Saraf Bisa Rusak Gegara 5 Kebiasaan Ini, Dokter Bagikan Tips Mencegahnya

3 days ago 9
  • Apa fungsi utama saraf dalam tubuh?
  • Kebiasaan apa saja yang bisa merusak saraf tanpa disadari?
  • Mengapa efek kerusakan saraf sering tidak langsung terasa?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Saraf berfungsi mengirim pesan dari otak ke seluruh tubuh dan sebaliknya. Maka dari itu, dokter spesialis saraf Tri Wahyudi dari RS EMC Alam Sutera menyebut saraf sebagai “jalur komunikasi” tubuh yang sangat penting.

“Tapi, banyak dari kita tanpa sadar melakukan kebiasaan sehari-hari yang bisa memberi tekanan atau merusak saraf. Masalahnya, efeknya tidak selalu langsung terasa. Kadang baru muncul setelah bertahun-tahun, seperti kesemutan, nyeri, atau bahkan kelemahan otot,” kata Tri mengutip laman EMC, Selasa (17/2/2026).

Setidaknya ada lima kebiasaan sederhana yang diam-diam merusak saraf, yakni:

Duduk Terlalu Lama dengan Postur yang Salah

Duduk terlalu lama menjadi rutinitas banyak orang di era digital ini. Posisi duduk yang salah bisa memberi tekanan pada saraf, terutama di punggung, leher, dan pinggang.

Bayangkan saraf seperti kabel yang harus lurus agar aliran sinyal lancar. Jika tubuh membungkuk atau menekuk pinggang terlalu lama, saraf bisa “terjepit”, dan ini memicu nyeri atau kesemutan. Tidak jarang orang baru menyadari setelah beberapa jam duduk atau setelah pulang kerja, punggung terasa kaku dan tangan atau kaki agak kesemutan.

Tips sederhana:

  • Gunakan kursi yang menopang punggung dengan baik
  • Duduk tegak, kedua kaki menapak ke lantai, hindari menyilangkan kaki terlalu lama
  • Bangun dan berjalan sebentar setiap 30–60 menit
  • Letakkan layar komputer sejajar mata agar leher tidak menunduk.

“Duduk yang salah tidak hanya merusak saraf tulang belakang, tapi juga bisa memengaruhi saraf tangan dan kaki melalui tekanan pada saraf di pinggang atau leher. Jadi, jangan abaikan postur duduk meski hanya sebentar,” kata Tri.

Mengangkat dan Membawa Beban dengan Cara yang Salah

Sering menggendong anak, tas berat, atau membawa belanjaan tanpa memerhatikan posisi tubuh bisa memberi tekanan besar pada saraf, terutama di punggung dan bahu. Bahkan orang yang merasa kuat sering kali mengabaikan teknik angkat yang benar.

Saraf yang tertekan akibat kebiasaan ini bisa menyebabkan nyeri punggung kronis, kesemutan, atau otot terasa lemas. Jika dibiarkan terus-menerus, saraf bisa “terluka” sehingga koordinasi tubuh terganggu.

Tips sederhana:

  • Angkat beban dengan lutut, bukan punggung
  • Gunakan tas punggung dua tali agar berat terbagi merata
  • Jangan membawa terlalu banyak sekaligus; bagi beban menjadi beberapa bagian
  • Istirahatkan tubuh jika terasa pegal atau nyeri.

“Banyak orang berpikir beban berat hanya memengaruhi otot, padahal saraf juga bisa ikut tertekan. Menjaga teknik angkat yang benar melindungi saraf sekaligus mencegah cedera otot,” ujar Tri.

Ponsel pintar, tablet, dan laptop hampir tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Menatap layar dengan menunduk terus-menerus bisa memberi tekanan pada saraf leher dan bahu. Kondisi ini sering disebut “text neck”, dan bisa memicu nyeri, kesemutan, atau rasa tegang di lengan dan jari.

Saraf yang terganggu bisa membuat tangan terasa kaku atau lemah. Bahkan beberapa orang mengalami kesemutan di jari meski tidak melakukan aktivitas berat.

Tips sederhana:

  • Angkat layar sejajar mata sebanyak mungkin
  • Gunakan sandaran tangan saat mengetik agar lengan tidak tegang
  • Istirahatkan mata dan leher setiap 20–30 menit dengan mengalihkan pandangan ke arah yang jauh.

“Masalah ini tidak hanya soal leher kaku. Saraf yang menahan posisi kepala dan bahu lama-lama bisa terganggu, sehingga tangan dan jari ikut merasakan dampaknya.”

Kurang Gerak

Saraf perlu digunakan terus agar tetap sehat, layaknya otot. Tubuh yang jarang bergerak membuat aliran darah ke saraf berkurang, dan saraf bisa menjadi lebih sensitif terhadap tekanan atau cedera.

Orang yang kurang bergerak sering mengeluh nyeri ringan, pegal, atau kesemutan di tangan dan kaki. Saraf yang tidak aktif bisa kehilangan kelenturan dan daya tanggapnya.

Tips sederhana:

  • Lakukan olahraga ringan setiap hari, seperti jalan kaki, peregangan, atau yoga
  • Lakukan gerakan sederhana untuk melatih tangan dan kaki saat duduk lama.

“Aktivitas fisik tidak hanya melatih otot, saraf juga butuh stimulasi agar tetap tanggap. Tubuh yang terlalu lama diam membuat saraf lebih mudah tertekan dan menimbulkan masalah,” jelas Tri.

Mengabaikan Rasa Pegal, Kesemutan dan Nyeri Ringan

Rasa pegal, kesemutan, atau nyeri ringan kerap diabaikan dengan alasan “tidak terlalu parah” atau “biasa saja”. Padahal ini bisa menjadi tanda awal saraf mulai terganggu. Mengabaikan gejala bisa membuat saraf semakin tertekan dan lama-kelamaan gejalanya menjadi lebih serius, seperti kelemahan otot atau gangguan koordinasi.

Tips sederhana:

  • Dengarkan tubuh: jangan abaikan kesemutan atau pegal yang muncul berulang
  • Istirahatkan area tubuh yang terasa nyeri
  • Jika gejala menetap lebih dari beberapa minggu, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

“Gejala awal saraf terganggu sering halus, tapi memberi sinyal penting untuk tubuh. Mengabaikannya sama saja memberi lampu hijau bagi kerusakan saraf yang lebih serius di masa depan,” ujar Tri.

“Ingat, saraf yang sehat bukan hanya soal bebas nyeri. Saraf yang sehat berarti tubuh bekerja optimal, energi lebih baik, dan aktivitas sehari-hari terasa ringan. Jadi, mulai sekarang perhatikan kebiasaan kecil yang selama ini mungkin tanpa sadar merusak sarafmu,” pungkasnya.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |