Jawab Tantangan Kesehatan Masa Depan, Ini 5 Hal yang Perlu Dikuasai

3 days ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Guna menjawab tantangan kesehatan di masa depan, yakni di era industri dan masyarakat 5.0, maka ada lima hal yang perlu dikuasai.

Menurut Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis (PRKPK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harimat Hendarwan lima hal itu adalah:

  1. Big data
  2. Kecerdasan artifisial
  3. Kedokteran presisi
  4. Teknologi genomik
  5. Kedokteran regeneratif.

Menurutnya, kapasitas riset akan menentukan posisi Indonesia dalam ekosistem inovasi global. Oleh karena itu, diperlukan peran strategis riset dalam menjawab dinamika tersebut.

“Riset akan sangat menentukan peran kita, apakah akan menjadi inisiator dan pionir ataukah akan hanya menjadi pengguna dan tidak memiliki nilai tambah di dalam menghadapi kemajuan zaman,” kata Harimat saat menerima kunjungan 25 mahasiswa kedokteran dan tiga pendamping dari Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional Indonesia (BAPIN) di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, Bogor, Jumat (6/2/2026).

Pada kesempatan itu, Harimat menyampaikan apresiasi atas antusiasme mahasiswa terhadap riset dan inovasi di bidang kesehatan.

“Saya berharap semakin banyak tenaga medis yang menekuni dunia riset dan inovasi di bidang kesehatan dan kedokteran karena tantangan kesehatan di masa depan akan semakin kompleks, namun juga semakin menjanjikan dan semakin menarik,” ujarnya.

Kenalkan Riset Kesehatan kepada Mahasiswa

President BAPIN Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) 2025, Qanita Saifana menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan memperkenalkan mahasiswa kedokteran kepada BRIN, khususnya aktivitas riset di PRKPK.

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memperluas wawasan peserta tentang pentingnya riset sekaligus mengembangkan keterampilan kepemimpinan ilmiah.

“Kami sangat berharap, dengan kunjungan ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi mahasiswa, dapat berdampak ke depan dan turut serta memajukan riset dan inovasi dalam bidang kedokteran,” ujar Qanita.

Salah satu peserta, Muhammad Naufal Riansyah dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menyatakan kunjungan tersebut memberikan pengalaman langsung melihat fasilitas dan proses riset di BRIN.

“Harapannya Naufal ke depan, dapat melakukan riset lebih lanjut dan dapat berkontribusi kepada negara,” ucapnya.

Kedokteran Presisi di Indonesia

Kedokteran presisi adalah satu dari lima hal yang perlu dikuasai dalam dunia kesehatan masa depan seperti disebutkan Harimat di atas.

Di Indonesia, implementasi kedokteran presisi sebagai jawaban atas terus melonjaknya pembiayaan kesehatan akibat penyakit kronis kian dipercepat oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).

Melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI), pengobatan kini diarahkan pada pendekatan berbasis profil genetik individu yang lebih akurat dan efisien.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, teknologi genomik yang dikelola Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan (BB Binomika) memungkinkan pemeriksaan kesehatan menjadi lebih personal. Hal ini menjadi titik balik dari paradigma lama satu obat untuk semua.

"Pemeriksaan kesehatan kita akan menjadi jauh lebih akurat, lebih presisi, dan lebih personal. Otomatis, pengobatannya juga bisa lebih tepat sasaran dan efektif dalam menyembuhkan," ujar Budi dalam Forum komunikasi strategis nasional bertajuk “BGSI Ecosystem Roadshow” di Auditorium Leimena, Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (12/2).

Tekan Pemborosan Anggaran Kesehatan

Hingga awal 2026, program BGSI telah merekrut lebih dari 20.000 partisipan dan menghasilkan 16.000 sequence whole genome manusia. Whole genome sequencing adalah suatu pengurutan nukleotida DNA dari suatu genom organisme.

Capaian ini dipandang bukan sekadar angka riset, melainkan basis data penting untuk menekan pemborosan anggaran kesehatan.

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menyoroti kaitan erat antara genomik dan ketahanan fiskal negara. Menurutnya, terapi yang tepat sasaran akan memangkas biaya pengobatan yang berlarut-larut akibat diagnosis yang tidak akurat.

"Jika terapinya tepat, pemborosan biaya pengobatan bisa dihindari. Keuangan negara di sektor kesehatan akan menjadi jauh lebih efektif," kata Febrian.

Read Entire Article
Helath | Pilkada |