Liputan6.com, Jakarta Deep Brain Stimulation (DBS) adalah tindakan medis untuk menangani gangguan gerak seperti distonia dan sindrom Tourette dengan tingkat keparahan berat.
Menurut dokter spesialis neurologi di RS Siloam Lippo Village, Rocksy Fransisca V. Situmeang, distonia merupakan gangguan neurologi yang ditandai dengan kekakuan otot yang berkepanjangan dan di luar kendali. Sehingga, sering menyebabkan gerakan berulang dan postur tubuh menjadi tidak normal serta rasa nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Sementara sindrom Tourette merupakan gangguan neurologis kompleks yang ditandai dengan munculnya tics, yaitu gerakan otot yang tidak disadari,” kata Rocksy dalam keterangan pers dikutip Senin (17/3/2025).
Tics ini dapat berupa kedutan pada wajah, otot sekitar mata dan pipi (motor tics), hingga suara-suara tidak disengaja seperti berdehem atau bahkan teriakan mendadak yang tidak dapat dikontrol (vocal tics).
Untuk menangani distonia dan sindrom Tourette, terapi awal biasanya berupa kombinasi obat-obatan dan terapi fisik. Penggunaan obat ditujukan untuk meredakan nyeri serta mengurangi kontraksi otot yang tidak terkendali.
Sementara fisioterapi dapat membantu pasien dalam memperbaiki postur tubuh serta meningkatkan kontrol terhadap gerakan mereka.
Dalam kasus sindrom Tourette, terapi psikologis juga sering kali diperlukan karena gangguan ini berkaitan erat dengan faktor kecemasan dan gangguan psikologis lainnya seperti OCD (Obsessive Compulsive Disorder) atau ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).
Konseling dan terapi perilaku kognitif dapat membantu pasien dalam mengatasi dampak psikologis dari kondisi mereka.
Dokter anak di berbagai negara mencermati peningkatan gerak dan ucapan tak terkendali mirip sindrom Tourette selama setahun terakhir. Penggunaan media sosial secara berlebihan selama pandemi diyakini menjadi pemicunya.
Bagi Pengidap Gangguan Gerak dengan Kondisi Berat
Bagi pengidap gangguan gerak dengan kondisi berat yang tidak membaik dengan terapi konvensional, DBS bisa menjadi pilihan.
Prosedur ini bekerja dengan cara menanamkan elektroda di dalam otak yang memberikan stimulasi listrik ke area yang mengontrol gerakan, sehingga gejala dapat berkurang secara signifikan.
Menurut dokter spesialis bedah saraf di RS Siloam Lippo Village, Made Agus Mahendra Inggas, prosedur DBS hanya bisa dilakukan pada pasien yang memenuhi beberapa syarat tertentu.
“DBS direkomendasikan bagi pasien dengan tingkat keparahan yang tinggi, terutama yang mengalami distonia umum (general) atau sindrom Tourette berat,” kata Made Agus dalam keterangan yang sama.
Evaluasi sebelum prosedur melibatkan diskusi antara dokter spesialis saraf dan bedah saraf, serta keluarga pasien untuk memastikan apakah prosedur ini merupakan pilihan terbaik. Selain itu, pasien harus menjalani serangkaian pemeriksaan neurologis dan psikologis untuk mengidentifikasi apakah ada kontraindikasi medis sebelum operasi.
Keunggulan Tindakan DBS
Beberapa keunggulan prosedur DBS yang ada di RS Siloam Lippo Village antara lain:
Pendekatan Multidisiplin
Tim medis multidisplin terdiri dari dokter spesialis bedah saraf, saraf, anestesi, rehabilitasi medik, dan psikolog yang bekerja sama dalam perencanaan dan pelaksanaan prosedur.
Fasilitas Medis Terkini
Rumah sakit ini dilengkapi dengan teknologi canggih seperti MRI 3 Tesla dan sistem pemetaan otak presisi tinggi untuk memastikan keakuratan prosedur.
Pengalaman dan Keahlian
Tim dokter yang berpengalaman dalam menangani DBS untuk berbagai gangguan neurologis, termasuk distonia dan sindrom Tourette.
Layanan Pascaoperasi yang Optimal
Pasien mendapatkan pemantauan berkelanjutan dengan evaluasi berkala untuk memastikan efektivitas terapi dan menyesuaikan parameter stimulasi sesuai kebutuhan individu.
Langkah Prosedur DBS
Langkah-langkah dalam prosedur DBS meliputi:
Diagnosis dan Evaluasi
Proses diawali dengan pemeriksaan MRI untuk memastikan tidak ada kelainan otak lain, seperti tumor atau riwayat stroke. Pasien juga menjalani serangkaian tes psikologis dan neurologis guna mengevaluasi kondisi secara menyeluruh.
Persiapan
Sebelum tindakan, pasien diminta mencukur rambut untuk meminimalkan risiko infeksi. Head frame dipasang di kepala untuk menentukan titik stimulasi di otak. Selanjutnya, dilakukan CT scan yang digabungkan dengan hasil MRI untuk penentuan lokasi pemasangan elektroda secara akurat.
Tindakan Pemasangan
Elektroda DBS dipasang di area target otak, yaitu globus pallidus internus (GPI) untuk penderita distonia atau thalamus medial untuk sindrom Tourette. Selama operasi, pasien tetap sadar agar dokter dapat mengevaluasi efek stimulasi secara langsung
Pasca Tindakan
Pasien akan menjalani perawatan inap selama 3-5 hari untuk pemantauan kondisi. DBS akan diaktifkan dua minggu setelah pemasangan untuk memastikan hasil yang optimal.
Tingkat Keberhasilan Terapi DBS
Menurut Made, tingkat keberhasilan DBS di RS Siloam Lippo Village saat ini mencapai 78-82 persen, sejalan dengan data internasional.
“Distonia memiliki peluang sembuh lebih tinggi dibandingkan dengan sindrom Tourette yang terkait dengan faktor psikologis. Namun, DBS tetap membantu meningkatkan kualitas hidup pasien secara signifikan,” tambahnya.
DBS juga dapat dilakukan secara berkala jika efeknya mulai berkurang. “Baterai DBS dapat bertahan beberapa tahun tergantung jenisnya. Jika gejala mulai muncul kembali, pengaturan ulang dapat dilakukan atau baterai diganti,” jelas Made.
Selain itu, pasien tetap perlu menjalani terapi dan kontrol rutin untuk memastikan bahwa stimulasi yang diberikan tetap optimal. Jika ada gejala yang belum terkontrol, dokter dapat menyesuaikan voltase stimulasi.