Pertanyaan Khas Lebaran yang Bikin Lelah Mental, Kapan Nikah?

7 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Kebahagiaan di momen Lebaran kerap ternodai oleh pertanyaan-pertanyaan yang memicu lelah mental.

“Kapan menikah? Sudah punya anak? Kerja di mana? Sudah punya rumah?” kata psikolog sekaligus dosen Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Nur Islamiah, mencontohkan.

Psikolog yang akrab disapa Mia menyampaikan, Lebaran identik dengan momen berkumpul bersama keluarga, mempererat silaturahmi, dan merasakan kebahagiaan bersama orang-orang terdekat. Namun di balik suasana hangat tersebut, tidak sedikit orang yang justru merasakan tekanan, rasa minder, hingga kelelahan secara fisik maupun emosional.

Situasi ini kerap muncul saat berkumpul dengan keluarga besar. Berbagai pertanyaan pribadi seperti yang disebutkan di atas sering kali terlontar dan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bagi sebagian orang.

Selain itu, perubahan rutinitas selama Lebaran yang cukup drastis, ditambah tekanan sosial serta ekspektasi budaya, juga dapat memicu stres. Aktivitas menerima tamu tanpa jeda atau menghadiri banyak undangan membuat sebagian orang merasa kelelahan secara mental.

Untuk itu, Mia membagikan sejumlah cara untuk membantu mengelola stres selama perayaan Lebaran.

Menurutnya, salah satu langkah penting adalah mengatur ekspektasi diri dengan menetapkan batas psikologis atau psychological boundaries.

“Kita tidak punya kewajiban dan memang tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Sering kali kita merasa harus selalu tersenyum, melayani tamu, dan menjaga suasana,” kata Mia mengutip keterangan resmi, Rabu (18/3/2026).

Kenali Batas Diri

Mia menjelaskan, ketika suasana Lebaran terasa sangat ramai, penting bagi seseorang untuk mengenali batas dirinya. Misalnya dengan memilih percakapan yang ingin diikuti atau mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri tanpa merasa bersalah.

“Menetapkan batas waktu dan energi untuk bersosialisasi bukan berarti tidak menghargai orang lain, melainkan bentuk upaya menjaga kesehatan mental,” paparnya.

Mia juga menekankan pentingnya memberi ruang bagi diri sendiri di tengah aktivitas silaturahmi. Menurutnya, ruang tersebut diperlukan untuk menjaga kapasitas emosional agar tidak mudah merasa lelah atau tersinggung.

“Memberi ruang bukan berarti menjauh, tetapi cara untuk memelihara kapasitas emosional. Tanpa ruang itu, kita lebih mudah merasa lelah, tersinggung, bahkan merasa kosong meski dikelilingi banyak orang,” jelasnya.

Waktu Kumpul Keluarga Perlu Seimbang dengan Me Time

Ia menambahkan bahwa keseimbangan antara kebersamaan dengan keluarga dan waktu untuk diri sendiri sangat penting. Salah satu cara sederhana adalah menyempatkan waktu sejenak untuk diri sendiri, seperti bangun lebih pagi untuk menikmati ketenangan atau beristirahat beberapa menit di kamar.

Tekanan sosial yang muncul saat Lebaran, seperti pertanyaan mengenai pekerjaan atau pencapaian hidup, juga dapat menjadi beban mental. Untuk menyikapinya, Mia menyarankan jawaban yang tetap sopan namun menjaga batas pribadi, misalnya dengan mengatakan: “Masih dalam proses, mohon doanya, ya.”

“Jawaban seperti ini cukup untuk menjaga kenyamanan tanpa harus menjelaskan terlalu banyak,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar seseorang tidak mengabaikan perasaan lelah atau tertekan yang muncul. Menurutnya, perasaan tersebut wajar meskipun berada dalam suasana yang bahagia.

“Tidak apa-apa merasa lelah di tengah suasana yang bahagia. Validasi perasaan itu penting. Carilah cara sederhana untuk menenangkan diri, seperti berjalan sebentar, berwudu, atau mengambil waktu untuk beribadah dengan lebih khusyuk,” ujarnya.

Bagi yang Merayakan Lebaran Seorang Diri

Bagi mereka yang merayakan Lebaran seorang diri, Bu Mia menyebut rasa kesepian mungkin akan lebih terasa, terutama ketika melihat orang lain merayakan bersama keluarga besar. Namun, ia menegaskan bahwa perasaan tersebut merupakan hal yang wajar.

Ia menyarankan agar individu tetap menjaga koneksi emosional dengan orang terdekat, meskipun tidak dapat bertemu secara langsung.

“Hubungi orang yang disayangi, lakukan panggilan video meski hanya sebentar. Yang terpenting, jangan memendam semuanya sendirian,” katanya.

Menurut Mia, langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu seseorang tetap merasa terhubung dan mengurangi rasa kesepian di tengah suasana perayaan.

Ia pun menegaskan bahwa Lebaran bukanlah ajang perlombaan untuk terlihat paling bahagia atau paling sukses.

“Kita tidak harus selalu kuat dan tidak perlu merasa harus sempurna. Memberi ruang untuk diri sendiri justru merupakan bentuk kekuatan emosional yang matang,” pungkasnya.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |