Liputan6.com, Jakarta - Isu child grooming kembali ramai diperbincangkan setelah aktris Aurelie Moeremans membagikan pengalamannya sebagai korban lewat buku Broken Strings.
Psikiater Lahargo Kembaren menjelaskan, child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang disengaja, di mana pelaku membangun kepercayaan, kedekatan emosional, dan ketergantungan, dengan tujuan mengeksploitasi. Baik secara emosional, psikologis, maupun seksual. Seperti namanya, korban dari child grooming adalah anak-anak.
Menurutnya, child grooming terbagi dalam beberapa tipe, yakni:
1. Emotional Grooming
Pelaku memposisikan diri sebagai:
- Satu-satunya yang mengerti
- Tempat curhat rahasia
- Pelindung dari dunia yang 'tidak adil'
Dalam tipe grooming ini, anak dibuat merasa lebih aman dengan pelaku dibanding orang tua. Anak juga dibuat merasa bersalah jika menjauh dari pelaku dan takut kehilangan.
"Jika anak merasa hanya satu orang yang mengerti dirinya, itu alarm, bukan romantika," ujar Lahargo dalam keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Minggu, 18 Januari 2026.
2. Authority Grooming
Tipe kedua adalah authority grooming, di mana pelaku menggunakan posisi kuasa, seperti:
- Guru
- Pelatih
- Pembina rohani
- Senior atau mentor.
Dalam grooming ini, anak diajarkan untuk tidak melawan, patuh, dan mengatakan bahwa grooming dilakukan demi kebaikan korban.
"Otoritas tanpa batas bisa berubah dari membimbing menjadi mengendalikan," kata Lahargo.
3. Digital atau Online Grooming
Ada pula yang disebut digital atau online grooming yang terjadi melalui chat pribadi, media sosial, dan game online.
Biasanya dimulai dari pujian berlebihan, perhatian intens, hadiah virtual, dan rahasia berdua.
"Di dunia digital, perhatian berlebihan bukan selalu cinta, bisa jadi perangkap," tambahnya.
4. Gradual Boundary Crossing
Dalam gradual boundary crossing, pelaku perlahan mengubah topik pembicaraan, menormalisasi hal yang tidak pantas, dan membuat anak bingung antara nyaman dan tidak nyaman.
Anak sering tidak yakin apakah perlakuan ini salah, tapi anak merasa yang dilakukan pelaku adalah hal aneh.
"Ketidaknyamanan yang diabaikan hari ini bisa menjadi luka besar di masa depan," ujar Lahargo.
Grooming Bukan Peristiwa Instan
Lahargo menambahkan, grooming bukan peristiwa instan, tetapi melalui proses bertahap. Pelaku sering tampak sebagai:
- Orang dewasa yang paling peduli
- Kakak/mentor yang paling mengerti
- Figur aman ketika anak merasa kesepian.
"Grooming bukan soal sentuhan dulu, tapi soal kepercayaan yang dicuri perlahan," ujarnya.
Lantas, mengapa orang melakukan grooming?
Menurut Lahargo, dari sisi psikologis, child grooming bukan karena cinta, melainkan karena:
Kebutuhan akan Kontrol
Pelaku merasa berkuasa saat bisa mengendalikan emosi dan keputusan anak.
Distorsi Kognitif
Pelaku merasa benar bahwa dirinya melakukan itu karena menyayangi, bukan untuk menyakiti. Dapat juga menilai bahwa korban yang duluan nyaman dengannya.
Defisit Empati
Kesulitan merasakan penderitaan korban, fokus pada kepuasan diri.
Pengulangan Pola
Sebagian pelaku dulunya juga korban, namun luka yang tidak disembuhkan berubah menjadi pola menyakiti.
“Luka yang tidak disadari bisa berubah menjadi luka yang diwariskan,” ujar Lahargo.
Dampak Child Grooming
Dampak child grooming sering tidak langsung terlihat, namun muncul bertahun-tahun kemudian:
Secara psikologis dampaknya bisa berupa kebingungan emosi, rasa bersalah berlebihan, sulit percaya orang lain, dan trauma relasional.
