merilis logo serta tautan untuk mengunduhnya.

Logo Hari Gizi Nasional ke-66 berupa gambar piring berisi makanan lokal. Terdiri dari nasi putih, tahu, tempe, telur ceplok, dua potong mentimun, dua irisan tomat, dua lembar selada, dan ikan goreng.

Logo piring ini diapit oleh gambar garpu dan sendok melengkung di kiri dan kanannya. Di bawah logo, ada gambar daun seperti tunas dan tulisan 'HGN2O26'. Logo HGN 2026 ini senada dengan tema yang diusung yakni Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal. Tulisan tema itu pun disertakan di bagian bawah logo.

Kemenkes RI mempersilakan semua pihak mengunduh logo tersebut untuk digunakan dalam acara peringatan HGN 2026 di seluruh daerah. Logo dapat diunduh melalui tautan berikut: https://ayosehat.kemkes.go.id/hari-gizi-nasional-2026-logo.

Kemenkes menerangkan, peringatan Hari Gizi Nasional merupakan momentum penting untuk menggalang kepedulian sekaligus meningkatkan komitmen berbagai pihak dalam mewujudkan Indonesia Sehat. Upaya ini dilakukan melalui penerapan konsumsi gizi seimbang serta dukungan terhadap produksi pangan lokal yang berkelanjutan.

"Peringatan ini menjadi sarana strategis dalam penyebarluasan informasi dan edukasi gizi kepada masyarakat secara luas," tulis Kemenkes di laman resminya, dikutip pada Jumat (23/1/2026).

Sehat Dimulai dari Piringku

Selain mengusung tema utama, Kemenkes juga mengajak masyarakat menerapkan slogan 'Sehat Dimulai dari Piringku'.

Tema dan slogan tersebut menegaskan bahwa pemenuhan gizi seimbang dapat dimulai dari pilihan makanan sehari-hari, dengan mengutamakan pangan lokal yang mudah diakses, bernilai gizi tinggi, dan sesuai dengan budaya setempat.

Melalui pendekatan ini, masyarakat diharapkan semakin sadar akan pentingnya pola makan sehat sejak dari rumah. Kampanye Hari Gizi Nasional 2026 didukung melalui berbagai kegiatan edukatif dan promotif, baik secara langsung di masyarakat maupun melalui platform digital.

Langkah ini bertujuan memperluas jangkauan pesan gizi seimbang agar dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.

Untuk meningkatkan partisipasi publik, Kemenkes juga mengajak masyarakat menggunakan tagar resmi #HGN66, #HGN2026, #HariGiziNasional2026, dan #PenuhiGiziSeimbangdariPanganLokal di media sosial.

Penggunaan tagar ini diharapkan dapat memperkuat gerakan bersama menuju masyarakat Indonesia yang lebih sehat dan bergizi seimbang.

Sejarah Hari Gizi Nasional

Dilihat dari sisi sejarah, upaya perbaikan gizi masyarakat telah dimulai sejak 1950, yaitu saat Menteri Kesehatan Dokter J Leimena Bapak Gizi Indonesia mengangkat Prof. Poorwo Soedarmo sebagai kepala Lembaga Makanan Rakyat (LMR).

Waktu itu, LMR lebih dikenal sebagai Instituut Voor Volksvoeding (IVV) yang merupakan bagian dari Lembaga Penelitian Kesehatan yang dikenal sebagai Lembaga Eijkman.

Hari Gizi Nasional diselenggarakan untuk memperingati dimulainya pengkaderan tenaga gizi Indonesia dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan oleh LMR pada 25 Januari 1951.

Sejak saat itu pendidikan tenaga gizi terus berkembang pesat di banyak perguruan tinggi di Indonesia. Kemudian disepakati bahwa tanggal 25 Januari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional Indonesia.

Hari Gizi Nasional Pertama

Hari Gizi Nasional pertama kali diadakan oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada pertengahan tahun 1960-an, kemudian dilanjutkan oleh Direktorat Gizi Masyarakat sejak tahun 1970-an hingga sekarang.

Tema besar HGN di era RPJMN 2015-2019 adalah Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi. Peringatan HGN merupakan momentum penting dalam menggalang kepedulian dan meningkatkan komitmen dari berbagai pihak untuk bersama membangun gizi menuju bangsa sehat berprestasi melalui gizi seimbang dan produksi pangan berkelanjutan, sehingga dapat turut mendorong pencapaian RPJMN bidang kesehatan.

Menjelang berakhirnya periode RPJMN 2015-2019, Indonesia mengalami perbaikan dalam hal prevalensi masalah gizi khususnya prevalensi gizi kurang dan stunting.

Berdasarkan Riskesdas 2013-2018, meskipun prevalensinya masih tinggi dan di atas ambang batas WHO, prevalensi gizi kurang dan stunting menurun berturut-turut dari 19.6 persen menjadi 17.7 persen dan dari 37.2 persen menjadi 30.8 persen.

Di awal 2026 ini, prevalensi stunting sudah berada di bawah 20 yakni 19,8 persen dan perjuangan memperbaiki gizi anak bangsa masih berlanjut.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |