Penularan Virus Nipah Terungkap: Apa yang Harus Kita Waspadai?

9 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Virus Nipah menjadi salah satu ancaman kesehatan yang patut diwaspadai. Virus Zoonotik ini dapat menular dari hewan ke manusia, melalui makanan yang terkontaminasi, atau bahkan antar manusia. Meski kasusnya jarang, tingkat kematian akibat virus ini mencapai 40 persen hingga 75 persen, menjadikannya perhatian serius bagi kesehatan masyarakat.

Dari Kelelawar ke Buah dan Hewan Ternak

Reservoir alami virus Nipah adalah kelelawar buah, khususnya jenis Pteropus. Virus ini biasanya tidak menimbulkan gejala pada kelelawar, tapi dapat menyebar ke manusia dan hewan ternak. 

Wabah pertama terjadi di Malaysia pada 1999 di kalangan peternak babi. Penularan awal terutama akibat kontak langsung dengan babi sakit atau jaringan hewan yang terkontaminasi. Di Bangladesh dan India, konsumsi buah atau produk buah, seperti jus nira, yang tercemar urin atau air liur kelelawar, menjadi sumber infeksi utama.

Buah yang telah digigit kelelawar atau jus yang tidak dimasak berisiko tinggi menjadi media penularan. Oleh sebab itu, kebersihan makanan dan pengolahan buah menjadi langkah pencegahan yang sangat penting.

Selain melalui hewan dan makanan, virus Nipah juga dapat menular langsung antar manusia. Kontak erat dengan pasien, terutama keluarga atau tenaga kesehatan yang merawat pasien tanpa perlindungan, meningkatkan risiko penularan. 

Penularan Virus Nipah Antar Manusia

Kasus di Siliguri, India pada 2001, menunjukkan bahwa 75 persen infeksi terjadi di rumah sakit, baik pada staf maupun pengunjung.

Di Bangladesh, hampir separuh kasus sejak 2001 hingga 2008 disebabkan penularan antar manusia melalui perawatan pasien yang terinfeksi. 

Penularan antar manusia membuat pengendalian virus Nipah menjadi lebih kompleks, karena memerlukan penerapan protokol pengendalian infeksi yang ketat di fasilitas kesehatan dan kesadaran masyarakat.

Gejala Virus Nipah yang Harus Diwaspadai

 Infeksi virus Nipah bervariasi, mulai dari tanpa gejala hingga penyakit pernapasan akut dan ensefalitis fatal. Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. 

Jika berkembang, gejala bisa meliputi pusing, kantuk, gangguan kesadaran, kejang, hingga koma dalam 24 s.d 48 jam.

Masa inkubasi berkisar 4 hingga 14 hari, tapi kasus hingga 45 hari pernah tercatat. Sekitar 20 persen pasien yang sembuh mengalami komplikasi neurologis jangka panjang, seperti kejang atau perubahan perilaku, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan meski pasien sembuh dari infeksi akut.

Cara Cegah Virus Nipah

Karena belum ada vaksin atau obat khusus, langkah pencegahan menjadi kunci. Beberapa upaya yang direkomendasikan antara lain: 

  1. Mengurangi risiko penularan dari kelelawar: Tutup tempat pengambilan nira, cuci dan kupas buah sebelum dikonsumsi, buang buah yang menunjukkan gigitan kelelawar.
  2. Mencegah penularan dari hewan: Gunakan sarung tangan dan pakaian pelindung saat menangani hewan sakit, batasi kontak dengan babi atau hewan ternak yang terinfeksi.
  3. Mencegah penularan antar manusia: Hindari kontak fisik dekat dengan pasien, rajin mencuci tangan, dan terapkan protokol pengendalian infeksi di rumah sakit.

WHO menekankan pentingnya pengawasan berbasis pendekatan One Health untuk mendeteksi kasus dini dan mencegah penyebaran virus Nipah baik pada hewan maupun manusia. 

Read Entire Article
Helath | Pilkada |