Dari sisi relasi, korban cenderung mudah terjebak hubungan tidak sehat, sulit mengenali batasan, dan takut menolak. Korban juga merasa harga dirinya rendah dan menyalahkan diri sendiri.
“Grooming tidak hanya mencuri masa kecil, tapi juga memengaruhi cara seseorang mencintai dirinya sendiri dan berelasi dengan orang lain,” kata Lahargo.
Cegah Child Grooming
Menurut Lahargo, pola asuh adalah faktor protektif utama agar anak terhindar dari grooming.
Orang tua dapat membangun ruang aman untuk anak, bukan ruang yang menakutkan. Anak perlu tahu bahwa dirinya boleh bercerita tanpa dihakimi dan tidak akan dimarahi ketika berbicara jujur.
“Anak yang merasa aman bercerita, lebih sulit dimanipulasi.”
Orang tua juga perlu mengajarkan bahasa emosi pada anak sejak dini. Bantu anak mengenali antara rasa nyaman dan tidak nyaman serta perbedaan rahasia baik dan rahasia berbahaya.
“Anak yang bisa menamai perasaannya, lebih kuat melindungi dirinya.”
Tak kalah penting, anak juga perlu diajarkan tentang batasan. Misalnya tentang bagian tubuh yang tak boleh dilihat dan dipegang orang lain, tentang kapan sebaiknya berkata tidak, dan berhenti menganggap semua orang dewasa selalu benar.
“Menghormati anak bukan membuatnya manja, tapi membuatnya aman.”
Meski begitu, keterlibatan orang tua bukan berarti anak terlalu dikekang dan diintai. Perhatikan lingkar pertemanan, aktivitas online, figur signifikan dalam hidup anak tanpa mengontrol berlebihan, tapi hadir konsisten.
“Kedekatan orang tua adalah benteng pertama, bukan pengawasan ketat.”
Broken Strings, sambung Lahargo, mengingatkan masyarakat bahwa luka masa kecil sering kali tidak bersuara, tapi beresonansi panjang dalam hidup dewasa. Child grooming bukan hanya isu kriminal, tapi isu relasional, psikologis, dan parenting.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5128815/original/071800800_1739261225-ice-cube-background-still-life.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5475603/original/012255900_1768632585-budi_kusta.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477081/original/014158100_1768808089-WhatsApp_Image_2026-01-19_at_14.25.45.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2704958/original/079413100_1547609204-shutterstock_1075628237.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5476713/original/009189600_1768795926-WhatsApp_Image_2026-01-19_at_11.08.44_AM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5476591/original/017873400_1768792124-WhatsApp_Image_2026-01-19_at_10.05.50_AM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5452448/original/040555200_1766400118-Arifah.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475667/original/021958400_1768638501-pelanggaran_hak_anak.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4875110/original/018653800_1719377744-IMG_2886.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475432/original/038112800_1768615917-lansia_sembelit.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4558345/original/040206100_1693462552-Sequence_02.00_12_43_04.Still004R.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5474996/original/058742900_1768546902-ruang_aman_anak.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5474722/original/086369200_1768532937-dian_sasmita.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475599/original/065204400_1768631413-35412.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4758362/original/008193500_1709262685-Screenshot_2024-03-01_100831.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5474682/original/068325200_1768530015-azhar_bully.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5474587/original/031856500_1768490525-WhatsApp_Image_2026-01-15_at_21.41.33.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4806688/original/097018500_1713515496-Screenshot_2024-04-19_152518.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5474580/original/050541100_1768489629-WhatsApp_Image_2026-01-15_at_10.00.39_PM.jpeg)











:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5360701/original/072243700_1758720836-20250924_120820.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5241362/original/019283600_1748948311-heart-attack-concept-asian-woman-is-unable-work-today-so-tired-she-is-sick-serious-acute-high-heart-rate-attack-bed-young-woman-pajamas-having-heart-attack-her-bedroom.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5259334/original/038943500_1750422150-20250620BL_Latihan_Timnas_Indonesia_Putri_19.JPG)



