Liputan6.com, Jakarta Hemifacial spasm (HFS) adalah kondisi gangguan saraf wajah yang ditandai dengan kedutan atau kontraksi otot yang tak terkendali di satu sisi wajah.
Menurut dokter spesialis bedah saraf Wienorman Gunawan, kondisi hemifacial spasm terjadi akibat adanya gangguan pada saraf wajah yang disebabkan oleh benturan dari pembuluh darah di sekitarnya.
“Seiring bertambahnya usia, pembuluh darah cenderung memanjang dan kehilangan elastisitasnya, sehingga dapat menekan saraf wajah. Inilah yang menyebabkan kontraksi otot wajah secara tidak normal,” jelas dokter yang sehari-hari praktik di Bethsaida Hospital Gading Serpong ini dalam keterangan tertulis.
Gejala Hemafacial Spasm
Gejala umum hemifacial spasm meliputi kedutan otot-otot di wajah yang paling sering terjadi:
- Di satu sisi wajah.
- Tidak dapat dikendalikan.
- Tidak nyeri.
Gerakan otot ini, yang juga disebut kontraksi, sering kali dimulai di kelopak mata. Kemudian, gerakan ini dapat berlanjut ke pipi dan mulut di sisi wajah yang sama. Pada awalnya, hemafacial spasm datang dan pergi. Namun, kemudian datang dalam jangka waktu lama seperti mengutip laman Mayo Clinic.
Efek dari Hemafacial Spasm
Kondisi hemafacial spasm membuat orang yang mengalaminya mengalami ketidaknyamanan. Lalu, berdampak juga pada kepercayaan diri penderitanya, terutama pada wanita.
Belum lagi, kedutan yang terjadi terus-menerus dapat mengganggu ekspresi wajah dan membuat seseorang merasa malu dalam berinteraksi sosial.
Pengobatan Hemafacial Spasm
Tahap awal, orang dengan hemafacial spasm akan diberikan obat oral. Namun, jika tidak membaik dapat dilakukan dengan dua pilihan metode berikut:
1. Microvascular Decompression (MVD)
"Teknik ini bertujuan untuk menghilangkan tekanan pembuluh darah pada saraf wajah dengan prosedur operasi yang bertujuan untuk memisahkan saraf dari pembuluh darah yang menekannya," kata Wienorman.
2. Injeksi Botulinum Toxin (Botox)
Caranya dengan menyuntikkan Botox ke area yang mengalami kedutan untuk mengurangi kontraksi otot yang berlebihan. Terapi ini biasanya dilakukan secara berkala sesuai dengan kebutuhan pasien.
Mana yang lebih baik dari metode di atas?
“Kedua metode ini memiliki keunggulan masing-masing dan perlu disesuaikan dengan kondisi pasien," kata Wienorman.
Ia pun menyarankan bagi pasien untuk berkkonsultasi dengan dokter spesialis bedah saraf sehingga pasien mendapatkan penanganan yang tepat.
Penting untuk Dapat Penanganan Tepat
General Manager Medis Bethsaida Hospital dokter Luxandre Agung mengatakan penanganan tepat pada kondisi hemafacial spasm penting untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Hal tersebut bisa dilakukan Brain & Spine Center di rumah sakit tersebut untuk menangani berbagai gangguan saraf, termasuk hemifacial spasm.
"Kami mengembangkan layanan ini berdasarkan empati bahwa kedutan wajah dapat mengganggu lama atau seumur hidup, dan penanganan keluhan kedutan pada wajah dapat meningkatkan quality of life serta kenyamanan pasien dalam aktivitas sehari-hari." kata Luxandre.