Liputan6.com, Jakarta - Aritmia adalah kondisi medis di mana detak jantung menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Gangguan ini terjadi akibat kelainan impuls listrik yang mengontrol detak jantung. Normalnya, nodus sinus di serambi kanan jantung berfungsi sebagai pacu jantung alami, menghasilkan impuls listrik yang terkoordinasi untuk memompa darah secara efisien. Namun, pada kondisi aritmia, koordinasi impuls listrik ini terganggu sehingga jantung tidak dapat memompa darah secara optimal.
Kapan Dikatakan Aritmia?
Menurut Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Dony Yugo Hermanto, Sp.J.P Subsp.Ar (K), FIHA, aritmia terjadi ketika laju detak jantung berada di luar rentang normal atau memiliki pola yang tidak beraturan.
Secara umum, laju nadi normal berkisar antara 50-100 kali per menit. Jika detak jantung melebihi 100 kali per menit, kondisi ini disebut takikardia. Sebaliknya, jika detak jantung kurang dari 50 kali per menit, disebut bradikardia.
Anda dapat memeriksa sendiri laju nadi dengan meletakkan dua jari di pergelangan tangan dekat ibu jari, merasakan denyut nadi, dan menghitung jumlah denyut selama satu menit. "Jika denyut terasa tidak teratur, bisa jadi Anda mengalami aritmia," kata Dony dalam diskusi media 'Cegah Kematian Jantung Mendadak akibat Aritmia dengan Implantable Cardioverter-Defibrillator (ICD)' pada Rabu, 5 Maret 2025.
Penyebab Aritmia
Aritmia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, antara lain:
Faktor internal:
- Penyakit jantung
- Tekanan darah tinggi
- Gangguan tiroid
- Ketidakseimbangan elektrolit
- Perubahan pada otot jantung
- Cedera jantung
- Gangguan sinyal listrik jantung
Faktor eksternal:
- Stres atau kecemasan
- Konsumsi alkohol, kafein, atau tembakau
- Penggunaan obat-obatan tertentu
- Olahraga berat
- Sleep apnea atau kebiasaan mendengkur
Jenis dan Gejala Aritmia
Gejala aritmia bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berbahaya. Beberapa gejala yang umum terjadi meliputi:
- Jantung berdebar (palpitasi)
- Pusing atau sakit kepala
- Pingsan
- Sesak napas
- Kelelahan ekstrem
- Nyeri dada
- Kematian mendadak pada kasus yang parah
"Jantung memiliki sistem listrik yang bekerja seperti PLN, terdiri dari generator dan kabel-kabel penghantar listrik. Agar jantung berfungsi dengan baik, listrik yang dihasilkan harus tersebar merata ke seluruh bagian jantung," katanya.
Salah satu jenis aritmia yang berbahaya adalah atrial fibrilasi, yang ditandai dengan denyut jantung tidak teratur dan berisiko menyebabkan stroke sumbatan. Di Indonesia, sekitar 20 persen orang di atas 70 tahun mengalami atrial fibrilasi, dan sepertiga kasus stroke sumbatan disebabkan oleh kondisi ini. Banyak penderita atrial fibrilasi tidak menyadari kondisi mereka karena sudah terbiasa. Deteksi umumnya dilakukan melalui rekam jantung (EKG).
Irama Lethal dan Henti Jantung Mendadak
Pada kasus yang lebih serius, gangguan listrik jantung dapat menyebabkan irama lethal, di mana jantung gagal memompa darah secara efektif. Jika listrik jantung mengalami ''korsleting', jantung hanya bergetar tanpa mampu memompa darah, yang mengarah pada henti jantung. Jika henti jantung berlangsung selama 3-5 detik, penderita dapat pingsan, sementara henti jantung yang lebih lama bisa menyebabkan kematian mendadak.
Henti jantung mendadak dapat terjadi pada siapa saja, termasuk atlet, akibat kelainan aritmia primer atau kerusakan otot jantung (kardiomiopati). Oleh karena itu, memahami tanda-tanda aritmia dan memberikan pertolongan pertama sangatlah penting.
Cara Mendeteksi Aritmia
Aritmia dapat dideteksi dengan beberapa metode, antara lain:
- Meraba nadi sendiri – Cara paling mudah dan murah untuk mengetahui apakah denyut jantung Anda normal atau tidak.
- Menggunakan smartwatch atau oksimeter – Alat ini dapat memantau laju nadi dan memberikan notifikasi jika ada kelainan.
- Rekam jantung (EKG) – Beberapa smartwatch generasi terbaru telah dilengkapi dengan fitur EKG.
- Holter monitor – Alat rekam jantung yang dipakai selama 1-2 minggu untuk mendeteksi aritmia yang terjadi secara sporadis.
- Implantable Loop Recorder (ILR) – Alat kecil yang ditanam di tubuh untuk pemantauan jangka panjang hingga 3 tahun.
Tindakan Pertama Saat Menghadapi Henti Jantung
Jika seseorang mengalami henti jantung, tindakan cepat dapat menyelamatkan nyawanya. Berikut langkah-langkah resusitasi jantung paru (CPR) yang harus dilakukan:
- Cek respons korban – Pastikan korban tidak sadar dan tidak bernapas.
- Minta bantuan – Panggil ambulans atau minta orang di sekitar untuk mencari pertolongan medis.
- Pastikan lingkungan aman – Jauhkan korban dari bahaya sekitar.
- Lakukan pijat jantung – Tekan dada korban dengan ritme 100-120 kali per menit.
Dengan penanganan yang cepat dan tepat, pasien henti jantung dapat kembali beraktivitas normal. Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat untuk mengenali tanda-tanda aritmia dan memahami cara memberikan pertolongan pertama pada henti jantung.
Kesimpulan
Aritmia adalah gangguan irama jantung yang dapat terjadi karena berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Kapan dikatakan aritmia? Aritmia terjadi ketika detak jantung lebih dari 100 kali per menit (takikardia) atau kurang dari 50 kali per menit (bradikardia), serta saat denyut nadi terasa tidak beraturan.
Mendeteksi aritmia sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti stroke atau henti jantung mendadak. Jika mengalami gejala aritmia, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.