Liputan6.com, Jakarta - Mungkin masih banyak orang penasaran terkait alasan seseorang menguap, ternyata banyak teori menarik di baliknya. Meskipun sering dikaitkan dengan rasa kantuk, ternyata hingga kini, para peneliti belum sepenuhnya mengetahui alasan pasti mengapa seseorang menguap.
Dilansir dari verywell health, menguap biasanya ditandai dengan tarikan napas dalam sambil membuka mulut lebar-lebar, diakhiri dengan embusan napas secara perlahan. Fenomena menguap sendiri sering disebut “menular”, karena dengan melihat orang lain menguap bisa memicu orang di sekitarnya untuk melakukan hal yang sama.
Bahkan, menguap tidak hanya terjadi pada manusia, tetapi juga ditemukan pada hewan peliharaan seperti anjing yang terkadang menguap sebagai tanda stres atau sikap cuek. Menariknya, anjing juga bisa menguap hasil dari melihat manusia yang menguap di sekitarnya.
Menguap sendiri telah terjadi sejak janin berusia 12 minggu di dalam kandungan. Menguap sebagian besar bersifat involunter, dan ketika mulai terjadi, tidak bisa ditahan. Meskipun belum ada alasan pasti terkait menguap diungkapkan, para peneliti memiliki beberapa teori untuk menjelaskan fenomena alami ini.
Teori Menguap dan Kaitannya dengan Tubuh
Sebuah teori tertua yang menjelaskan tentang fenomena ini lahir sejak tahun 1755. Dalam teori ini, disebut bahwa menguap terjadi karena tubuh kekurangan oksigen.
Menguap dipercaya dapat mengeluarkan “udara buruk” dari paru-paru dan meningkatkan sirkulasi di otak. Namun, ketika para ahli mengukur kadar oksigen dan karbon dioksida dalam darah, mereka hanya menemukan sedikit hubungannya dengan menguap.
Meskipun begitu, menguap masih dianggap bisa membantu memperbesar kapasitas paru dan melancarkan alirah darah ke jantung, sehingga bermanfaat bagi pernapasan. Para peneliti juga meyakini bahwa menguap dapat memposisikan ulang otot untuk memperbesar saluran napas, sehingga penyebaran oksigen ke dalam organ dan jaringan meningkat.
Selain itu, menguap juga diyakini memiliki keterkaitan dengan kesadaran. Menguap sering terjadi saat seseorang merasa bosan, mengantuk, atau melakukan aktivitas yang monoton.
Menguap Bisa Menjaga Keseimbangan Tubuh
Selain dikaitkan dengan rasa kantuk, menguap juga memiliki fungsi lain yang jarang disadari. Salah satunya adalah membantu menyeimbangkan tekanan di telinga bagian dalam.
Misalnya mengalami tekanan udara di telinga saat dalam penerbangan atau mendaki gunung, menguap bisa membantu membuka saluran eustachius telinga, sehingga tekanan udara di telinga kembali normal.
Sebuah teori tentang menguap juga mengungkap bahwa menguap berhubungan dengan suhu. Para peneliti meyakini bahwa menguap bisa mendinginkan otak, karena ditemukan fakta bahwa menguap lebih sering terjadi ketika suhu tubuh meningkat.
Menguap juga disebut dapat mengurangi gejala kronis seperti epilepsi, migrain, dan sklerosis ganda yang menyebabkan suhu internal tubuh meningkat. Dengan begitu, para peneliti percaya bahwa menguap dapat berperan menjaja suhu internal tubuh.
Alasan Mengapa Menguap Menular
Hal yang unik dari fenomena menguap adalah sifatnya yang menular. Tanpa sadar, ketika melihat seseorang menguap, kita akan ikut menguap. Bukan hanya pada manusia, penularan ini juga bisa terjadi pada hewan.
Para peneliti menduga sifat “menular” ini berhubungan dengan empati dan kemampuan sosial, meski bukti ilmiahnya masih belum sepenuhnya konsisten.
Menguap juga bisa muncul dalam berbagai situasi, mulai dari rasa bosan, mengantuk, hingga sebagai trik untuk “memecah” tekanan di telinga. Namun, jika frekuensi menguap terasa berlebihan, seperti menguap lebih dari tiga kali dalam 15 menit, perlu diperhatikan.
Kondisi menguap belebihan bisa saja disebabkan oleh kurang tidur, kecemasan, atau masalah kesehatan lainnya. Umumnya, kondisi menguap berlebihan ini hanya berkaitan dengan kebutuhan tidur.
Namun, jika kondisi ini terjadi secara terus-menerus, dan disertai dengan gejala lainnya, pemeriksaan lebih lanjut mungkin menjadi solusi untuk mendapatkan penanganan yang tepat.