Fat Transfer Manfaatkan Lemak Sendiri dalam Prosedur Estetik, Lebih Aman Ketimbang Filler Sintetis

1 day ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Fat transfer adalah prosedur estetika berupa pemindahan lemak dari satu area tubuh ke area lain. Tujuannya, memperbaiki volume, kontur, atau kualitas kulit.

“Karena menggunakan lemak tubuh sendiri (autologous fat), prosedur ini dianggap lebih natural dan minim risiko reaksi alergi dibandingkan filler sintetis,” kata dokter spesialis dermatologi venereology, Pipim S. Bayasari, dari RS EMC Sentul mengutip laman EMC, Jumat (20/2/2026).

Prosedur yang juga kerap disebut fat grafting merupakan teknik bedah minimal invasif yang terdiri dari tiga tahap utama, yakni:

  1. Pengambilan lemak melalui prosedur liposuction (sedot lemak) ringan, biasanya dari area seperti perut, paha, atau pinggang.
  2. Setelah itu lemak disaring dan diproses untuk memisahkan sel lemak yang sehat dari cairan dan debris (sisa-sisa).
  3. Lemak yang telah dimurnikan disuntikkan secara hati-hati ke area target seperti wajah, payudara, bokong, atau tangan.

Umumnya fat transfer di area wajah bertujuan mengisi pipi yang cekung, mengurangi cekungan bawah mata, menghaluskan nasolabial fold dan Rejuvenasi wajah secara keseluruhan.

Kelebihan fat transfer adalah menggunakan jaringan tubuh sendiri sehingga:

  • Lebih natural
  • Minim risiko alergi
  • Hasil langsung terlihat dan tampak natural.

Adapun kekurangan dan risiko dari fat transfer yakni:

  • Sebagian lemak bisa diserap tubuh (30–50 persen)
  • Ada kemungkinan memerlukan sesi tambahan
  • Risiko infeksi
  • Asimetri
  • Fat necrosis (kematian jaringan lemak)

Risiko-risiko ini bisa muncul jika prosedur dilakukan dengan dokter yang tidak ahli.

Ketahanan Tindakan Fat Transfer

Terkait ketahanan tindakan fat transfer, sebagian lemak yang ‘bertahan hidup’ akan menetap permanen. Hasil akhir biasanya dapat dinilai setelah 3–6 bulan. Stabilitas hasil juga dipengaruhi oleh teknik dokter, perawatan pasca tindakan dan stabilitas berat badan pasien.

Manajemen pra dan pasca operasi merupakan komponen krusial dalam keberhasilan fat transfer. Pendekatan berbasis evidence (bukti) yang meliputi seleksi pasien yang tepat, teknik atraumatik (tanpa trauma), optimalisasi kondisi sistemik, serta kontrol pasca tindakan yang baik terbukti meningkatkan ketahanan fat graft dan menurunkan komplikasi.

“Kombinasi teknik bedah yang presisi dan tata laksana komprehensif memberikan hasil estetik yang lebih aman dan prediktif,” kata Pipim.

Siapa yang Bisa Jalani Tindakan Fat Transfer?

Kandidat ideal untuk pasien yang hendak melakukan tindakan fat transfer adalah yang memiliki cadangan lemak cukup, berat badan stabil, tidak merokok atau berhenti minimal empat minggu sebelum tindakan. Pasalnya, merokok terbukti mengganggu mikrosirkulasi (sirkulasi di pembuluh darah terkecil) dan angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru) sehingga menurunkan viabilitas graft.

Selain itu, selama 1–2 minggu sebelum tindakan, hentikan konsumsi Aspirin, NSAID, Vitamin E dosis tinggi, dan herbal yang memengaruhi koagulasi (penggumpalan keloid).

Setelah tindakan, fat transfer fase awal 0–72 jam bertujuan mengurangi inflamasi (respons pertahanan tubuh seperti bengkak), melindungi graft dari tekanan dan menjaga perfusi (aliran darah) jaringan.

Sehingga direkomendasi untuk menghindari tekanan pada area wajah yang dilakukan di area transfer, menggunakan compression garment (pakaian kompresi) pada area donor dan tetap melakukan mobilisasi ringan untuk mencegah trombosis (penggumpalan darah).

Fase Pemulihan

Fase pemulihan selama 1-3 minggu, selama ini tetap hindari olahraga berat dan paparan panas berlebih.

Proses pembengkakan biasanya akan menurun dalam 2–3 minggu. Dan proses resorpsi (pemecahan) lemak akan selesai dalam waktu 3 bulan menunjukkan bahwa adiposit (sel-sel lemak) yang bertahan adalah yang berhasil mengalami revaskularisasi (pemulihan suplai darah) dini.

“Jika dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten dan dengan indikasi yang tepat, fat grafting dapat menjadi pilihan yang aman dan efektif dalam dunia estetika modern,” pungkas Pipim.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |