Puasa Ramadan Bak Detoksifikasi Psikologis, Ini Manfaatnya untuk Kesehatan Jiwa

1 day ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Puasa Ramadan dalam perspektif psikologi dan psikiatri modern dapat dilihat sebagai proses regulasi diri yang memengaruhi emosi, fungsi kognitif, dan keseimbangan mental.

Sejumlah penelitian tentang puasa religius maupun intermittent fasting menunjukkan bahwa pembatasan makan yang dilakukan secara sadar dapat membantu stabilisasi mood, meningkatkan kontrol impuls, serta memperkuat makna hidup.

Bahkan, psikiater Lahargo Kembaren mengatakan bahwa puasa adalah salah satu cara detoksifikasi psikologis.

“Istilah detoksifikasi psikologis di sini bukan berarti mengeluarkan racun secara fisik, melainkan menggambarkan proses penataan ulang pola pikir, emosi, dan kebiasaan mental yang selama ini mungkin terlalu penuh oleh distraksi dan tekanan,” kata dokter yang bergerak di Bidang Pengabdian Masyarakat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI) dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (20/2/2026).

Dalam ilmu psikiatri, sambungnya, regulasi emosi berkaitan dengan kemampuan seseorang mengelola perasaan tanpa kehilangan kendali. Puasa melatih individu untuk menghadapi rasa tidak nyaman yakni rasa lapar, lelah, atau rasa ingin tanpa langsung bereaksi.

Ketika seseorang mampu menahan dorongan, bagian otak yang berfungsi sebagai “rem emosi” (prefrontal cortex) menjadi lebih aktif. Hal ini membantu:

  • Mengurangi reaksi impulsif
  • Meningkatkan kesabaran,
  • Memberi ruang bagi respons yang lebih sadar.
  • Contoh aktivitas sederhana dalam mengelola emosi adalah:
  • Latihan napas perlahan saat emosi mulai naik
  • Menunda respons terhadap pesan atau konflik hingga emosi lebih stabil.

“Puasa melatih hati untuk merespons dengan sadar, bukan sekadar bereaksi,” kata Lahargo.

Spiritual Coping: Menguatkan Makna dan Harapan

Puasa hampir selalu diiringi praktik spiritual seperti doa, sembahyang, membaca kitab suci, dan refleksi diri. Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai spiritual coping, cara seseorang menggunakan nilai spiritual untuk menghadapi tekanan hidup.

Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mempraktikkan coping spiritual cenderung memiliki:

  • Rasa makna hidup lebih kuat
  • Tingkat harapan yang lebih tinggi
  • Kemampuan menerima situasi sulit dengan lebih tenang.

Contoh aktivitas:

  • Membaca kitab suci, doa atau renungan
  • Menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap malam.

“Dalam hening puasa, jiwa belajar menemukan arti di tengah keterbatasan.”

Puasa yang dijalani secara sehat dapat membantu tubuh beradaptasi terhadap perubahan ritme hidup. Beberapa studi menunjukkan adanya perbaikan persepsi stres dan kesejahteraan psikologis selama periode puasa religius.

Dari sudut pandang psikiatri, proses ini berkaitan dengan:

  • Regulasi hormon stres
  • Peningkatan resiliensi
  • Kemampuan menghadapi tekanan tanpa merasa kewalahan.

Contoh aktivitas:

  • Jalan santai, olahraga ringan menjelang berbuka.
  • Mengurangi paparan berita atau media sosial yang memicu stres.

“Puasa bukan sekadar menahan makan, tetapi memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat,” ujarnya.

Puasa Bukan Sekadar Ritual Fisik

Dengan kata lain, puasa bukan sekadar ritual fisik, tetapi sebuah perjalanan psikologis dan spiritual yang membantu manusia memperlambat langkah di tengah dunia yang serba cepat.

Dalam jeda itu, seseorang belajar mengenali kembali apa yang penting dan apa yang hanya memenuhi ruang tanpa makna.

Puasa adalah sarana detoksifikasi jiwa yang ditahan bukan hanya rasa lapar tapi juga emosi, ego, impulsivitas dan pikiran yang berisik.

“Puasa adalah ibadah yang memberikan jeda bagi raga untuk membersihkan yang berlebihan, sehingga jiwa kembali seimbang,” pungkasnya.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |