Kanker Paru-Paru Disebabkan oleh Apa Selain Merokok? Ternyata Bisa Terjadi pada Orang Sehat

12 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Kanker paru-paru selama ini dikenal erat kaitannya dengan kebiasaan merokok. Namun, faktanya, penyakit mematikan ini juga bisa menyerang orang yang sama sekali tidak pernah merokok. Hal ini diungkapkan oleh Spesialis Kanker dari Onco Care, dr. Akhil Chopra, yang menyoroti meningkatnya kasus kanker paru-paru pada pasien non-perokok di Asia.

Menurut dr. Akhil Chopra, kanker paru-paru sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. "Kanker paru biasanya tidak bergejala. Tergantung lokasi tumornya, seseorang bisa saja tidak merasakan apa-apa sampai ukurannya besar atau bahkan sudah menyebar," kata dr. Akhil saat berbincang dengan Health Liputan6.com belum lama ini.

Jika tumor tumbuh di bagian tengah paru, dekat saluran pernapasan, gejalanya bisa berupa batuk menetap. Tetapi jika berada di bagian luar paru-paru, pasien sering kali baru menyadari ketika kanker sudah meluas. "Itu sebabnya banyak kasus baru diketahui saat sudah stadium lanjut," tambah dr. Chopra.

Bisa Terjadi pada Orang yang Tidak Pernah Merokok

Salah satu tantangan terbesar dalam menangani kanker paru-paru adalah banyaknya kasus pada pasien yang sama sekali tidak pernah merokok. Mereka menjalani hidup sehat, tidak terpapar rokok, tapi tetap divonis kanker paru.

"Pasien non-perokok juga bisa terkena kanker paru-paru. Di Singapura, bahkan sedang dilakukan penelitian besar dengan dana sekitar 25 juta dolar untuk mencari cara mendeteksi kanker paru lebih awal pada kelompok ini," ujar dr. Chopra.

Selain faktor genetik atau riwayat keluarga, polusi udara juga berperan besar. "Di negara-negara seperti Indonesia dan India, polusi udara kini tercatat sebagai penyebab nomor dua kanker paru setelah rokok," tambahnya.

Batuk Lebih dari 1 Bulan Bisa Jadi Tanda Kanker Paru

Batuk adalah gejala yang sangat umum, tapi tidak semua batuk berkaitan dengan kanker paru-paru. Dr. Akhil Chopra menekankan bahwa batuk akibat infeksi biasanya akan sembuh dalam tiga sampai empat minggu.

"Jika batuk menetap lebih dari sebulan, sebaiknya segera periksa ke dokter. Minimal lakukan rontgen dada," katanya.

Ada beberapa tanda batuk yang perlu dicurigai:

  1. Batuk berdarah, yang merupakan tanda serius dan harus segera diperiksa.
  2. Batuk disertai suara serak, yang bisa terjadi jika kanker mengenai pita suara.
  3. Batuk disertai gejala lain seperti nyeri dada, sesak napas, berat badan turun, atau mudah lelah.

"Batuk karena infeksi biasanya hanya mengganggu, tapi kondisi tubuh secara umum tetap baik. Sementara batuk karena kanker sering disertai gejala tambahan seperti sesak, penurunan berat badan, dan cepat lelah," kata dr. Chopra.

Banyak Pasien Indonesia dengan Kanker Paru-Paru

Dr. Akhil Chopra mengungkapkan bahwa banyak pasien dari Indonesia datang berobat ke Onco Care. "Pasien saya paling banyak justru dari Indonesia, dan kebanyakan kasusnya kanker paru-paru. Jumlahnya seimbang antara laki-laki dan perempuan," ujarnya.

Beberapa pasien datang setelah menjalani tes awal di Indonesia, lalu melanjutkan pemeriksaan biopsi di Singapura. Ada pula yang datang hanya karena merasa lemas atau kehilangan berat badan, kemudian baru diketahui mengidap kanker paru.

"Bahkan ada kasus pasien perokok berat yang awalnya hanya ikut pemeriksaan karena diminta istrinya. Setelah dicek, ternyata ada kanker paru," katanya.

Kabar baiknya, perkembangan terapi kanker paru-paru saat ini jauh lebih canggih dibanding satu dekade lalu. Menurut dr. Akhil Chopra, separuh dari kasus kanker paru di Asia memiliki mutasi gen yang bisa ditargetkan dengan obat-obatan khusus.

"Kami sekarang punya obat-obatan yang efektif, bahkan sampai generasi kedua dan ketiga. Ada juga imunoterapi generasi terbaru yang sudah tersedia di Indonesia," ujarnya.

Selain itu, teknik bedah dan radiasi juga semakin modern. Operasi paru kini bisa dilakukan dengan robotik yang minim sayatan, sementara teknologi proton radiation mampu menghancurkan tumor tanpa merusak jaringan paru sehat di sekitarnya.

"Bagi pasien lanjut usia yang tidak bisa operasi karena risiko bius, terapi radiasi generasi baru ini menjadi pilihan aman," dr. Chopra.

Harapan Hidup Lebih Panjang

Dulu, pasien kanker paru stadium 4 rata-rata hanya bertahan hidup kurang dari satu tahun. Kini, dengan terapi modern, harapan hidup bisa jauh lebih panjang.

"Pada pasien kanker paru dengan mutasi EGFR, bahkan di stadium 4, angka harapan hidup bisa 4–5 tahun. Sedangkan pasien dengan mutasi ALK, yang sekitar 2–4 persen kasus, bisa bertahan lebih dari 10 tahun hanya dengan tablet," katanya.

Hal ini sangat penting terutama karena kasus ALK-positif banyak ditemukan pada pasien muda usia 30–40 tahun. "Dengan terapi terbaru, mereka tetap bisa bekerja, merawat keluarga, dan hidup lebih lama dengan kualitas hidup yang baik," pungkas dr. Akhil Chopra.

Foto Pilihan

Murid sekolah dasar diperiksa mulut dan giginya saat kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di SD Prestasi Global, Depok, Jawa Barat, Senin (4/8/2025).
Read Entire Article
Helath | Pilkada |