Liputan6.com, Jakarta - Program Keluarga SIGAP resmi menyelesaikan fase perluasan ke Brebes, Jawa Tengah; Sukabumi, Jawa Barat; serta Banjar, Kalimantan Selatan, setelah mencatatkan hasil positif pada fase percontohan. Program ini merupakan inisiatif kolaboratif yang mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat praktik kesehatan keluarga guna melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah.
Keluarga SIGAP berfokus pada tiga perilaku utama yang saling terkait, yaitu imunisasi, cuci tangan pakai sabun (CTPS), serta pemenuhan gizi sesuai usia bagi anak di bawah dua tahun (Baduta). Ketiga aspek tersebut dijalankan secara terintegrasi melalui layanan kesehatan primer yang dekat dengan masyarakat.
Keseluruhan fase program tersebut dijalankan melalui kemitraan lintas sektor antara Gavi, the Vaccine Alliance; Unilever; dan The Power of Nutrition, bersama pemerintah serta sistem kesehatan di tingkat pusat dan daerah. Keluarga SIGAP tidak membangun sistem baru, melainkan memperkuat platform yang sudah digunakan keluarga, seperti Posyandu, kunjungan rumah, pendidikan anak usia dini, serta kanal digital, agar pesan kesehatan lebih mudah diterima dan diterapkan.
Dalam acara diseminasi pembelajaran Program SIGAP, Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas, dr. Niken Wastu Palupi, menegaskan bahwa program ini sejalan dengan prioritas nasional di bidang kesehatan.
“Di Kementerian Kesehatan, prioritas kita yaitu ke Pilar Pertama: Layanan Primer, melakukan upaya promotif dan preventif. Melalui Keluarga SIGAP, masyarakat tidak sekadar tahu soal kesehatan, tapi benar-benar mengubah perilaku mereka sehari-hari. Jika kita berhasil memperkuat layanan primer melalui Keluarga SIGAP, kita sedang menyiapkan pondasi bagi Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Seiring perluasan program, Keluarga SIGAP menghadirkan pembelajaran penting mengenai bagaimana perubahan perilaku terintegrasi dapat dijalankan melalui sistem pelayanan kesehatan primer, termasuk area kemajuan yang paling menonjol, faktor pendukung keberhasilan, serta respons keluarga ketika dukungan diberikan secara konsisten.
Imunisasi Rutin Menguat, Dosis Akhir Semakin Lengkap
Program Keluarga SIGAP mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat imunisasi rutin di Indonesia dan mencatatkan peningkatan cakupan di seluruh wilayah scale-up. Secara rata-rata, cakupan imunisasi dasar anak meningkat sekitar 15%. Kabupaten Banjar menjadi daerah dengan peningkatan paling signifikan, dari 37% menjadi 59%, yang berarti hampir 6 dari 10 anak kini telah terlindungi, dibandingkan kurang dari 4 dari 10 sebelumnya.
Meningkatnya kepercayaan terhadap vaksin mendorong lebih banyak orang tua untuk kembali ke fasilitas kesehatan dan menyelesaikan jadwal imunisasi anak. Hal ini terlihat dari hampir dua kali lipatnya cakupan dosis akhir pneumonia di Brebes serta capaian booster polio di Banjar yang mencapai sekitar 80%.
Peningkatan kepercayaan ini berkaitan erat dengan penyampaian pesan imunisasi yang terintegrasi dengan praktik pengasuhan sehari-hari lainnya. Augustin Flory, Managing Director of Innovative Partnerships di Gavi, the Vaccine Alliance, menyampaikan,
“Keluarga SIGAP menunjukkan bagaimana agenda imunisasi nasional Indonesia dapat diperkuat melalui koordinasi lintas sektor. Dengan mengintegrasikan imunisasi ke dalam praktik pengasuhan sehari-hari seperti gizi dan kebersihan, program ini membantu membangun kepercayaan terhadap vaksin dan mendorong lebih banyak keluarga menyelesaikan imunisasi rutin, sehingga anak terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah seperti polio dan pneumonia.”
Pendekatan terintegrasi tersebut juga berdampak pada pemahaman orang tua. Pengasuh menunjukkan pemahaman yang lebih baik terkait efek samping ringan vaksin, melaporkan lebih sedikit kunjungan ke fasilitas kesehatan untuk reaksi ringan, serta lebih konsisten dalam menyelesaikan jadwal imunisasi. Lebih dari 80% orang tua pengguna WhatsApp Bot SIGAP juga memilih menerima pengingat imunisasi yang dipersonalisasi.
Kebiasaan CTPS Menguat, Peran Ayah Ikut Meningkat
Pembelajaran pada aspek CTPS menunjukkan bahwa perubahan perilaku berlangsung lebih cepat ketika keluarga memiliki motivasi dan sarana yang memadai. Hampir 7% lebih banyak rumah tangga SIGAP kini memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun, sehingga praktik CTPS lebih mudah dilakukan dalam aktivitas sehari-hari.
Lingkungan yang mendukung tersebut mendorong peningkatan kepatuhan CTPS pada enam momen penting, termasuk sebelum memberi makan anak dan setelah membersihkan anak, dengan kenaikan kepatuhan sebesar 6,4%. Alasan mencuci tangan juga bergeser, dengan semakin banyak orang tua menyebut kesehatan dan kebersihan sebagai motivasi utama. Keterlibatan ayah meningkat sebesar 13%, menunjukkan peran yang semakin aktif dalam menjaga kebersihan keluarga.
Menanggapi temuan tersebut, Parnil Sarin, Global Brand Director Lifebuoy, menyampaikan, “SIGAP menunjukkan bagaimana perilaku perlindungan utama, yaitu imunisasi, cuci tangan pakai sabun, dan gizi, dapat menjadi kebiasaan nyata ketika keluarga bisa melihat, merasakan, dan mempraktikkannya dalam rutinitas sehari-hari. Dengan memperluas pembelajaran dari rumah dan sekolah ke platform digital serta media massa, program ini membantu mempertahankan perilaku tersebut dalam skala yang lebih luas dan menjadikan CTPS bagian dari perjalanan kesehatan anak.”
Praktik Gizi Anak Membaik pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Pada aspek nutrisi, Keluarga SIGAP mencatatkan peningkatan praktik pemberian makan anak selama 1.000 hari pertama kehidupan. Angka inisiasi menyusu dini meningkat sebesar 4,4%, sementara proporsi anak yang memenuhi Keanekaragaman Pangan Minimum naik 6,8%. Capaian ini mencerminkan kualitas pola makan yang lebih baik dan keputusan pemberian makan yang semakin sesuai usia.
Peningkatan tersebut didukung oleh pemanfaatan alat bantu praktis yang disesuaikan dengan dinamika keluarga. Sebanyak 96% pengguna menyatakan alat pelacak gizi SIGAP membantu mereka memahami pola makan harian anak, termasuk konsumsi camilan tidak sehat, sekaligus mendorong keterlibatan bersama ibu dan ayah dalam pemenuhan gizi anak.
Chris Skeet, CEO The Power of Nutrition, menyampaikan, “SIGAP mencerminkan kekuatan kemitraan dalam mendukung gizi di tempat yang paling penting, yaitu di rumah, setiap hari. Dengan menggabungkan alat praktis, pembelajaran bersama bagi orang tua, dan keterlibatan tenaga kesehatan di lapangan, program ini menunjukkan bagaimana pesan berbasis bukti dan komunikasi perubahan perilaku dapat membantu keluarga mempertahankan praktik pemberian makan yang lebih sehat dan membangun ketahanan jangka panjang.”
Media dan Digital Perluas Jangkauan Edukasi Kesehatan
Pada fase scale-up, Keluarga SIGAP juga memanfaatkan media dan platform digital untuk memperluas jangkauan pembelajaran di luar interaksi langsung. Dalam periode 1 Mei hingga 30 November 2025, iklan layanan masyarakat SIGAP menjangkau lebih dari 4,7 juta orang secara nasional melalui televisi dan penempatan built-in.
Di ranah digital, lebih dari 1,14 miliar impresi konten SIGAP disalurkan melalui Meta, YouTube, dan TikTok di Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Kalimantan Selatan. Di YouTube, tercatat 8,1 juta tayangan selesai dengan retensi yang kuat terhadap tiga perilaku utama SIGAP, sementara iklan bumper enam detik mencatat lebih dari 130 juta tayangan selesai.
Kampanye Always On di Instagram dan Facebook menghasilkan 722 juta impresi dan menjangkau lebih dari 40 juta orang. Konten influencer yang menggabungkan tren, cerita keseharian, humor, serta suara ahli terpercaya menjangkau 17,9 juta orang di Instagram dan 11,8 juta orang di TikTok.
Dengan dukungan keterlibatan komunitas, pelatihan interaktif, serta penguatan media dan digital, Keluarga SIGAP dirancang untuk berkelanjutan dan mudah diperluas. Pembelajaran dari fase scale-up ini menjadi dasar pengembangan program ke depan guna mendorong penerapan perilaku pencegahan dan mendukung masa depan anak Indonesia yang lebih sehat.

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5485457/original/070806700_1769507349-bgs_jkn.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3448808/original/032087500_1620206402-stethoscope-decorative-kidneys-gray_185193-30956.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3563902/original/063957200_1631001469-todd-cravens-IY1sRDxNWN4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485548/original/063674100_1769511840-closeup-shot-sleeping-bat-wrapped-its-wings.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4717453/original/031148700_1705391334-fotor-ai-20240116142033.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4961457/original/096374900_1728224007-fotor-ai-20241006205116.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5277037/original/085022200_1751974982-Demam.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5033445/original/029989800_1733209830-A_realistic_illustration_of_a_young_person_holding.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485209/original/002570800_1769498234-nipah_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5463911/original/050937000_1767673835-stockking.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4945936/original/087656400_1726563158-fotor-ai-20240917154136.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4151295/original/031354400_1662628401-Kereta-India-AFP-5.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483537/original/001042400_1769397673-IMG_0821.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5484174/original/027555400_1769415446-ruang_aman.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5483948/original/020305900_1769408679-psikologi_anak.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483792/original/090220700_1769403501-depresi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5484406/original/088896200_1769423845-Roi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4922627/original/046210700_1724092326-ype_of__51_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2990426/original/098248100_1575862835-nipah-virus-kills-at-least-three-in-india-sparks-panic-in-district.jpg)










:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5259334/original/038943500_1750422150-20250620BL_Latihan_Timnas_Indonesia_Putri_19.JPG)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5249587/original/051099500_1749649587-BRI_Liga_1_-_Ilustrasi_Persijap_Jepara_copy.jpg)












