Waspada DBD, Nyamuk Aedes Aegypti Kerap Gigit di 2 Area Tubuh Ini

1 week ago 16

Liputan6.com, Jakarta Pakar kesehatan global Dicky Budiman kembali mengingatkan masyarakat untuk waspada demam berdarah dengue (DBD) di musim hujan.

Menurutnya, nyamuk aedes aegypti sebagai vektor DBD memiliki kecenderungan menggigit di area tertentu seperti daerah sikut dan mata kaki.

“Biasanya dia (nyamuk Aedes aegypti) menggigitnya di area sikut atau di daerah mata kaki, itu daerah tubuh yang sering digigit oleh nyamuk aedes aegypti,” kata Dicky dalam keterangan video yang dibagikan kepada Health Liputan6.com, dikutip Selasa (25/3/2025).

Dia menambahkan, ciri yang membedakan gigitan nyamuk Aedes aegypti dengan nyamuk lainnya adalah sensasi setelah gigitan.

“Sebetulnya ciri khas gigitan nyamuk aedes aegypti dibanding yang lain itu dia lebih merah, lebih gatal. Dan dia cenderung menggigit dua jam setelah matahari terbit atau beberapa jam sebelum terbenam,” terangnya.

Meski begitu, bukan berarti nyamuk aedes aegypti tidak bisa menggigit di malam hari. Di tempat-tempat dengan penerangan baik, nyamuk ini juga bisa menggigit pada waktu malam.

Maka dari itu, pencegahan menjadi amat penting untuk dilakukan. Untuk menghindari gigitan, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah mengoleskan anti gigitan nyamuk di beberapa bagian tubuh atau memasang obat nyamuk listrik.

“Termasuk di lingkungan rumah kita jangan sampai ada air yang tergenang karena berpotensi perkembangbiakan jentik nyamuk,” ucapnya.

Sebetulnya selain buahnya, daun jambu biji pun punya khasiat.

Promosi 1

DBD adalah Penyakit Tropis Paling Serius di Musim Hujan

Belakangan, hujan masih mengguyur beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta dan Bekasi.

Menurut Dicky, di musim hujan seperti ini, kerap muncul berbagai penyakit, tapi yang paling serius adalah DBD.

“Bicara penyakit di musim hujan khususnya untuk Indonesia, tropical diseases-nya yang paling serius adalah demam berdarah dengue,” kata Dicky.

Dengue adalah penyakit endemik Indonesia, lanjut Dicky, dan munculnya penyakit ini didukung oleh tiga hal yang ada di Tanah Air.

“Tiga faktor lingkungan yang berkontribusi pada semakin meningkatnya penyakit demam berdarah adalah curah hujan, suhu yang panas, dan kelembapan. Tiga hal ini ada di Indonesia dan ini yang mendukung keberadaan vektor dari demam berdarah yaitu nyamuk aedes aegypti,” papar Dicky.

Dengan tiga kondisi ini, nyamuk penyebab DBD dapat semakin leluasa berkembang biak terutama di pemukiman padat penduduk serta kumuh.

“Bahkan di lingkungan yang bersih sekalipun ketika manajemen pembuangan air limbahnya tidak tertata baik, ada genangan, nah ini juga yang akhirnya membuat potensi tersedianya breeding site atau tempat berkembangbiaknya nyamuk,” jelas Dicky.

3 Fase DBD

Dalam keterangan lain, dokter spesialis penyakit dalam RS EMC Cikarang, Patriotika Ismail, menyebut bahwa ada tiga fase utama penyakit DBD yang perlu diwaspadai. Pasalnya, gejala DBD bisa berkembang dengan cepat dan berisiko menyebabkan komplikasi serius.

Patriotika mengatakan, DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

“Memahami tiga fase demam berdarah dapat membantu Anda mengenali kapan harus segera mencari pertolongan medis,” tulis Patriotika di laman EMC dikutip Selasa (18/3/2025).

Fase 1: Fase Demam

Fase awal DBD ditandai dengan demam tinggi secara tiba-tiba, sering kali mencapai 39–41°C, yang berlangsung selama dua hingga tujuh hari.

Demam ini biasanya tidak disertai gejala pilek atau batuk yang khas pada infeksi virus lainnya. Selain demam, pasien juga bisa mengalami sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, kelelahan, serta mual dan muntah.

Pada fase ini, banyak orang mengira bahwa demam yang dialami hanya demam biasa atau flu. Oleh karena itu, penting untuk memerhatikan gejala lain yang muncul bersamaan. Jika mengalami demam tinggi tanpa penyebab jelas, terutama di daerah yang rawan DBD, segera periksakan diri ke dokter.

Fase 2: Fase Kritis

Setelah beberapa hari mengalami demam, suhu tubuh bisa tiba-tiba menurun hingga di bawah 38°C.

Penurunan ini sering kali membuat pasien merasa lebih baik, sehingga banyak yang mengira dirinya sudah sembuh. Padahal, fase ini justru merupakan fase paling berbahaya dalam siklus DBD.

Pada fase kritis, pembuluh darah mengalami kebocoran, menyebabkan penumpukan cairan di rongga tubuh seperti paru-paru dan perut. Gejala yang perlu diwaspadai meliputi:

Mimisan atau Gusi Berdarah

Mimisan dan gusi berdarah terjadi akibat penurunan trombosit yang menyebabkan gangguan pembekuan darah. Jika perdarahan semakin sering atau parah, pasien harus segera mendapatkan pemeriksaan medis untuk mencegah risiko syok dengue yang berbahaya.

Munculnya Bintik-Bintik Merah di Kulit

Bintik merah muncul akibat pecahnya pembuluh darah kecil karena rendahnya trombosit. Bintik ini tidak hilang saat ditekan.

Jika jumlahnya bertambah atau disertai perdarahan lain, pasien perlu segera diperiksa oleh tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Nyeri Perut Hebat

Nyeri perut bisa terjadi akibat kebocoran plasma darah ke rongga perut atau pembesaran hati. Jika nyeri bertambah parah, berlangsung lama, atau disertai muntah, pasien harus segera mendapatkan perawatan di rumah sakit agar tidak mengalami komplikasi.

Muntah Terus-menerus

Muntah berulang dapat menyebabkan dehidrasi dan gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh. Jika terjadi lebih dari tiga kali sehari dan membuat pasien sulit makan atau minum, segera cari pertolongan medis agar mendapat cairan pengganti.

Sesak Napas atau Tubuh Terasa Sangat Lemah

Sesak napas terjadi akibat akumulasi cairan di rongga dada atau tekanan darah yang turun drastis. Jika disertai kelemahan ekstrem, segera cari bantuan medis untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

Jika tidak ditangani dengan baik, fase ini bisa berkembang menjadi syok dengue, yang berpotensi menyebabkan kegagalan organ dan bahkan kematian.

“Oleh karena itu, jika Anda atau orang terdekat mengalami tanda-tanda ini, segera cari pertolongan medis,” saran Patriotika.

Fase 3: Fase Pemulihan

Jika pasien berhasil melewati fase kritis, mereka akan memasuki fase pemulihan yang berlangsung sekitar 48 hingga 72 jam.

Pada fase ini, kebocoran pembuluh darah mulai membaik, cairan tubuh yang hilang kembali ke sirkulasi, dan kondisi pasien perlahan-lahan membaik.

Pasien yang memasuki fase ini akan mengalami peningkatan nafsu makan, tubuh terasa lebih bertenaga, dan frekuensi buang air kecil yang lebih sering. Namun, penting untuk tetap memerhatikan hidrasi dan asupan nutrisi agar proses pemulihan berlangsung optimal.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |