5 Mitos Campak, Salah Satunya Terlalu Telat untuk Vaksinasi MMR Jika Sudah Dewasa

3 days ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Campak adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan virus genus Morbillivirus dari keluarga Paramyxoviridae.

Penyakit yang mudah menular lewat percikan ludah ini kerap dikaitkan dengan berbagai mitos yang keliru. Menurut dokter spesialis penyakit menular, Leong Hoe Nam dari Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena, Singapura, ada beberapa anggapan keliru seputar campak, yakni:

Mitos: Anak Harus Ditulari Campak Sejak Kecil

Campak sering kali dikategorikan sebagai virus yang harus diatasi pada masa kanak-kanak, sama dengan penyakit seperti cacar air.

Akibat anggapan ini, para orang tua akan menyuruh anak-anak mereka bermain dengan orang yang diketahui terinfeksi. Sehingga, anak-anak mereka dapat tertular virus sejak dini untuk membangun kekebalan alami, karena virus ini biasanya lebih parah ketika tertular di usia dewasa.

Padahal kekebalan terhadap campak tidak hanya bisa terbentuk dari penularan, tapi juga dari vaksinasi. Sayangnya, di beberapa negara maju, terdapat penolakan dari orang tua untuk mengimunisasi anak mereka terhadap campak karena adanya hubungan antara vaksinasi MMR (measles/campak, mumps/ gondongan, dan rubella) dengan autisme.

“Sebagai dampaknya, kita kembali melihat peningkatan wabah campak di negara-negara tersebut, padahal sebelumnya orang mengira bahwa, seperti cacar, virus ini sebenarnya telah diberantas,” kata Nam mengutip laman Gleneagles Hospital, Rabu (18/2/2026).

Di negara maju, sekitar 10 persen kasus campak dirawat di rumah sakit. Sekitar 0,2 persen kasus mengalami infeksi otak dan 0,1 persen akan meninggal. Meskipun ini mungkin tampak seperti statistik kecil, tapi hal ini tidak perlu terjadi jika vaksinasi dilaksanakan.

Angka kematian jauh lebih tinggi di negara-negara berkembang (5 – 10 persen) karena kekurangan gizi dan kurangnya akses terhadap fasilitas kesehatan. Di seluruh dunia, campak masih menjadi penyebab utama kematian pada anak-anak.

Mitos: Campak Hanya Terjadi pada Anak-Anak

Sebagian masyarakat juga kerap menganggap bahwa orang dewasa tak perlu khawatir tertular campak, mereka mengira penyakit ini hanya terjadi pada anak-anak.

“Tidak benar. Anda bisa terkena campak saat dewasa jika Anda belum pernah mengidapnya sebelumnya dan kemungkinan besar penyakitnya akan lebih parah,” kata Nam.

Virus ini diketahui lebih parah pada anak di bawah 5 tahun dan di atas 20 tahun. Komplikasi yang jarang terjadi antara lain infeksi telinga, diare, pneumonia, dan ensefalitis (radang otak akut yang dapat menyebabkan Tuli dan kerusakan otak).

Namun, jika orang dewasa pernah mengidap campak sebelumnya, maka orang tersebut kini memiliki kekebalan alami terhadap campak.

“Jika Anda belum diimunisasi dan Anda berada di ruangan bersama seseorang yang mengidapnya, 90 persen kemungkinan Anda akan tertular. Siapa pun yang belum pernah mengidap campak dan belum pernah menerima vaksinasi campak harus berkonsultasi dengan dokter,” saran Nam.

Mitos: Vaksinasi Campak Bersifat Opsional

Anggapan tentang vaksin campak hanya bersifat opsional dan tak wajib diberikan kepada anak adalah kesalahpahaman umum.

Pasalnya, vaksinasi tetap merupakan tindakan pencegahan yang penting. Tak hanya di Indonesia tapi juga negara seperti Singapura yang dianggap telah berhasil menghilangkan kasus campak oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Diperlukan dua suntikan vaksin MMR untuk perlindungan. Suntikan pertama 93 persen efektif mencegah campak, dan suntikan kedua meningkatkan efektivitasnya menjadi 97 persen.

“Namun, jika Anda terkena campak setelah divaksinasi, penyakit ini umumnya sangat ringan,” ujar Nam.

Mitos: Sudah Terlambat untuk Imunisasi Campak Saat Dewasa

Nam juga memastikan bahwa imunisasi campak saat dewasa bukanlah tindakan yang terlambat.

“Secara umum, siapa pun yang berusia 18 tahun atau lebih, atau lahir setelah tahun 1956, harus mendapatkan setidaknya satu dosis vaksin MMR, kecuali mereka dapat membuktikan bahwa mereka telah divaksinasi atau sudah mengidap ketiga penyakit tersebut (campak, gondok, dan rubella).

Mitos: Tidak Mungkin Tertular Campak Jika Jaga Jarak dengan Pasien

Campak adalah penyakit yang sangat menular, jadi jika tidak memiliki kekebalan dan pernah melakukan kontak dengan seseorang yang mengidap virus tersebut, maka kemungkinan besar tetap akan tertular.

Penyakit ini menyebar di udara melalui batuk dan bersin, dan dapat hidup di permukaan dan di udara hingga 2 jam.

“Berarti Anda dapat tertular di tempat umum tanpa mengetahui bahwa Anda telah melakukan kontak dengannya,” kata Nam.

Campak juga menular 8 – 12 hari sebelum gejala muncul. Tanda-tandanya antara lain penyakit mirip flu, batuk, pilek ringan, dan sakit kepala.

“Kemungkinan besar Anda akan mengalami demam, ruam pada tubuh, dan mata merah. Mungkin juga terjadi pembengkakan kelenjar getah bening di leher. Anda masih akan menularkan penyakit ini selama 4 hari setelah ruamnya hilang,” tutup Nam.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |