Liputan6.com, Jakarta Di era digital yang serba cepat, arus informasi datang dari berbagai arah dan nyaris tak terbendung, mulai dari media sosial, pesan singkat, hingga pemberitaan daring yang seakan tidak pernah berhenti mengalir. Kondisi ini membawa manfaat berupa kemudahan memperoleh kabar terkini, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan ancaman serius bagi kesehatan mental karena otak manusia memiliki keterbatasan dalam menyaring informasi yang terus menerus masuk.
Dikutip dari Ugm.ac.id, Psikolog Klinis, Pamela Andari Priyudha, M.Psi., Psikolog menekankan bahwa paparan terhadap berita-berita buruk secara terus-menerus dapat menyebabkan seseorang mengalami ketegangan psikologis yang kronis dan kolektif.
Fenomena yang dikenal dengan istilah information overload ini sering menimbulkan rasa lelah, gelisah, bahkan sulit berkonsentrasi karena terlalu banyak hal yang harus dipikirkan sekaligus. Dampaknya tidak hanya pada suasana hati, tetapi juga bisa memengaruhi kualitas tidur, produktivitas kerja, serta hubungan sosial seseorang. Dalam jangka panjang, paparan berlebihan terhadap berita negatif atau konten tidak sehat bisa memicu gangguan mental yang lebih serius.
Untuk menghindari kondisi tersebut, ada beberapa langkah strategis yang perlu diterapkan agar kesehatan mental tetap terjaga meski berada di tengah derasnya arus informasi. Mulai dari membatasi konsumsi berita, mengelola media sosial, hingga melatih kesadaran diri, semua tips ini dapat dilakukan secara sederhana namun berdampak besar. Berikut tujuh cara yang bisa diterapkan agar tetap sehat secara mental di tengah era digital yang penuh distraksi.
1. Batasi Konsumsi Berita yang Berlebihan
Paparan berita yang berlebihan sering kali menjadi pemicu utama munculnya rasa cemas, terutama ketika sebagian besar informasi yang dikonsumsi berisi isu negatif, bencana, atau konflik. Membaca berita memang penting untuk memperluas wawasan, namun jika dilakukan tanpa batas, hal itu dapat menggerus kestabilan emosional dan membuat pikiran terus dibebani hal-hal yang memicu stres.
Untuk mengantisipasi hal ini, seseorang perlu menetapkan waktu khusus dalam sehari untuk mengakses berita, misalnya hanya di pagi hari atau sore hari, sehingga pikiran tidak terus menerus dipenuhi kabar yang belum tentu relevan. Pemilihan sumber berita juga harus diperhatikan, karena informasi dari media yang tidak kredibel sering kali menambah kebingungan dan memperburuk keadaan mental.
Selain itu, penting juga untuk mengingat bahwa tidak semua isu perlu diikuti secara detail, sebab menyaring informasi berarti memberikan ruang bagi otak untuk beristirahat. Dengan membatasi konsumsi berita, seseorang dapat lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam kehidupannya tanpa terbebani oleh arus informasi yang berlebihan.
2. Kelola Penggunaan Media Sosial
Media sosial telah menjadi ruang utama pertukaran informasi, namun di sisi lain juga sering menjadi penyumbang terbesar rasa lelah dan cemas akibat terlalu banyaknya konten yang dikonsumsi setiap hari. Notifikasi yang tidak henti masuk, perbandingan sosial, hingga komentar negatif bisa menguras energi mental tanpa disadari. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menurunkan rasa percaya diri serta menambah beban psikologis.
Salah satu cara mengatasinya adalah dengan membatasi waktu penggunaan media sosial menggunakan fitur screen time yang tersedia di hampir semua perangkat. Dengan adanya batasan ini, pengguna bisa lebih disiplin dalam mengatur waktu agar tidak menghabiskan berjam-jam hanya untuk menggulir layar tanpa tujuan jelas. Hal ini juga membantu menciptakan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata.
Selain itu, seleksi terhadap akun yang diikuti juga berperan penting, karena konten yang dihadirkan setiap hari memengaruhi kondisi emosional seseorang. Mengikuti akun yang memberikan informasi positif, edukatif, atau inspiratif dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat, sehingga media sosial tetap bisa memberikan manfaat tanpa harus merugikan kesehatan mental.
3. Terapkan Pola Hidup Seimbang
Kesehatan mental tidak bisa dilepaskan dari kondisi fisik, sehingga menjaga pola hidup seimbang menjadi kunci agar daya tahan tubuh dan pikiran tetap optimal. Aktivitas sederhana seperti rutin berolahraga dapat membantu meningkatkan hormon endorfin yang berfungsi mengurangi stres. Bahkan olahraga ringan seperti jalan kaki atau bersepeda sudah cukup efektif untuk membuat tubuh terasa segar dan pikiran lebih tenang.
Pola makan sehat dengan memperbanyak konsumsi buah, sayuran, serta cukup asupan air juga turut memengaruhi kondisi mental, karena tubuh yang sehat akan mendukung pikiran yang lebih stabil. Tidur cukup minimal tujuh hingga delapan jam per malam sangat penting untuk memulihkan energi setelah seharian terpapar arus informasi yang padat.
Dengan menjaga rutinitas yang seimbang, seseorang akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan dan informasi yang datang setiap hari. Pola hidup sehat tidak hanya memberi kekuatan fisik, tetapi juga melindungi dari risiko kelelahan mental akibat banjir data yang sulit dikendalikan.
4. Berlatih Mindfulness dan Relaksasi
Mindfulness atau kesadaran penuh adalah salah satu teknik yang terbukti efektif untuk mengendalikan pikiran agar tetap fokus pada saat ini. Dalam praktiknya, seseorang dilatih untuk tidak terbawa arus pikiran negatif yang datang akibat informasi yang membanjiri otak. Dengan mindfulness, pikiran menjadi lebih jernih, sehingga mampu merespons setiap situasi dengan tenang.
Latihan mindfulness dapat dilakukan melalui meditasi singkat, pernapasan dalam, atau sekadar meluangkan waktu sejenak untuk menyadari lingkungan sekitar. Aktivitas ini tidak membutuhkan waktu lama, cukup beberapa menit setiap hari, namun jika dilakukan secara konsisten hasilnya bisa signifikan dalam menurunkan tingkat stres.
Selain itu, teknik relaksasi seperti yoga, mendengarkan musik tenang, atau menulis jurnal juga bisa menjadi alternatif untuk meredakan beban mental. Dengan menjadikan mindfulness sebagai bagian dari rutinitas, seseorang akan lebih mudah menjaga keseimbangan mental meski harus menghadapi arus informasi yang tidak pernah berhenti.
5. Bangun Interaksi Sosial yang Sehat
Interaksi sosial dengan orang-orang terdekat memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan mental, terutama ketika individu merasa kewalahan dengan arus informasi digital. Bertemu langsung dan berbincang dengan keluarga atau teman dapat memberikan rasa lega sekaligus dukungan emosional yang dibutuhkan untuk mengurangi beban pikiran.
Komunikasi tatap muka ini juga menjadi sarana untuk saling berbagi cerita dan pengalaman, sehingga seseorang tidak merasa sendirian menghadapi tekanan. Rasa memiliki dan dukungan dari orang lain terbukti mampu meningkatkan ketahanan psikologis dalam menghadapi stres.
Selain itu, menjalin hubungan sosial yang positif juga memberikan kesempatan untuk membangun lingkungan yang lebih sehat, baik secara emosional maupun mental. Dengan adanya interaksi yang hangat, individu dapat merasa lebih berdaya dan mampu menghadapi tantangan digital tanpa kehilangan kendali atas dirinya.
6. Atur Waktu Istirahat dari Layar
Paparan layar yang terlalu lama dapat menimbulkan kelelahan, baik secara fisik maupun mental, karena mata dan otak dipaksa bekerja terus menerus tanpa henti. Jika hal ini tidak dikendalikan, dampaknya bisa berupa sakit kepala, sulit tidur, hingga menurunnya konsentrasi yang pada akhirnya memengaruhi kesehatan mental.
Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan adalah menerapkan aturan 20-20-20, yakni setiap 20 menit menatap layar, seseorang disarankan beristirahat selama 20 detik dengan melihat objek sejauh 20 kaki. Cara ini membantu mata beristirahat sekaligus memberi kesempatan bagi otak untuk sejenak lepas dari beban informasi.
Selain itu, menyediakan waktu bebas gawai setiap hari, misalnya satu jam sebelum tidur, dapat meningkatkan kualitas istirahat dan menurunkan risiko kelelahan mental. Dengan mengatur waktu istirahat dari layar, seseorang tidak hanya melindungi kesehatan mata, tetapi juga menjaga pikiran agar tetap segar di tengah derasnya informasi.
7. Cari Bantuan Profesional Bila Diperlukan
Ketika stres atau kecemasan akibat banjir informasi sudah dirasa mengganggu aktivitas sehari-hari, langkah bijak yang harus dilakukan adalah mencari bantuan profesional. Psikolog atau psikiater dapat memberikan panduan yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu, sehingga solusi yang ditawarkan lebih efektif.
Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kesadaran diri bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Dengan berkonsultasi, seseorang bisa memahami lebih baik penyebab stres dan menemukan cara tepat untuk mengatasinya.
Dengan adanya dukungan dari tenaga ahli, individu memiliki kesempatan lebih besar untuk memulihkan keseimbangan mentalnya dan kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih sehat serta produktif, meski arus informasi terus berdatangan tanpa henti.
Pertanyaan dan Jawaban (People Also Ask)
1. Mengapa arus informasi berlebihan bisa memengaruhi kesehatan mental?
Karena otak kewalahan menyaring informasi sehingga menimbulkan stres, kecemasan, dan kelelahan mental.
2. Apa dampak negatif media sosial bagi kesehatan mental?
Media sosial dapat memicu perbandingan sosial, kecemasan, hingga gangguan tidur akibat paparan berlebih.
3. Bagaimana cara mengatasi stres akibat terlalu banyak berita?
Dengan membatasi waktu membaca, memilih sumber terpercaya, dan memberi jeda istirahat bagi pikiran.
4. Kapan seseorang perlu mencari bantuan psikolog?
Jika stres atau kecemasan semakin berat, mengganggu aktivitas harian, atau sulit dikendalikan sendiri.
5. Apakah mindfulness benar-benar efektif menjaga kesehatan mental?
Ya, karena membantu melatih kesadaran, mengurangi pikiran negatif, dan meningkatkan konsentrasi.